Bagaimana Menilai Latte Art yang Indah?

Untuk membuat latte art yang bagus, ternyata seorang bartender harus mampu membuat motif hati, tulip, dan rosetta. Dari ketiga model dasar tersebut, motif-motif indah keluar dari tangan bartender ke cup penikmat kopi.

Advertisements

Easy Smart TV

Easy Smart TV hadir dengan ukuran lebih besar dan dilengkapi dengan tiga akses ke aplikasi internet browsing, YouTube, dan Netflix dalam satu sentuhan di remote. Easy Smart TV memiliki kejernihan gambar dalam Ultra HD karena dukungan X4 Master Engine yang menggabungkan variasi warna dari rich color dengan teknologi prosesor kontras.

Exi(s)t 2017; Saat yang Muda Memprediksi Masa Depan

Exi(s)t merupakan wadah anak muda untuk mengembangkan berbagai potensi artistik di mana dialog kritis antara partisipan, mentor, serta kurator menjadi proses utama. Dalam pameran kali ini, Exi(s)t mengundang 15 seniman muda Jakarta yang diundang untung merepresentasikan generasi muda scene seni rupa Jakarta yang kian beragam. Ke-15 seniman yang terlibat, Bey Shouqi, Dhanny Sanjaya, Edita Atmaja, Faisal Rahman Ursalim, Fransisca Retno, Gadis Fitriana, Grace Joetama, Ivan Christianto, Kara Andarini, Monica Hapsari, Ratu R. Saraswati, Rianti Gautama, Sarita Ibnoe, Wangsit Firmantika, dan Yaya Sung.

Between The Line: ‘Melihat Apa yang Tak Terlihat’

Lukisan-lukisan ‘potret’ yang dikerjakan Guntur Triyadi nampak tak biasa dan darinya kita bisa mengenal beberapa sosok bersejarah seperti Che Guevara, RA Kartini. Karl Marx, Chairil Anwar, Mao Zedong, atau Lauw Ping Nio (Nyonya Meneer). Para tokoh tersebut tidak digambarkan sebagaimana kebiasaan potret biasa, mereka nampak dengan gestur tubuh khusus bahkan dengan sikap tubuh yang tengah ‘bercerita’.

Festival Yoga, Komoditi atau Gaya Hidup Sehat?

Menambah wawasan bertemu dengan para yogi/yogini mungkin itu yang paling terlihat dari ajang-ajang seperti ini. Namun sayangnya, karena telah menjadi sebuah komoditi, sebuah festival yoga kerap hanya dipakai untuk ajang ‘dagang’ baik para penyelenggara, sponsor, atau pun praktisi. Alih-alih untuk memasyarakatkan olahraga, justru banyaknya produk ‘jualan’ yang mendominasi venue. Lantas apakah hal tersebut salah?