Kartini dan Mebel

NININMENULIS.COM – Kartini Day begitu saat kita menginjak bulan April di setiap tahunnya. Bulan di mana Kartini dilahirkan menjadi momentum penting bagi seluruh perempuan dalam mendapatkan hak emansipasinya. Sebagai Kartini jaman now sebenarnya saya tidak terlalu perduli akan hari nasional tersebut hingga kira-kira satu tahun yang lalu. Saya yang sebelumnya hanya mengenal Kartini sebagai ibu yang harum namanya ternyata lebih dahulu. Sebagai Kartini pejuang emansipasi, Kartini juga akan Kartini mebel nya.

Hah, Kartini mebel? Iya. Selain sosok pahlawan emansipasi wanita, Kartini di kalangan desainer mebel lebih dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam dunia permebelan Indonesia. Jadi begini sejarahnya hingga Kartini juga berperan penting dalam dunia permebelan Indonesia.

Hal penting yang perlu dicatat, Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi dan bergerak di bidang pendidikan. Kartini juga memiliki peran dalam membentuk desain khas mebel Jepara. Kartini kreatif dalam pembaharuan dan mendesain kerajinan kayu. Meskipun berusahan melestarikan tradisi, ia telah membuatnya menjadi lebih modern. Ragam hias rancangannya yang dikirim ke Belanda disebut motif lunglungan bunga yang kini disebut sebagai motif Jepara asli.

Di samping itu, peranan Kartini dalam pengembangkan seni ukir juga sangat besar. Kartini yang melihat kehidupan para pengerajin tak juga beranjak dari kemiskinan, bertekat mengangkat derajat para pengerajin. Kartini memanggil beberapa pengerajin dari belakang gunung kini salah satu padukuhan Desa Mulyoharjo di bawah pimpinan Singowiryo, untuk bersama-sama membuat ukiran di belakang Kabupaten.

Oleh Kartini, mereka diminta untuk membuat berbagai macam jenis ukiran, seperti peti jahitan, meja keci, figura, tempat r*k*k, tempat perhiasan, dan barang souvenir lainnya. Barang-barang ini kemudian dijual Kartini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta), sehingga akhirnya diketahui bahwa masyarakat Jepara pandai mengukir. Kartini juga mulai memperkenalkan seni ukir Jepara keluar negeri. Caranya, Kartini memberikan souvenir kepada sahabatnya di luar negeri sehingga seni ukir terus berkembang dan pesanan terus berdatangan.

Pada 1904, sahabat Kartini, Jacques Henrij Abendanon, Direktur Pendidikan dan Kerajinan mengusulkan meningkatkan pendidikan kaum pribumi dengan mengirimkan sejumlah orang bersekolah kerajinan di Harlem-Belanda dan memperluas penyelenggaraan pameran di dalam dan di luar negeri. Dalam riwayat perjuangan Kartini, pasti kamu tidak asing kan dengan nama Abendanon? Ya, dia yang bersurat-suratan dengan Kartini dan kemudian dibukukan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Namun sayang, Kartini gagal berangkat ke Belanda. Misi Abendanon melaksanakan politik etis juga gagal. Perang Dunia I pecah pada 1914-1918. Imbasnya adalah putusnya hubungan laut antara Eropa dan Asia sehingga tak ada komiditi yang diekspor maupun impor termasuk Kartini mebel.

Untuk menunjang perkembangan seni ukir Jepara yang telah dirintis oleh Kartini, pada 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan mebel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.

Dari sanalah kekaguman saya terhadap Kartini tidak terelakan. Kartini bukanlah sosok yang hanya pandai berteriak emansipasi tetapi kartini berusaha untuk membangun dan berguna untuk lingkungannya. Lalu sebagai Kartini jaman now, apa yang telah kita lakukan?

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply