
NININMENULIS.COM – Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang selalu berdenyut, di mana suara klakson kendaraan dan debu jalanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terdapat sosok yang berani melawan arus. Dalam kondisi polusi yang membayangi, ada satu individu yang berjuang untuk menerangi jalan menuju kesadaran lingkungan. Dia adalah Adhitya Putra Lanae, seorang aktivis lingkungan yang menginspirasi banyak orang melalui kiprahnya dalam memperjuangkan perubahan iklim.
Bersama empat rekannya, ia mendirikan Climate Institute, sebuah wadah yang menebarkan kepedulian terhadap perubahan iklim. Dari kiprahnya ini, tidak mengherankan bila ia menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Award (SIA) 2021 di bidang lingkungan.
Contents
Jejak Awal yang Menginspirasi

Lahir di Baubau, Sulawesi Tengggara pada 8 Oktober 1988, Adhit, demikian ia akrab disapa, memiliki kecintaan mendalam terhadap lingkungan sejak usia muda. Perhatiannya terhadap isu lingkungan semakin mendalam ketika ia mengikuti workshop perubahan iklim di Bali. Dari sana, bersama beberapa rekan dari Jakarta, ia membentuk Indonesian Youth Team for Climate Change (IYTCC). Komunitas ini menjadi cikal bakal Climate Institute, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Saya terinspirasi untuk berkontribusi setelah menyaksikan dampak perubahan iklim di sekitar kita. Lingkungan yang sehat adalah hak setiap individu,” ungkap Adhit. Ketertarikan ini kemudian mendorongnya untuk lebih dalam menggali isu-isu lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
Sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia, Jakarta menjadi tantangan tersendiri bagi Adhit dan timnya. Banyak orang masih terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang tidak ramah lingkungan. “Penggunaan transportasi publik sering dianggap tidak prestisius. Padahal, dengan menggunakan transportasi umum, kita dapat mengurangi polusi,” kata Adhit. Ia berkomitmen untuk mengubah pandangan masyarakat, mengajak mereka untuk menyadari bahwa setiap tindakan kecil dapat memberikan dampak besar.

Melalui berbagai program yang diadakan oleh Climate Institute, Adhit berhasil mengedukasi ratusan orang. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi seminar, workshop, dan aksi nyata seperti penanaman pohon dan pembersihan sampah. “Kami ingin memberikan pengalaman langsung kepada peserta tentang pentingnya menjaga lingkungan. Ini bukan hanya tentang teori, tetapi bagaimana kita bisa bertindak,” tambahnya.
Langkah Kreatif untuk Menciptakan Perubahan
Adhit memahami bahwa untuk menarik minat generasi muda, pendekatan yang kreatif dan inovatif diperlukan. Oleh karena itu, Climate Institute sering mengadakan acara dengan tema menarik, seperti Youth Climate Camp dan Climate Week, yang menghadirkan pembicara-pembicara inspiratif. “Kami ingin membuat isu lingkungan lebih dekat dan menarik bagi mereka. Misalnya, saat kami mengadakan penanaman pohon bakau, kami juga menyiapkan panggung hiburan untuk menarik perhatian,” ungkapnya.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, Adhit berharap bisa menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda. “Kami tidak hanya ingin mengedukasi, tetapi juga menginspirasi mereka untuk berkontribusi. Setiap individu memiliki kekuatan untuk membawa perubahan, bahkan dari hal-hal kecil,” tegasnya.
Namun, perjuangan Adhit tidaklah mudah. Di tengah kesibukan dan ketidakpedulian sebagian masyarakat, ia menghadapi tantangan besar dalam menarik perhatian orang untuk peduli pada lingkungan. “Menarik minat mereka sama sulitnya dengan mengubah perilaku itu sendiri. Banyak yang terjebak dalam rutinitas, dan tidak menyadari bahwa tindakan kecil mereka dapat berdampak besar,” tuturnya.
Meski begitu, Adhit tetap optimis. Ia percaya bahwa dengan kesadaran yang terus ditingkatkan, lambat laun masyarakat akan memahami pentingnya menjaga lingkungan. “Kita perlu mendorong mereka untuk bertindak, mulai dari hal yang paling sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menggunakan transportasi publik,” ajaknya.

Climate Institute juga aktif menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), komunitas lokal, serta lembaga pemerintah untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu lingkungan. Dengan cara ini, mereka berharap dapat menciptakan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa suara kami didengar. Kolaborasi adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama,” kata Adhit.
Dengan berbagai program yang telah dilakukan, Climate Institute telah berhasil mencetak ratusan alumni yang kini turut berperan dalam memperjuangkan isu lingkungan di daerah masing-masing. “Kami memiliki banyak relawan yang siap mendukung, dan kami selalu membuka peluang bagi komunitas baru untuk bergabung dalam aksi nyata,” ujarnya dengan semangat.
Harapan untuk Masa Depan
Di tengah tantangan yang ada, Adhit tetap berpegang pada harapan. Ia yakin bahwa generasi muda adalah kunci untuk menciptakan perubahan. “Saya berharap semakin banyak orang yang terinspirasi untuk peduli pada lingkungan. Climate Institute tidak hanya bertujuan untuk mengedukasi, tetapi juga ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu lingkungan,” harapnya.
