COP30, Climate Diplomacy, dan Perang Melawan Hoaks Iklim

cop30
(Foto: Dok. COP30)

NININMENULIS.COM – Malam itu, udara di sekitar tempat tinggalku terasa biasa saja, tapi di layar laptopku, dunia sedang berkumpul. Dari jendela kecil bernama Zoom, wajah-wajah penuh semangat bermunculan satu per satu, mulai dari jurnalis, aktivis muda, pembuat konten, hingga seniman dari berbagai penjuru dunia. Semuanya hadir dalam satu ruang virtual yang hangat, bukan untuk membicarakan algoritma atau tren media sosial, tapi sesuatu yang jauh lebih besar: masa depan bumi.

Rabu malam waktu Indonesia, tepatnya pada 8 Oktober 2025 lalu, menjadi malam di mana percakapan lintas benua itu terasa seperti ruang kelas global. Tidak ada seragam, tidak ada papan tulis, tapi ada rasa kebersamaan yang nyata. Di tengah tawa kecil dan perkenalan singkat, satu kata terus berulang di ruang chat, COP30. Sebuah singkatan yang mungkin terdengar teknis, tapi bagi kami malam itu, COP30 bukan sekadar konferensi internasional. Ia menjadi simbol harapan, panggung besar tempat dunia akan menentukan arah langkahnya melawan krisis iklim.

Aku sempat berpikir, betapa ironisnya. Di saat sebagian orang masih berdebat soal siapa yang harus disalahkan atas banjir, kekeringan, atau suhu yang kian panas, kami di sini membicarakan bagaimana membawa pesan iklim dengan cara yang bisa menyentuh hati. Karena Climate change is not just about science, it’s about people.

Dan benar saja malam itu, dari layar kecil, kami sedang menyuarakan bumi. Dengan koneksi internet yang kadang tersendat, dengan mikrofon yang sesekali putus, tapi dengan semangat yang tak pernah padam.

Mengenal COP30, Tonggak Harapan dari Amazon

cop30
(Foto: Dok. COP30)

COP adalah singkatan dari Conference of the Parties, forum utama di bawah payung PBB yang membahas tentang perubahan iklim. Pertemuan ini dihadiri oleh hampir semua negara di dunia. Negara-negara yang menandatangani United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) sejak 1992. Tujuannya sederhana, tapi sangat berat yaitu menyelamatkan bumi dari krisis iklim melalui kesepakatan dan aksi nyata bersama.

Tahun 2025 ini, COP30 akan digelar di Belém do Pará, Brasil, tepat di jantung Amazon, paru-paru dunia yang kini juga menjadi simbol pertarungan antara harapan dan kehancuran. Lokasinya bukan kebetulan. Amazon adalah bioma penting yang menampung keanekaragaman hayati luar biasa sekaligus menyerap jutaan ton karbon dari atmosfer. Menyelamatkan Amazon berarti menjaga denyut kehidupan di seluruh planet.

Dalam forum ini, negara-negara di dunia akan meluncurkan siklus baru target iklim nasional, yang dikenal sebagai Nationally Determined Contributions (NDC). Target-target ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana dunia mau dan mampu menekan pemanasan global agar tidak melewati ambang 1,5°C, batas yang dianggap krusial oleh para ilmuwan.

Namun, di balik angka dan istilah teknis, COP bukanlah sekadar ruang negosiasi dingin antara diplomat. Ia juga menjadi panggung bagi suara-suara masyarakat sipil mulai dari aktivis, ilmuwan, pekerja budaya, dan komunikator yang berjuang agar pesan tentang iklim bisa menembus batas birokrasi dan sampai ke hati publik.

Diplomasi Iklim dan Makna Kolaborasi

cop30
(Foto: Dok. Pribadi)

Sesi malam itu dibuka oleh Cinthia Leone, koordinator Climate Diplomacy dari ClimaInfo. Dengan suara tenang tapi tegas, ia menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan di COP membentuk arah kebijakan global. Dari Kyoto Protocol (1997) yang pertama kali menetapkan target pengurangan emisi, Paris Agreement (2015) yang menegaskan komitmen global untuk menahan kenaikan suhu bumi, hingga Loss and Damage Fund yang disepakati di COP27 untuk membantu negara-negara rentan menanggung dampak perubahan iklim.

“Keputusan di COP bisa memengaruhi bagaimana bank memberi pinjaman, bagaimana perusahaan menanam modal, dan bagaimana pemerintah membuat kebijakan publik. Mungkin semuanya terdengar jauh dari kehidupan kita sehari-hari, tapi semua itu berdampak nyata pada harga bahan bakar hingga pola tanam petani di desa,” ujarnya.

Kalimat itu menampar kesadaranku. Climate diplomacy bukan sekadar urusan menteri dan negosiator, tapi tentang masa depan manusia biasa, mulai dari petani, nelayan, pelajar, hingga orang-orang yang mungkin tak pernah mendengar istilah NDC sekalipun. Cinthia mengingatkan kami bahwa krisis iklim adalah juga krisis komunikasi. “Kita butuh lebih banyak orang yang bisa menjembatani data dengan perasaan,” katanya.

Seiring dengan mendekatnya November, COP30 menjadi sorotan utama dunia. Banyak pihak menyebutnya sebagai turning point penting setelah serangkaian konferensi sebelumnya. Di COP28, dunia telah melakukan Global Stocktake, penilaian menyeluruh terhadap capaian Paris Agreement. Hasilnya jelas, dunia belum di jalur yang tepat.

Itulah sebabnya COP30 di Brasil menjadi panggung untuk memulai babak baru. Negara-negara diminta memperbarui komitmen NDC mereka agar lebih ambisius dan realistis. Ada juga ekspektasi besar terhadap Baku-Belém Roadmap, peta jalan pendanaan senilai US$1,3 triliun yang diharapkan bisa memperkuat Adaptation Indicators dan mempercepat transisi energi yang adil.

Namun, seperti diakui banyak pembicara, tantangannya tidak kecil. Di tengah ketegangan geopolitik, harga energi yang fluktuatif, serta kepentingan ekonomi jangka pendek, sulit bagi semua negara untuk bersepakat. Tapi di sinilah kekuatan COP untuk menciptakan ruang negosiasi yang mungkin tidak sempurna, tapi tetap menjadi satu-satunya tempat di mana semua pihak duduk bersama demi masa depan bersama.

Bagi Brasil sebagai tuan rumah, tanggung jawabnya besar. Negeri ini berjanji menghapus deforestasi pada 2030 dan melindungi bioma Amazon, Cerrado, serta Pantanal. Namun tekanan juga datang dari dalam negeri, dari kepentingan industri minyak hingga tarik ulur politik di parlemen. Seperti yang disampaikan Cinthia Leone, “Menjadi tuan rumah berarti menjadi contoh. Dunia menunggu aksi nyata, bukan hanya pidato.”

Dari Brasil ke Dunia

cop30
(Foto: Dok. COP30)

COP bukanlah pesta pejabat atau ruang konferensi penuh jargon teknis. Ia adalah panggung tempat nasib bumi dinegosiasikan, setengahnya lewat data lalu setengahnya lagi lewat empati. Setiap kalimat yang disepakati di sana bisa menentukan arah dunia bergerak mulai dari investasi energi, perdagangan karbon, hingga konsep climate justice atau keadilan iklim.

Dan di tahun ini, semua mata tertuju pada Brasil. Tapi gema pertemuan itu tak berhenti di Amazon. Ia menyeberang samudra, menembus langit tropis Asia Tenggara, sampai ke desa-desa di Indonesia. Karena apa yang diputuskan di Belém akan bergaung juga ke hutan-hutan di Kalimantan, Papua, dan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara.

Bagi Indonesia, isu iklim bukanlah teori, melainkan realitas sehari-hari. Kita hidup di negeri yang begitu kaya sumber daya alam, tapi juga rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Petani di Subang harus mengubah pola tanam karena hujan datang tak menentu. Nelayan di Sulawesi Selatan mengeluh karena ikan makin sulit ditemukan akibat suhu laut naik. Di pesisir Demak, rumah-rumah hilang ditelan laut, sementara di Riau, asap dari kebakaran lahan kembali membubung setiap musim kemarau panjang.

Aku jadi teringat betapa banyak cerita dari tanah air yang sebenarnya bisa menggema di panggung dunia, jika saja kita terus bersuara. Misalnya, kisah komunitas adat di Kalimantan Tengah yang menanam pohon di lahan bekas tambang, atau gerakan anak muda di Flores yang mengumpulkan sampah plastik dari pantai dan menjadikannya karya seni. Semua itu adalah bentuk diplomasi juga. Diplomasi yang lahir bukan dari meja perundingan, tapi dari hati yang mencintai bumi.

