Ada sesuatu yang hangat dan berdenyut pada Senin pagi, 20 Oktober 2025 lalu, di udara Ruang Auditorium Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat. Dari luar saja sudah tampak bahwa ini bukan acara biasa. Beberapa spanduk bertuliskan ‘1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran’ berjajar di sepanjang jalan masuk menuju lokasi acara. Sementara di dalam, panggung megah dengan latar digital menampilkan kaleidoskop capaian nasional selama setahun terakhir dari proyek ketahanan pangan, makan bergizi gratis, sampai transisi energi hijau yang tengah digerakkan di berbagai daerah.
Kenan mungkin bukan nama besar di industri kopi nasional. Namun bagi petani kopi di Kepahiang, ia adalah simbol harapan baru. Seseorang yang tidak hanya memahami cita rasa kopi, tapi juga memahami denyut nadi petaninya. Ia adalah bagian dari inisiatif Kopi Kearifan Lokal, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat kembali pada akar, pada kearifan leluhur, dan pada cara-cara tradisional yang ramah alam dan manusia.
Di tengah geliat modernisasi kota Tangerang, berdiri sebuah bangunan yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga penjaga sejarah, saksi bisu perubahan zaman, sekaligus pusat cerita rakyat yang terus mengalir dari generasi ke generasi. Nama masjid ini adalah Masjid Jami Kalipasir. Sebuah bangunan tua yang tak lekang dimakan waktu, justru makin memesona seiring bertambahnya usia.
Melalui Kakak Aman Indonesia, Hana menyusun modul sederhana, dengan bahasa yang ramah anak. Ia tidak duduk di depan kelas lalu memberi kuliah kaku. Sebaliknya, ia mendongeng, mengajak bermain, bernyanyi, dan berdialog. Ia membawa poster penuh warna, ilustrasi yang lucu, serta permainan interaktif. Dengan cara itu, anak-anak belajar tanpa merasa diajari. Mereka tertawa, bernyanyi, dan di sela-sela itu, mereka memahami pesan penting kalau tubuh mereka berharga, ada bagian pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain, dan mereka punya hak untuk berkata ‘tidak’.
Beberapa waktu lalu, aku melihat seorang balita duduk di stroller sambil menggenggam ponsel pintar. Jari-jarinya lincah menekan layar, seolah ia sudah paham bahwa dengan satu sentuhan saja, dunia bisa terbuka luas. Dari musik, video animasi, hingga game edukasi, semuanya bisa diakses dalam sekejap. Adegan itu membuat aku berpikir, bagaimana nasib buku-buku cerita yang dulu selalu menemani masa kecil kita? Apakah mereka masih punya tempat di hati anak-anak, atau pelan-pelan tergeser oleh cahaya biru layar gawai?
IIPE 2025 bukan hanya pameran, tapi juga perjalanan penuh inspirasi. Dari House of Cats yang penuh keunikan, hingga Sustainability Corner yang mengingatkan pentingnya lingkungan. Dari konsultasi dengan dokter hewan, hingga cerita Sheila dan Dion yang menyentuh hati.
Film The Sun Gazer: Cinta dari Langit ini diadaptasi dari novel Sang Penatap Matahari karya Muhammad Gunawan Yasni, sebuah kisah yang banyak menyentuh hati pembacanya sejak pertama kali diterbitkan. Sutradara dengan cerdas mengangkat kisah ini ke layar lebar tanpa kehilangan ruh spiritualitas dan kedalaman emosionalnya. Penonton tidak hanya diajak mengikuti alur cerita, tetapi juga diajak merenungkan arti cinta, pengorbanan, dan perjalanan mencari cahaya di tengah gelapnya hidup.
Gunungkidul, Yogyakarta, selama puluhan tahun identik dengan cerita paceklik, lahan karst yang gersang, dan retakan tanah yang menganga setiap kemarau. Bagi sebagian besar orang, daerah ini hanyalah hamparan panas dan keterbatasan. Namun, di balik teriknya matahari dan kerasnya tanah batu kapur itu, lahir sebuah kisah yang mengubah pandangan banyak orang. Cerita tentang 500 bibit lidah buaya yang menumbuhkan lebih dari sekadar tanaman, ia menumbuhkan harapan.
Di sinilah laptop seperti ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) menjadi kunci. ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) merupakan salah satu laptop AI dengan performa NPU 45+ TOPS yang membuatnya mampu menangani komputasi berbasis kecerdasan buatan secara cepat dan efisien. Prosesor yang cepat, layar dengan akurasi warna tinggi, serta kapasitas penyimpanan besar membuat seluruh pekerjaan terasa lebih efisien. Tidak ada waktu terbuang karena aplikasi nge-lag, tidak ada ilustrasi yang warnanya meleset karena kualitas layar buruk, dan tidak ada rasa panik karena ruang penyimpanan penuh di tengah waktu pengerjaan.
Pindah domisili. Kedengarannya sepele, ya? Tinggal datang ke kelurahan, isi formulir, tanda tangan, beres. Tapi jangan salah, di balik dua kata itu, tersimpan petualangan administratif yang bisa bikin kepala cenat-cenut, terutama kalau kamu pindah dari Jakarta ke daerah yang sistemnya belum sefleksibel ibu kota. Aku pun sempat jadi warga ‘tak resmi’ cukup lama. Bukan karena tidak cinta tanah baru, tetapi lebih karena membayangkan betapa ribetnya birokrasi, apalagi ditambah rasa malas yang terawat selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya, sebuah fakta mengejutkan membangunkanku dari tidur panjang sebagai warga bayangan.