NININMENULIS.COM – Film sejarah Korea Selatan selalu punya tempat khusus di hati penonton, terutama bagi mereka yang menyukai kisah kerajaan, intrik politik, dan tragedi emosional yang membekas lama setelah kredit penutup berjalan. Tahun 2026, sutradara Jang Hang-jun kembali ke layar lebar lewat film terbaru berjudul The King’s Warden, sebuah drama sejarah yang mengangkat salah satu bab paling kelam dalam Dinasti Joseon.
Berbeda dari film kerajaan Korea pada umumnya yang banyak berfokus pada perebutan takhta, peperangan, atau pengkhianatan politik, The King’s Warden memilih jalan yang lebih sunyi dengan menyoroti ruang kosong dalam sejarah, yaitu masa pengasingan Raja Danjong di pegunungan setelah ia kehilangan takhtanya.
Dan justru di situlah kekuatan film ini. Alih-alih menyajikan kisah sejarah yang dingin dan penuh fakta kaku, The King’s Warden menghadirkan sebuah narasi yang hangat, manusiawi, dan menyentuh, tentang bagaimana seorang raja muda yang kehilangan segalanya menemukan arti hubungan antarmanusia di tempat yang paling tidak terduga.
Film ini bukan hanya tentang seorang raja yang jatuh. Ini tentang kesepian, kehilangan, perlindungan, dan keberanian orang-orang biasa yang memilih berdiri di sisi yang benar, meski nyawa menjadi taruhan.
Dengan latar tahun 1457, film ini mengambil setting setelah Raja Danjong of Joseon digulingkan dari takhta. Dalam sejarah Korea, Danjong dikenal sebagai raja muda yang bernasib tragis. Naik tahta di usia yang sangat muda, pemerintahannya hanya berlangsung tiga tahun sebelum direbut oleh pamannya sendiri, Sejo of Joseon.
Setelah dilengserkan, Danjong diasingkan ke daerah terpencil sebelum akhirnya dibunuh. Sejarah mencatat akhir hidupnya, tetapi tidak banyak yang diketahui tentang bagaimana hari-hari terakhirnya dijalani. Dan celah inilah yang dimanfaatkan Jang Hang-jun untuk membangun cerita.
Film ini membayangkan bagaimana kehidupan Danjong selama pengasingan berlangsung. Bagaimana ia berinteraksi dengan rakyat biasa. Bagaimana rasa takut, marah, dan kehilangan perlahan berubah menjadi hubungan yang tulus. Itulah yang membuat The King’s Warden terasa berbeda.
Contents


