Piala Adhi Praya GarudaTV, Apresiasi di 1 Tahun Prabowo-Gibran

piala adhi praya garudatv

NININMENULIS.COM – Ada sesuatu yang hangat dan berdenyut pada Senin pagi, 20 Oktober 2025 lalu, di udara Ruang Auditorium Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat. Dari luar saja sudah tampak bahwa ini bukan acara biasa. Beberapa spanduk bertuliskan ‘1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran’ berjajar di sepanjang jalan masuk menuju lokasi acara. Sementara di dalam, panggung megah dengan latar digital menampilkan kaleidoskop capaian nasional selama setahun terakhir dari proyek ketahanan pangan, makan bergizi gratis, sampai transisi energi hijau yang tengah digerakkan di berbagai daerah.

Hari itu bukan sekadar acara peringatan. Ia lebih seperti upacara refleksi, perayaan tentang sejauh mana Indonesia melangkah dalam setahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. GarudaTV, sebagai tuan rumah acara, tidak hanya menghadirkan panggung megah, tetapi juga atmosfer yang menggugah rasa ingin tahu, rasa percaya, dan rasa cinta pada tanah air yang terus tumbuh.

Acara ini juga disiarkan secara langsung di kanal YouTube GarudaTV, sehingga mereka yang tidak hadir pun tetap bisa merasakan semangat yang sama dari layar masing-masing. Tidak hanya sekadar seremoni penghargaan, Piala Adhi Praya menjadi momen refleksi penting untuk meninjau, mengapresiasi, dan memperkuat arah pemerintahan di tahun pertama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Refleksi di Tengah Optimisme

piala adhi praya garudatv

Begitu acara dimulai, suasana auditorium langsung terasa hidup. Layar menampilkan video berdurasi tiga menit berisi kilas balik perjalanan satu tahun pemerintahan, bagaimana Indonesia mengelola krisis global dengan tenang, menekan angka pengangguran, meningkatkan cadangan devisa, serta memperluas jangkauan digitalisasi layanan publik.

Setelah sajian pembuka yang penuh tawa dari stand up comedy, Abdel Syahrial, ada Prof. Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, dan Integrasi Masyarakat (Imipas) RI, naik ke panggung dengan tenang namun penuh wibawa. “Setahun bukan waktu yang panjang untuk menilai pemerintahan. Namun satu tahun cukup untuk melihat arah, semangat, dan komitmen,” ujarnya membuka sambutan.

Ia menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran telah berhasil menata ulang sistem hukum dan birokrasi untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kerja pemerintah saat ini tidak hanya berorientasi pada kebijakan besar, tetapi juga memperhatikan hal-hal konkret di lapangan dari kemudahan izin usaha rakyat hingga sistem hukum yang semakin inklusif.

Yusril juga menyoroti peningkatan koordinasi antar lembaga hukum dan keterbukaan publik dalam proses legislasi. “Ini hal yang dulu sering dianggap mustahil. Tapi kini, keterbukaan bukan jargon melainkan standar kerja,” katanya

Pidato itu menyalakan optimisme di ruangan. Suasana pagi berubah menjadi energi positif yang terasa mengalir hingga ke barisan belakang auditorium.

Transmigrasi, Tenaga Kerja, Hingga Lingkungan

piala adhi praya garudatv

Usai sambutan pembuka, panggung beralih ke sesi talkshow interaktif. Dipandu oleh pembawa acara, sesi ini menghadirkan sejumlah tokoh kunci kabinet Prabowo-Gibran yang membahas capaian dan arah kebijakan nasional. Ada M. Iftitah Sulaiman, Menteri Transmigrasi yang bicara pertama, menceritakan bagaimana program transmigrasi kini dikemas lebih modern. “Kita tidak lagi bicara soal pemindahan penduduk semata, kita bicara tentang membangun pusat ekonomi baru,” ujarnya.

Ia menjelaskan keberhasilan pemerintah membangun kawasan transmigrasi berbasis potensi daerah mulai dari perkebunan sawit di Kalimantan hingga budidaya rumput laut di Sulawesi. “Program ini berhasil menciptakan lebih dari 75 ribu lapangan kerja baru dalam setahun,” ungkapnya.

