Stasiun Tanjung Priok Dulu dan Sekarang

stasiun tanjung priok
NININMENULIS.COM – Sempat kurang lebih 30 tahun tinggal di Jakarta Utara ternyata tidak membuat saya mengetahui benar apa yang ada di dalam Stasiun Tanjung Priok. Sebagai pengguna angkutan umum dari sekolah hingga bekerja, saya hanya sekedar melewati depan Stasiun Tanjung Priok. Memang, Stasiun Tanjung Priok ini berada bersebelahan dengan Terminal Tanjung Priok tempat saya menunggu bus setiap harinya.

Pengalaman memasuki sisi dalam Stasiun Tanjung Priok justru saya alami saat pindah ke Bogor di mana saya harus menggunakan commuter line untuk menjangkau ke dua stasiun ini. Ingin tahu rasanya saat saya pertama kali melihat isi dari Stasiun Tanjung Priok? Wow, luar biasa tiba-tiba saya seperti berada di video klip Chrisye featuring Ariel, …… Bila Rindu ini masih milikmu. Kuhadirkan sebuah tanya untukmu. Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu ……

Sebelum saya menyaksikan langsung interior Stasiun Tanjung Priok, stasiun ini memang hanya saya saksikan sebagai tempat syuting iklan, film, ataupun video klip seperti video klip Menunggumu yang dinyanyikan oleh Chrisye featuring Ariel, Ku Tetap Menanti yang dinyanyikan oleh Nikita Willy, dan Dengan Nafasmu karya Ungu.

Baca juga: MRT Jakarta Hadir, Ini Sejarah MRT di Dunia

Desain Stasiun Tanjung Priok

Stasiun Tanjung Priok banyak menggunakan material besi baja yang memiliki profil melengkung dan menutupi enam jalur kereta di dalamnya. Material besi baja dengan bentuk yang melengkung menjadi kekhasan arsitektur lainnya dan juga Stasiun Tanjung Priok di jaman itu. Itulah yang menjadikan Stasiun Tanjung Priok tetap terlihat modern dan tidak ketinggalan jaman.

Pada pinggir-pinggir bangunan Stasiun Tanjung Priok terdapat jajaran jendela yang memiliki lis profil atap horisontal dengan lubang-lubang pada cornice berupa ballustrade di atapnya, garis-garis vertikal kolom-kolom, dan lekukan pada dinding menyerupai jendela selain jendela-jendela sesungguhnya yang berjalusi kayu. Kaca patri dan ornamen profil keramik, tampak menghiasi dinding stasiun. Dengan hiasan itu, maka stasiun tampak megah dan diperkuat dengan kolom-kolom besar dan kokoh pada beranda utama yang didukung dengan tangga di sepanjang bangunan.

stasiun tanjung priok tempo dulu

Memiliki langgam bangunan art deco, dengan fasilitas 8 peron, juga penginapan. Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa. Stasiun Tanjung Priok pada saat itu di bangun untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia Centrum yang berada di Selatan, selain itu juga untuk keperluan militer juga untuk mengangkut hasil bumi. Konon, stasiun yang mirip Centraal Station di Amsterdam ini merupakan stasiun terbesar di Asia Tenggara.

Baca juga: Merasakan Moda Transportasi Terpadu di Stasiun MRT Dukuh Atas

Stasiun Tanjung Priok Jaman Old

Menurut sejarah yang dituliskan di buku-buku dan juga beberapa situs online, Stasiun Tanjung Priok dibangun pada tahun 1885 oleh Ir. C W Koch seorang insinyur dari Staats Spoorwegen atau SS-Perusahaan kereta api Hindia Belanda. Stasiun Tanjung Priok dibangun di lahan seluas 46.930 m2 dengan luas bangunan 3768 m2. Kamu sudah tahu belum kalau Stasiun Tanjung Priok ini memiliki terowongan atau bunker yang katanya sih bisa tembus ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Di jalamnya Stasiun Tanjung Priok memiliki fasilitas yang sangat memadai mulai dari restoran dengan lift untuk mengantar makanan penguunjung yang menginap di stasiun. Menginap? Ya, dulu di lantai dua Stasiun Tanjung Priok ini terdapat penginapan yang banyak di gunakan oleh penumpang yang datang dari luar negeri melalui kapal besar yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Kebanyakan dari mereka sedang menunggu jadwal keberangkatan kereta, semacam transit sebelum ke tempat tujuan.

Baca jugaSaat NininMenulis Uji Coba MRT Jakarta

Stasiun Tanjung Priok Jaman Now

Sejak kembali beroperasi pada 2015 lalu, Stasiun Tanjung Priok kembali hidup dengan langkah-langkah kaki masyarakat yang menginjakkan kakinya di gedung tua. Pesona gedung tua yang pernah berjaya pada masanya itu masih menjadi daya tarik masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang sengaja datang hanya ingin melihat pesona stasiun dari dalam gedung, tidak sedikit yang berfoto-fotoan untuk di upload ke sosial media mereka. Masuk ke dalam stasiun, penumpang akan menemukan dua loket tiket untuk tujuan berbeda. Loket di sebelah kanan untuk pemesanan tiket Commuter Line dan loket sebelah kiri untuk pemesanan tikel lokal menuju Purwakarta. Dari lima loket tiket Commuter Line yang tersedia, hanya ada dua loket tiket yang beroperasi.

Berbeda dengan stasiun umumnya yang riuh oleh penumpang, Stasiun Tanjung Priok terlihat tenang. Mungkin ini dikarenakan jalur yang beroperasi di Stasiun Tanjung Priok tidak sebanyak stasiun lainnya di wilayah Jabodetabek.

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.