Box Living Indonesia: Galeri Volume 2 The Retrospective

Galeri Volume II: The Retrospective, Box Living menyajikan 99 produk untuk memandu pengunjung menciptakan hunian kontemporer yang harmonis. Masing-masing produk memiliki 8 perbedaan seri desain yang berbeda untuk masing-masing ruang seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan lain sebagainya.

Advertisements

Easy Smart TV

Easy Smart TV hadir dengan ukuran lebih besar dan dilengkapi dengan tiga akses ke aplikasi internet browsing, YouTube, dan Netflix dalam satu sentuhan di remote. Easy Smart TV memiliki kejernihan gambar dalam Ultra HD karena dukungan X4 Master Engine yang menggabungkan variasi warna dari rich color dengan teknologi prosesor kontras.

Exi(s)t 2017; Saat yang Muda Memprediksi Masa Depan

Exi(s)t merupakan wadah anak muda untuk mengembangkan berbagai potensi artistik di mana dialog kritis antara partisipan, mentor, serta kurator menjadi proses utama. Dalam pameran kali ini, Exi(s)t mengundang 15 seniman muda Jakarta yang diundang untung merepresentasikan generasi muda scene seni rupa Jakarta yang kian beragam. Ke-15 seniman yang terlibat, Bey Shouqi, Dhanny Sanjaya, Edita Atmaja, Faisal Rahman Ursalim, Fransisca Retno, Gadis Fitriana, Grace Joetama, Ivan Christianto, Kara Andarini, Monica Hapsari, Ratu R. Saraswati, Rianti Gautama, Sarita Ibnoe, Wangsit Firmantika, dan Yaya Sung.

Between The Line: ‘Melihat Apa yang Tak Terlihat’

Lukisan-lukisan ‘potret’ yang dikerjakan Guntur Triyadi nampak tak biasa dan darinya kita bisa mengenal beberapa sosok bersejarah seperti Che Guevara, RA Kartini. Karl Marx, Chairil Anwar, Mao Zedong, atau Lauw Ping Nio (Nyonya Meneer). Para tokoh tersebut tidak digambarkan sebagaimana kebiasaan potret biasa, mereka nampak dengan gestur tubuh khusus bahkan dengan sikap tubuh yang tengah ‘bercerita’.

Festival Yoga, Komoditi atau Gaya Hidup Sehat?

Menambah wawasan bertemu dengan para yogi/yogini mungkin itu yang paling terlihat dari ajang-ajang seperti ini. Namun sayangnya, karena telah menjadi sebuah komoditi, sebuah festival yoga kerap hanya dipakai untuk ajang ‘dagang’ baik para penyelenggara, sponsor, atau pun praktisi. Alih-alih untuk memasyarakatkan olahraga, justru banyaknya produk ‘jualan’ yang mendominasi venue. Lantas apakah hal tersebut salah?