Menikmati Karya 10 Seniman Prancis dan Indonesia di Yello Hotel Harmoni

NININMENULIS.COM – Yello Hotel Harmoni menjadi persinggahan bagi traveler penyuka perkembangan teknologi, seni, dan desain. Yello sendiri juga merupakan plesetan dari kata yes + hello, dan kemudian dijadikan sapaan khas kepada setiap tamu yang berkunjung ke hotel yang dibuka Desember 2017. Sebelumnya, Yello Hotel Harmoni di bawah Tauzia Hotel Management bekerjasama dengan IFI (Institut Francais Indonesia) menyelenggarakan Off The Wall Jakarta atau pekan seni urban kontemporer Prancis-Indonesia. Kegiatan ini Mempertemukan 10 street artist dari kedua negara untuk berkolaborasi membuat karya yang nantinya akan menghiasi beberapa dinding bangunan di Jakarta, salah satunya Yello Hotel Harmoni. Dari sinilah karya-karya yang kerap hadir di ruang publik masuk ke area semi publiK seperti hotel.  Terhitung 10 street artist asal Prancis dan Indonesia berkontribusi menghiasi dinding lobby di Yello Hotel Harmoni. Ke-10 seniman tersebut Colorz, Darbotz, Fenx, Farhan Siki, Kongo, Soni Irawan, Mist, Stereoflow, Tilt, dan Tutu.

Baca juga: Tauzia Hotels Meraih 9 Penghargaan Bergengsi  Traveloka Awards 2018

mural
Karya mural dari seniman-seniman Prancis dan Indonesia

Dari Jalan Hayam Wuruk sebagai akses utama, pengunjung tidak langsung menuju lobby utama, terdapat lobby transisi yang berfungsi sebagai area tunggu dan drop-off pengunjung. Selain warna dan motif khas Yello, di sini terdapat karya dari tiga seniman, Darbotz, Kongo, dan Farhan Siki. Masing-masing seniman membawa ciri karyanya. Darbotz mengangkat isu kemacetan, kekacauan, dan kesibukan Jakarta sebagai inspirasi yang ia tuangkan dalam karakter cumi dengan torehan warna hitam dan putih dengan sedikit aksentuasi. Menurutnya, karakter ini mendeskripsikan alter egonya dalam menghadapi kota yang keras. Berbeda lagi dengan Kongo yang berdarah Prancis dari sang ibu dan Vietnam dari ayahnya. Pernah tinggal di Brazzaville, Republik Kongo_dari sanalah asal-usul namanya_pengaruh multibudaya menjadi identitasnya dalam berkarya. Sedangkan Farhan Siki yang mulai mengenal mural di akhir 1989 bersama ‘genk anak pecinta musik metal’ dan telah mengerjakan banyak proyek seni di berbagai negara seperti Prancis, Cina, dan Italia menampilkan karya yang dikemas dalam tipografi brand makanan junkfood terkenal.

Baca juga: Merayakan Hari Batik Bersama Tauzia Hotels di Museum Tekstil

tauzia
Area lobby transisi (atas) ruang meeting (bawah)

Dari lobby transisi, pengunjung dapat menuju lantai tujuh di mana main lobby berada. Lantai tujuh merupakan area terbuka yang tidak hanya lobby namun juga terdapat chill spot, netzone, gaming station, dan restoran Wok’N’Tok, yang menyediakan street food, seperti Soto Betawi, Nasi Goreng Betutu, dan Donkey King Muffin yang merupakan muffin pisang lezat yang dibuat berdasarkan resep turun temurun keluarga. Wok’N’Tok juga menyediakan ruang terbuka outdoor bagi para tamu yang ingin menikmati suasana Jakarta. Interior di sepanjang area di lantai ini didesain apik dan instagramable. Ini dikarenakan terdapat mural dari ketujuh seniman lainnya.

Baca juga: Yello Hotel Jambi Properti Ketiga Tauzia Hotel di Pulau Sumatra

hotel budget
Lift Lobby di lantai dasar

Karya-karya yang ada di sini pun tak kalah serunya. Lihat saja bagaimana Tilt yang terobsesi pada garis lengkung dan sering menghadirkan bentuk bulat dalam karyanya. Ada juga Tutu, seorang seniman yang menitikberatkan pada proses harmonisasi detail, struktur, dan unsur lainnya dengan komposisi modern. Ia terkenal akan bentuk geometris dan tajam dengan pemilihan warna natural. Sedangkan Colorz yang menguasai gaya ekspresif, mengeksplor warna-warna berani. Jika Fenx yang telah tertarik mural pada usia 15 tahun menampilkan karya yang banyak dipengaruhi kenangan masa kecilnya_hubungan dengan orang lain, kehidupan, kematian, dualisme, trinitas, dan perempuan_maka Soni Irawan yang juga seorang musisi rock terpengaruh oleh musik tersebut. Dua seniman terakhir yakni Mist dan Stereoflow. Mist menciptakan karya abstrak terinspirasi huruf-huruf dalam pseudonimnya. Ia mendekonstruksi melampaui representasikan tradisional nama tersebut. Stereoflow yang memiliki nama asli Adi Dharma. Ia terkenal akan bentuk menyudut dan warna-warna cerah di setiap karyanya.

Baca juga: Harris Hotels Luncurkan Paket Fit & Fun

yello hotel
Mural kota tua di salah satu kamar

Selain mural, area ini juga dilengkapi dengan pemilihan furnitur yang unik dan kaya seni, seperti kursi dari sadel sepeda. Tak berhenti di area main lobby, hotel yang memiliki 372 kamar berukuran 21 meter persegi ini dirancang nyaman dan berbeda dengan adanya mural Jakarta tempo dulu. Bagi para pebisnis, Yello Hotel Harmoni menyediakan delapan ruang rapat dengan kapasitas mulai dari 10 sampai 140 orang, dilengkapi dengan Wifi dan peralatan modern untuk rapat. Ruang-ruang rapat ini dirancang dengan gaya industrial yang menampilkan ilustrasi karya seniman-seniman lokal yang sangat berbakat di setiap ruangannya. Karya seniman-seniman lokal tersebut juga dijumpai di setiap lift lobby dan koridor kamar.

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Morning Person | Architecture Graduate | Former Journalist | Healthy Lifestyle | Coffee Addict

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.