Disusul kemudian oleh Yassierli, Menteri Tenaga Kerja, yang menyampaikan kebijakan pelatihan vokasi nasional dan kerja sama industri dengan perguruan tinggi. Ia memaparkan bagaimana program ‘Satu Keluarga, Satu Kompetensi’ telah menjangkau jutaan keluarga di seluruh Indonesia. “Kita ingin tenaga kerja kita siap menghadapi era otomatisasi dan kecerdasan buatan. Itu sebabnya pemerintah memperkuat link and match antara dunia pendidikan dan dunia industry,” kata Yassierli.

Sementara itu, Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, berbicara dengan nada reflektif. Ia menyoroti kemajuan dalam program penurunan emisi karbon dan pengelolaan sampah nasional. Ia menekankan bahwa isu lingkungan kini bukan lagi urusan kementerian tertentu, tetapi menjadi bagian integral dari seluruh kebijakan pemerintah. “Prabowo-Gibran mendorong green economy bukan karena tren, tapi karena kebutuhan masa depan,” tegasnya.

Menutup sesi talkshow, Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, menghadirkan perspektif daerah. Ia berbicara tentang bagaimana kolaborasi pusat dan daerah memperkuat ekonomi wilayah timur Indonesia.

Tepuk tangan panjang mengiringi akhir sesi. Diskusi itu terasa jujur dan inspiratif, menampilkan wajah pemerintahan yang berorientasi pada kerja nyata.

Pada sesi berikutnya menghadirkan Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia. Dengan gayanya yang lugas dan tegas, ia menyampaikan paparannya, “kita tidak boleh berjalan di tempat. Satu tahun ini sudah menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan kolaborasi, Indonesia bisa lebih tangguh dari yang kita kira,” tegasnya.

Luhut memaparkan data pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di kisaran 5,3%, dengan peningkatan investasi asing langsung mencapai rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ia juga menyoroti keberhasilan program hilirisasi mineral dan pengembangan bioenergi sebagai pilar ekonomi masa depan.

Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia pun tidak mau ketinggalan memberikan paparannya mengenai kinerja kementrian di bawahnya. Dengan penuh percaya diri, Meutya berbagi tentang keberhasilan pemerintah dalam memperluas transformasi digital di seluruh penjuru negeri.

Ia menjelaskan bagaimana jaringan internet cepat kini telah menjangkau 93% wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). “Digitalisasi bukan hanya untuk kota besar tapi untuk setiap anak bangsa. Tahun ini kita sudah menyelesaikan 200 titik akses internet di Papua,” ujarnya.

Program Satu Data Indonesia dan Digital Citizen Platform menjadi sorotan. Meutya menegaskan bahwa keterbukaan informasi kini menjadi bagian dari reformasi birokrasi. Ia juga menyinggung pentingnya literasi digital bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak mudah termakan disinformasi dan bisa menjadi pengguna teknologi yang sehat. “Digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan jembatan menuju masa depan yang inklusif,” tambahnya.

Bincang Santai Keluarga sebagai Fondasi Bangsa

piala adhi praya garudatv

Menjelang akhir acara, suasana dibuat lebih rileks dengan sesi bincang santai bersama Elly Husin, Pemimpin Redaksi GarudaTV bersama dengan Wihaji, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Obrolan hangat itu membawa nuansa yang lebih personal. Elly menanyakan bagaimana Wihaji melihat tantangan membangun keluarga Indonesia di tengah perubahan sosial yang cepat. “Negara kuat dimulai dari keluarga yang kuat,” jawab Wihaji tanpa ragu. Ia menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan gotong royong.

Wihaji kemudian memaparkan beberapa program unggulan kementeriannya, seperti Gerakan Keluarga Sehat Digital dan Ayah Terlibat, Anak Hebat. Dua program ini tidak hanya berbicara tentang pola asuh, tetapi juga tentang membangun kembali relasi hangat antara orang tua dan anak di tengah kesibukan digital.

