Ecoprint Sebuah Strategi Menghindari Plagiarisme di Era Digital yang Ramah Lingkungan

ecoprint

NININMENULIS.COM – Mungkin Indiana Flint saat mengembangkan ecoprint di 2006 tidak menyangka bahwa teknik pewarnaan kain yang dikembangkannya ini justru booming di Indonesia, bukan di negara asalnya, Australia. Tidak mengherankan. Mengingat kondisi geografis Indonesia yang kaya dengan beraneka jenis tanaman serta sejarah pewarnaan kain di beberapa daerah memiliki teknik serupa dengan ecoprint. Hal ini bagai memancing kreativitas dan keahlian yang sebenarnya sudah mendarah daging. Para generasi milenial pun mulai membidik ecoprint menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Geliat event fashion show khusus ecoprint pun mulai banyak diselenggarakan. Sebenarnya seberapa menjanjikannya bisnis ecoprint ini di tengah maraknya digital print dalam industri fashion?

Industri fashion masih menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Menempati posisi tiga terbesar penyumbang devisa negara atau sebesar 122 triliun rupiah, produk fashion juga masih menjadi yang terlaris di e-commerce. Namun di sisi lain industri fashion menjadi penyumbang limbah tertinggi di dunia, salah satunya dihasilkan dari limbah cair residu zat pewarna sintetis. Beberapa zat pewarna ini dapat terdegradasi menjadi senyawa yang bersifat karsinogenik dan beracun bila mencemari tanah, air, dan permukaan di sekitarnya. Mengingat dampak negatif dari zat pewarna sintetis, semakin meningkat juga kesadaran penggunaan zat pewarna alami. Zat pewarna yang berasal dari alam menjadi alternatif pewarna yang tidak beracun, dapat diperbaharui, dan ramah lingkungan.

Di Indonesia sendiri, pemakaian zat pewarna alam dianggap kekayaan warisan nenek moyang yang telah ada sejak dahulu, sama seperti pada proses pewarnaan batik dan tenun. Untuk diketahui ecoprint berasal dari kata eco yang berarti lingkungan hayati dan print yang berarti cetak, merupakan teknik pewarnaan dengan memanfaatkan bagian dari tumbuhan yang mengandung pigmen warna seperti pada daun, bunga, kulit kayu, dan lain sebagainya. ‘Pemindahaan’ warna dari bagian tanaman tersebut menggunakan beberapa cara seperti teknik pounding (dipukul), teknik steaming (dikukus), dan direbus.

ecoprint
Warna dan motif yang dihasilkan dari ecoprint tidak pernah sama dan selalu unik (Foto: Semilir Ecoprint Artisan)

Baca juga: UIC for HOPE Festival Mempersembahkan Fashion Show Three Generations ‘Reinventing Heritage’

Dengan teknik pewarnaan ecoprint, warna dan motif yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak dapat diduga meskipun menggunakan jenis tanaman dan teknik pengerjaan sama. Hal inilah yang menjadikan ecoprint memiliki nilai seni yang tinggi. Konsep ecoprint ini menghasilkan produk yang bersifat personal, terbatas, intim, dan eksklusif dibanding menggunakan digital print yang hasilnya konsisten secara visual. Bahkan desainer sekelas Ria Miranda pun sudah beralih menggunakan teknik ecoprint untuk mempertahankan orisinalitas karyanya. Strategi ini juga dilakukan untuk menghindari plagiarisme yang sangat mudah terjadi di era digital ini.

“Melalui ecoprint, kita belajar menghargai arti sebuah proses di era digital print yang tengah marak ini. Semua mudah menciptakan karya, mudah juga menggunakan karya orang lain untuk keuntungan pribadi. Pada akhirnya akan mengurangi kenikmatan dalam menghargai sebuah proses,” tuturnya saat peluncuran koleksi riamiranda Signature dengan nama Eucaflora di 2018 lalu.

Seperti yang dituturkan Ria Miranda, dunia fashion merupakan bisnis yang dapat dilakukan siapa saja di era digital seperti sekarang, tetapi pada akhirnya yang kreatif, inovatif, eksklusif, dan berbeda dari lainnya akan memiliki nilai prestisius tersendiri. Dengan teknik ecoprint yang memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan sekitar, sudah tentu dapat menghasilkan produk yang layak jual, bernilai tinggi, dan terpenting turut melestarikan lingkungan.

Sejuknya Semilir Ecoprint

Semilir ‘kesejukan’ teknik ecoprint ini ternyata juga membangkitkan syaraf-syaraf kreativitas Alfira Oktaviani. Kreativitas memang menjadi kunci keberhasilan ecoprint di industri fashion. Lihat saja bagaimana Alvira sukses ‘mengawinkan’ teknik ecoprint pada kulit kayu lantung khas Bengkulu. Kemampuannya dalam menggali warisan wastra Indonesia patut diacungi jempol, sementara banyak dari kita masih mencari tahu apa itu kulit kayu lantung khas Bengkulu? Tanpa kita tahu bahwa di 2015, kulit kayu lantung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Bengkulu.

ecoprint
Pembuatan kulit lantung dari Bengkulu (Foto: Semilir Ecoprint Artisan)

Dari banyak literatur kita dapat mengetahui bahwa kulit kayu lantung pertama kali dibuat pada 1943 saat penjajahan Jepang, masa dimana masyarakat Bengkulu tidak mampu membeli kain untuk pakaian. Saat itu untuk mendapatkan kain mereka membuatnya dari kulit pohon, seperti pohon karet, ibuh, terap, dan kedui. Batang pohon yang telah ditebang lalu dipotong-potong, dan kulit bagian luarnya dikupas. Bagian yang digunakan adalah kulit bagian tengah yang lebih halus. Agar dapat dijadikan pakaian dilakukan proses pelunakan dengan cara dipukul-pukul menggunakan alat yang terbuat dari tanduk kerbau atau kayu keras, yang dilakukan berulang-ulang hingga kulit kayu menjadi lebar, tipis, rata, dan lembut. Selanjutnya, kulit tersebut diangin-anginkan sekitar dua minggu hingga menghasilkan kulit kayu lantung yang siap dijadikan pakaian.

Baca juga: Baju Tunik dari Masa ke Masa

Kekhasan kulit kayu lantung khas Bengkulu ini ternyata dipahami benar oleh Alvira yang berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kreativitas yang dimilikinya, ia mengolah serat alami dari kulit kayu lantung menjadi produk fashion seperti tas, kain, syal, baju, kemeja, dompet, dan lain sebagainya di bawah brand Semilir Ecoprint Artisan. “Serat alami saya pilih karena mampu menyerap warna secara baik. Ada dua jenis serat alami yang saya gunakan, kelompok selulosa seperti katun, linen, goni, kulit kayu, dan kelompok protein misalnya sutera, wol, maupun kulit binatang,” papar Alvira.

Untuk mendukung usaha fashionnya ini, Alvira dibantu oleh kurang lebih 10 Ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar kompleks Perumahan Griya Asri Pratama, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, dimana ia tinggal. Apa yang dilakukan Alvira ini dapat dikatakan wujud kontribusinya dalam mendukung program pemerintah melalui ekonomi kreatif. Tidak hanya memberdayakan para ibu di lingkungannya, Alvira juga turut aktif melakukan pelatihan ecoprint untuk menumbuhkan minat berwirausaha dan meningkatkan perekonomian desa dengan memanfaatkan media daun yang tumbuh di sekitar mereka.

ecoprint
Workshop yang diselenggarakan oleh Semilir Ecoprint Artisan (Foto: Semilir Ecoprint Artisan)

Dari pelatihan yang diadakannya ini sudah banyak ibu-ibu yang tertarik menjadikan produk ecoprint sebagai bisnis usaha layak jual, selain juga potensi penghijauan. Untuk mendapatkan bagian tanaman yang sesuai untuk ecoprint, Alvira menanam sendiri berbagai jenis tanaman yang digunakan sebagai pewarna alami di pekarangan rumahnya, seperti daun jati, klengkeng merah, daun lanang, jarak kepyar, teruju, miyono, daun jambu biji, kesumba, jinitri, dan masih banyak lagi lainya.

Meskipun memiliki banyak keunggulan dalam pengembangan bisnis fashion, tidak sedikit yang menganggap produk ecoprint memiliki harga tinggi. Untuk itulah, selain kreativitas dalam menciptakan produk, pelaku usaha ecoprint mesti jeli dalam menargetkan pangsa pasar yang akan dibidik dan strategi pemasaran yang sesuai. Seperti pada produk Semilir Ecoprint Artisan yang menargetkan produknya untuk wanita perkotaan berusia di atas 25 tahun dengan kelas ekonomi A yang peduli dengan isu lingkungan, green lifestyle, dan mencintai produk lokal.

ecoprint
Produk ecoprint cocok digunakan untuk semua acara (Foto: Semilir Ecoprint Artisan)

Untuk pemasaran dan promosi Alvira aktif mengikuti pameran selain melakukan penjualan melalui website http://www.semilirecoprint.com dan media sosial seperti facebook maupun instagram di @senandung.semilir. Dengan strategi pemasaran yang tepat produk Semilir Ecoprint Artisan telah menjangkau seluruh kota besar di seluruh Indonesia dan juga sudah diekspor hingga ke Amerika, Jepang, Australia, Afrika Selatan, dan Eropa.

Belajar dari Alvira Oktaviani melalui Semilir Ecoprint Artisan dan para pelaku bisnis fashion ecoprint lainnya, dapat disimpulkan bahwa peluang usaha ini masih sangat besar dan masih dapat berkembang lagi, baik dari jenis tanaman yang digunakan hingga teknik pengerjaannya. Terutama di daerah-daerah yang masih memiliki potensi alam yang kaya dengan berbagai jenis dedaunan, bahan dasar zat pewarna alami produk ecoprint. Semakin banyak pelaku bisnis yang mendukung ecoprint berarti semakin banyak juga yang turut berkontribusi membuat Indonesia tetap lestari sekaligus meningkatkan perekonomian.

Semangat berkreasi dengan ecoprint!

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.