Karena dalam hakekatnya, Indonesia termasuk negara dengan peran strategis di meja perundingan COP. Sebagai salah satu pemilik hutan tropis terbesar dan penghasil emisi signifikan dari sektor energi dan deforestasi, Indonesia membawa dua wajah yakni penjaga paru-paru dunia, sekaligus negara yang harus menata ulang kebijakan ekonominya agar tetap hijau.

Cinthia Leone sempat mengatakan dalam sesinya, “Brasil dan Indonesia punya banyak kesamaan, dua negara megabiodiversitas yang sama-sama memikul tanggung jawab besar.” Bedanya hanya konteks politik dan ekonomi, tapi tantangannya serupa yakni bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian.

Disinformasi Iklim, Musuh yang Tak Terlihat

cop30
(Foto: Dok. FALA)

Sesi berikutnya menghadirkan Thaiz Lazzeri dan Rafael de Pino, tim dari FALA Agency, studio komunikasi sosial asal Brasil yang meneliti penyebaran misinformasi di media sosial. Hasil riset mereka cukup mengejutkan bahwa jutaan unggahan di berbagai platform setiap bulannya mengandung narasi palsu tentang perubahan iklim. Ada yang menyebut pemanasan global hanyalah agenda politik, ada yang menuding kebijakan energi hijau sebagai konspirasi ekonomi, bahkan ada yang mengklaim bahwa bumi sedang mendingin.

Masalahnya, disinformasi ini menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya. Algoritma media sosial bekerja dengan cara sederhana, semakin sensasional, semakin viral. Maka tidak heran jika banyak orang justru mempercayai video dengan judul provokatif ketimbang laporan ilmiah dari IPCC.

Indonesia tidak kebal dari fenomena ini. Kita sering menemui unggahan yang menertawakan aktivis lingkungan, menyebarkan mitos bahwa menanam pohon tidak ada gunanya, atau menyebut perubahan iklim sebagai ‘hoaks barat’. Padahal dampaknya nyata, dan kita sendiri yang mengalaminya setiap hari.

“Kita tidak hanya bertugas menyebarkan informasi, tapi juga menjaga agar informasi itu tetap benar,” ujar Rafael de Pino. Thaiz Lazzeri juga membagikan kiat praktis agar para pembuat konten bisa lebih waspada terhadap disinformasi.

Pertama, selalu cek sumber apakah berasal dari lembaga resmi atau media kredibel. Kedua, hindari membagikan ulang informasi yang belum diverifikasi, meskipun tampak meyakinkan. Ketiga, pelajari konteks. Isu iklim sering kali disalahartikan karena dipotong dari keseluruhan cerita. Dan terakhir, kolaborasi. Lawan terbesar misinformasi adalah komunitas yang saling menguatkan dan terbuka pada koreksi.
.
Salah satu inspirasi datang dari Laila Zaid, seorang aktris dan salah satu influencer terbesar di Brazil yang media sosialnya menjangkau lebih dari 3 juta pengguna setiap bulannya. Ia bercerita bagaimana dirinya menggabungkan narasi, strategi, dan aksi nyata untuk membangun masa depan yang lebih adil melalui unggahan.

“Setiap cerita punya kekuatan. Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah kebijakan, tapi kita bisa mengubah cara orang melihat dunia,” katanya. Kalimat itu terasa menancap dalam. Mungkin inilah bentuk diplomasi baru, bukan lewat meja bundar antarnegara, tapi lewat video, tulisan, dan karya seni yang menggerakkan hati.

Ketika dunia berbicara tentang transisi energi dan perdagangan karbon, kita kadang lupa bahwa di balik semua itu ada kebutuhan dasar yaitu komunikasi yang jujur dan inklusif. Para Eco Blogger, influencer, dan jurnalis independen punya peran besar dalam membentuk opini publik. Mereka bukan hanya penerus informasi, tapi penerjemah. Mereka membuat isu rumit menjadi bisa dimengerti, dan isu jauh terasa dekat.

Di Indonesia, gerakan ini sudah mulai terasa. Banyak pembuat konten yang menulis tentang gaya hidup ramah lingkungan, membuat kampanye pengurangan plastik, atau mempopulerkan istilah seperti ‘jejak karbon’ di media sosial. Tapi tantangannya masih sama, bagaimana memastikan pesan yang disebarkan tetap akurat di tengah banjir informasi yang membingungkan?