“Di banyak rumah, anak-anak lebih sering berinteraksi dengan gawai daripada orang tuanya,” ujarnya. Gerakan ini mengajak keluarga untuk kembali berbicara, kembali hadir secara emosional, karena koneksi digital tak akan pernah menggantikan kedekatan batin.

Dalam konteks yang lebih luas, ia menjelaskan bahwa pembangunan manusia Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pembangunan keluarga. “Keluarga adalah institusi sosial pertama, tempat karakter bangsa dibentuk. Karena itu, setiap kebijakan kependudukan harus memandang keluarga sebagai pusat pembangunan,” kata Wihaji.

Ia juga menyinggung fenomena yang belakangan sering ramai diperbincangkan di media social, gerakan child free, di mana sebagian pasangan muda memilih untuk tidak memiliki anak. Menurut Wihaji, pemerintah tidak dalam posisi untuk menghakimi pilihan pribadi warga, namun pemerintah juga harus menjaga keberlanjutan populasi dan keseimbangan demografi nasional. “Kita sedang menghadapi bonus demografi. Kalau tidak dikelola dengan bijak, bukan hanya jumlah penduduk yang berkurang, tapi juga kualitas generasi penerus,” jelasnya.

Dari obrolan santai itu, tersirat satu pesan kuat bahwa di tengah dunia yang terus berubah, negara tetap hadir untuk menjaga agar keluarga Indonesia tidak kehilangan makna. Sebab pada akhirnya, sebagaimana dikatakan Wihaji, “Bangsa ini tidak dibangun oleh beton dan baja, tapi oleh cinta, perhatian, dan komitmen keluarga yang saling menjaga.”

Piala Adhi Praya, Simbol Penghargaan atas Dedikasi

piala adhi praya garudatv

Setelah jeda singkat, pada masing-masing sesi berlanjut pada momen yang paling dinanti yaitu penganugerahan #PialaAdhiPrayaGarudaTv. Suasana menjadi optimis ketika semua narasumber yang bicara di tiap sesi menerima penghargaan ini.

Nama ‘Adhi Praya’ sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti Kemuliaan dalam Karya. Filosofi di baliknya sederhana namun kuat. Penghargaan ini bukan hanya untuk prestasi, tetapi untuk dedikasi dan kontribusi nyata terhadap bangsa. GarudaTV memberikan penghargaan ini kepada para menteri yang sukses menjalankan program inovatif, hingga pemerintah daerah yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi rakyat.

Dalam narasi visual yang apik, penonton di auditorium dan di layar YouTube dapat merasakan bahwa penghargaan ini bukan seremonial semata. Ia adalah bentuk apresiasi terhadap kerja keras para pelaku perubahan, yang dengan tangannya membangun wajah baru Indonesia.

Setiap penerima penghargaan disambut sorak meriah dan tepuk tangan panjang. Ada rasa bangga yang mengalir di udara karena setiap capaian yang diakui adalah hasil gotong royong seluruh rakyat.

Menjelang siang, acara perlahan berakhir. Di luar auditorium, para tamu saling berbincang, beberapa mahasiswa sibuk berswafoto di depan backdrop bertuliskan #1TahunPrabowoGibran. Sebagai penonton sekaligus saksi, sulit untuk tidak merasakan kebanggaan. Satu tahun memang bukan waktu yang panjang, namun dari apa yang ditampilkan hari itu, jelas terlihat bahwa arah pemerintahan sedang bergerak menuju perubahan yang lebih nyata dan terukur.

Piala Adhi Praya GarudaTV bukan hanya simbol penghargaan, melainkan refleksi dari semangat yang tumbuh, semangat kolaborasi, inovasi, dan pengabdian. Dari ruang auditorium Universitas Tarumanagara, pesan itu menggema keluar, menembus layar YouTube, menyapa seluruh rakyat Indonesia bahwa perjalanan menuju kemajuan masih panjang tapi langkah pertama sudah diambil dengan mantap.

Dan pada hari itu, semua yang hadir bisa merasakannya bahwa satu tahun ini bukan sekadar perhitungan waktu, melainkan tonggak penting dalam perjalanan sebuah bangsa yang terus belajar, bekerja, dan tumbuh bersama.

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

One thought

Leave a Reply