Sejarah Co Working

Berasal dari kata coworking yang berarti kerjasama, coworking space merupakan tempat untuk bekerja dengan cara berkolaborasi antar individu dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda. Coworking space biasanya dibuat dengan desain yang menarik, unik, kekinian, cozy, dengan fasilitas penunjang yang dapat memberi perasaan santai, bersemangat, dan produktif dalam bekerja.

Kursi-Kursi Jakarta Vintage

Kursi menjadi produk pertama yang diluncurkannya. Sebuah kursi dengan fleksibilitas dan kemudahan untuk bergerak. Setiap desainnya memiliki daya tahan, kenyamanan, dan keamanan. Desainnya mengadopsi gaya abad pertengahan, dengan sentuhan modern. Terbuat dari tiga bahan utama yaitu stainless steel, kayu, dengan fabric yang motifnya didesain dan memiliki ‘ceritanya’ masing-masing.

Konsep Hijau UMN (Part 1)

UMN mendesain dan menerapkan konsep berbeda yakni bangunan hijau. Tidak hanya pada bangunannya saja, sebagai instansi pendidikan, UMN menularkan semangat hijau kepada mahasiswa dan lingkungan sekitarnya melalui pengaturan di dalamnya. Maka tak heran bila UMN menyabet IAI Award 2018, juara pertama Gedung Hemat Energi pada Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2013 dan penghargaan Energy Efficient Building kategori Tropical Building pada ASEAN Energy Award 2014 di Vientiane, Laos.

Easy Smart TV

Easy Smart TV hadir dengan ukuran lebih besar dan dilengkapi dengan tiga akses ke aplikasi internet browsing, YouTube, dan Netflix dalam satu sentuhan di remote. Easy Smart TV memiliki kejernihan gambar dalam Ultra HD karena dukungan X4 Master Engine yang menggabungkan variasi warna dari rich color dengan teknologi prosesor kontras.

Exi(s)t 2017: Saat yang Muda Memprediksi Masa Depan

Exi(s)t merupakan wadah anak muda untuk mengembangkan berbagai potensi artistik di mana dialog kritis antara partisipan, mentor, serta kurator menjadi proses utama. Dalam pameran kali ini, Exi(s)t mengundang 15 seniman muda Jakarta yang diundang untung merepresentasikan generasi muda scene seni rupa Jakarta yang kian beragam. Ke-15 seniman yang terlibat, Bey Shouqi, Dhanny Sanjaya, Edita Atmaja, Faisal Rahman Ursalim, Fransisca Retno, Gadis Fitriana, Grace Joetama, Ivan Christianto, Kara Andarini, Monica Hapsari, Ratu R. Saraswati, Rianti Gautama, Sarita Ibnoe, Wangsit Firmantika, dan Yaya Sung.

Between The Line: ‘Melihat Apa yang Tak Terlihat’

Lukisan-lukisan ‘potret’ yang dikerjakan Guntur Triyadi nampak tak biasa dan darinya kita bisa mengenal beberapa sosok bersejarah seperti Che Guevara, RA Kartini. Karl Marx, Chairil Anwar, Mao Zedong, atau Lauw Ping Nio (Nyonya Meneer). Para tokoh tersebut tidak digambarkan sebagaimana kebiasaan potret biasa, mereka nampak dengan gestur tubuh khusus bahkan dengan sikap tubuh yang tengah ‘bercerita’.