Rafael de Pino juga memberi tips sederhana, speak up, but stay factual. Gunakan sumber resmi seperti UNFCCC, IPCC, atau laporan kementerian lingkungan hidup. Jangan tergoda membagikan informasi yang belum diverifikasi, dan jangan takut mengakui kesalahan jika pernah salah. Dalam perang melawan hoaks, kerendahan hati adalah bentuk keberanian.

COP30 di Brasil mungkin akan menjadi momen penting dalam sejarah aksi iklim dunia. Tapi bagi banyak dari kami malam itu di Zoom, pertemuan itu bukan hanya tentang dokumen internasional atau target emisi. Ia tentang kesadaran baru bahwa diplomasi iklim tidak hanya terjadi di ruang rapat, tapi juga di ruang-ruang kecil di blog, di media sosial, di ruang kelas, hingga di warung kopi. Karena sejatinya COP bukan milik diplomat. COP milik semua orang yang peduli.

Dan aku sepakat. COP bukan garis finis, tapi titik awal. Setelah setiap konferensi, tugas kita adalah memastikan janji-janji itu berubah menjadi kebijakan nyata. Dan kebijakan itu terasa dalam kehidupan manusia, bukan hanya berhenti di laporan negara saja.

Karena menyelamatkan bumi bukan sekadar tentang menanam pohon atau mengurangi plastik. Ia juga tentang menjaga kebenaran, menyebarkan harapan, dan memastikan cerita tentang masa depan tetap bisa diceritakan. Bahkan jika itu dimulai dari layar kecil di ruang kerja yang sederhana, di tengah malam yang sunyi, ketika dunia sedang berkumpul untuk satu hal yang sama, bertahan.

Ketika dunia menatap Amazon di bulan November, aku tahu banyak dari kita di Indonesia yang mungkin hanya bisa menyaksikan lewat berita. Tapi percakapan malam itu membuatku percaya, setiap tulisan, setiap unggahan, dan setiap obrolan tentang bumi bisa menjadi bagian kecil dari perubahan besar. Karena diplomasi iklim bukan hanya tentang siapa yang duduk di meja konferensi, tapi siapa yang terus bersuara dengan hati, data, dan harapan.

Dan selama masih ada orang yang peduli, bumi masih punya alasan untuk bertahan.

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

7 thoughts

  1. Saat kondisi bumi sudah tidak baik baik saja semoga tidak terlambat untuk berjuang mencari solusinya
    Berharap anak cucu kelak tidak terkena dampak bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim ini

  2. COP 30 di Brasil membuka mata dan telinga seluruh umat manusia di dunia untuk lebih mencitai bumi dan waspada akan perubahan iklim di masing-masing negara. Deforestasi, irigasi dan lain sebagainya harus lebih digalakkan dan diterapkan sungguh-sungguh agar dapat mengurangi musibah alam yang sebenarnya akibat ulah manusia itu sendiri.

  3. Jujur agak sedih membaca kalimat “nasib bumi dinegosiasikan” soalnya hal seperti itu bisa terjadi karena banyak yang cuek soal keberlangsungan/ keberadaan hutan. Terutama di Indonesia yaaa, keknya pemerintahnya gagal banget menjaga kelestarian hutannya pakai dalih pembangunan.
    Aku pribadi berharap COP30 di Brasil punya dampak juga buat menekan pemerintah kita untuk meninjau kembali kebijakannya terkait lingkungan hidup, supaya hutan2 di Indonesia yang berkurang banyak ini nggak makin dibabati lagi. Soalnya kalau hutan gundul tu yang rugi ya kita2 sendiri ya.

  4. Setuju, isu iklim itu memang bukan cuma soal data dan ilmuwan, tapi tentang kita semua dan cara kita berkomunikasi.

    Poin soal perang melawan hoaks iklim itu relatable banget. Kadang effort untuk klarifikasi jauh lebih besar daripada sebar hoaksnya. Semoga COP30 di Amazon benar-benar jadi titik balik yang membawa janji-janji itu jadi aksi nyata. Keep up the great work!

  5. COP 30 ini emang bukan urusan satu atau dua negeri aja, tapi seluruh dunia sedang menatap Brazil. Semua ini menyangkut masa depan manusia. Negara-negara diminta memperbarui komitmen NDC sih ya, biar isu iklim ngga cuma janji manis aja. Tentu saja menyangkut Indonesia juga dampaknya.

Leave a Reply