Ritual Rambut Sewu — Kamar 7 Rumah Sakit Jiwa Grhasia, Pinggiran Yogyakarta

ritual rambut sewu

Rumah Sakit Jiwa Grhasia, Pinggiran Yogyakarta

I. Yang Hanya Bisa Dilihat Dito

Namaku Dito.
Umurku delapan tahun.
Dan aku tahu satu hal yang tidak diketahui oleh siapapun di Rumah Sakit Jiwa Grhasia ini — termasuk dokter-dokter dengan jas putih mereka, termasuk suster-suster yang jaga malam dengan langkah kaki yang selalu terburu-buru, termasuk pasien-pasien di kamar-kamar yang pintunya dikunci dari luar :
Di rumah sakit ini, yang hidup lebih sedikit dari yang kelihatan.
Dan yang mati lebih banyak dari yang dicatat.

Aku bisa melihat mereka sejak kecil — sejak usia empat tahun, kata Ibu, waktu aku mulai berbicara kepada sudut-sudut ruangan yang kosong dan tertawa pada sesuatu yang tidak ada di langit-langit kamarku.
Ibu pikir aku autis.
Dokter pertama bilang gangguan bicara.
Dokter kedua bilang skizofrenia onset dini.
Dokter ketiga — dokter yang sekarang merawatku di sini, di Grhasia, di kamar nomor tujuh yang jendelanya dilapisi jeruji dan catnya mengelupas dalam bentuk yang kalau kamu lihat cukup lama mulai mirip wajah — dokter ketiga itu bilang aku mengalami gangguan persepsi realita yang parah.
Mereka semua salah.
Yang benar adalah ini : aku bisa melihat yang tidak terlihat.
Dan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia, Yogyakarta — ada sangat, sangat banyak yang tidak terlihat.

II. Perempuan di Koridor

Yang pertama kali aku lihat di sini adalah perempuan di koridor lantai dua.
Bukan pasien. Bajunya bukan seragam pasien — bukan yang putih kusam dengan nama ditulis spidol di dada kiri. Bajunya kebaya hitam, lusuh, dengan rambut panjang yang terurai sampai lantai dan menyapu ubin putih kotor itu tanpa suara.
Dia berdiri di ujung koridor, menghadap dinding.
Setiap malam.
Selalu di posisi yang sama — tiga langkah dari pintu tangga darurat, menghadap tembok yang tidak ada apa-apanya di sana kecuali retakan cat tua berbentuk cabang pohon.
Aku tidak takut padanya. Sudah terlalu banyak yang seperti dia yang aku lihat sepanjang hidupku untuk masih merasa takut.
Yang membuatku penasaran bukan dia.
Yang membuatku penasaran adalah tangannya.
Tangannya bergerak terus — jari-jarinya, lebih tepatnya. Seperti menghitung sesuatu. Seperti orang yang sedang memilin benang, atau menggulung sesuatu yang sangat tipis, atau —
Atau memisahkan helai rambut satu per satu.

Di malam ketiga aku di sini, aku memberanikan diri mendekatinya.
Suster jaga sudah tertidur di meja — hal yang selalu terjadi di atas jam dua belas malam di sini, hal yang semua pasien tahu tapi tidak pernah dilaporkan karena untuk apa.
Aku berjalan dengan kaus kaki di lantai ubin supaya tidak bersuara.
Semakin dekat, semakin jelas tangannya — dan aku benar. Dia sedang memisahkan sesuatu. Sesuatu yang tidak kelihatan dari jauh tapi dari jarak dua meter mulai terlihat : helai-helai rambut hitam panjang, dikumpulkan di telapak tangan kirinya, dipisahkan satu per satu dengan tangan kanan, lalu diletakkan di lantai di depan kakinya.
Di lantai, sudah ada tumpukan kecil rambut hitam.
Aku hitung — terlalu banyak untuk dihitung dengan cepat.
Ratusan helai.
Mungkin lebih.
Aku berdiri di belakangnya.
Dan dalam bisikan yang sangat pelan — bisikan yang tidak melewati udara, bisikan yang aku rasakan langsung di dalam kepalaku seperti ada yang menekan dari dalam — dia bilang :
“Dito. Kamu terlambat dua hari.”

III. Tentang Kamar 7 dan Penghuninya

Aku di Grhasia bukan tanpa alasan.
Ibu membawaku ke sini enam bulan lalu — setelah kejadian di rumah yang tidak akan aku ceritakan detail kecuali satu hal : aku melihat sesuatu di rumah kami di Kotagede yang membuatku berlari keluar rumah jam dua pagi dan tidak mau masuk lagi selama tiga hari.
Bukan karena yang aku lihat itu menakutkan.
Tapi karena yang aku lihat itu adalah diriku sendiri — berdiri di sudut kamarku, memandangi tempat tidurku yang kosong, dengan ekspresi orang yang sudah lama menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.
Aku ceritakan ini ke Ibu.
Ibu menangis.
Dua minggu kemudian aku di kamar nomor tujuh Grhasia dengan diagnosis gangguan persepsi realita yang parah.

Kamar tujuh adalah kamar ujung. Paling jauh dari pos suster. Paling dekat ke tangga darurat yang tidak pernah dipakai siapapun karena gembok di pintunya sudah berkarat sejak — kata Pak Hardi, petugas kebersihan tua yang selalu menyapu koridor jam lima pagi — sejak ada pasien yang entah bagaimana membuka gembok itu dan jatuh dari lantai tiga dua belas tahun lalu.
Pak Hardi tidak pernah bilang apa yang terjadi pada pasien itu.
Aku tidak perlu tanya.
Karena pasien itu — perempuan muda, rambut pendek sebahu, baju pasien putih dengan nama di dada kiri yang sudah terlalu pudar untuk dibaca — masih duduk di anak tangga teratas tangga darurat itu setiap sore, memandangi pintu berkarat yang sudah tidak bisa dibuka lagi.
Dia bukan yang berbaju kebaya hitam.
Di Grhasia, ada banyak yang tidak terlihat.

IV. Nama yang Tidak Boleh Disebut Dua Kali

Di hari kesepuluh, perempuan kebaya hitam akhirnya berbalik.
Aku melihat wajahnya untuk pertama kali.
Tua. Sangat tua — tapi bukan tua yang biasa, tua yang membuat orang terlihat kecil dan lemah. Tua yang membuat orang terlihat seperti batu yang sudah sangat lama ada sebelum segalanya yang ada di sekitarnya dibangun, dan akan tetap ada setelah semuanya runtuh.
Matanya tidak putih. Tidak hitam. Warna yang tidak ada namanya dalam bahasa apapun yang aku tahu.
Dia menatapku lama.
Lalu dia bilang — masih dengan suara yang langsung masuk ke dalam kepalaku tanpa melewati udara :
“Kamu bisa melihat saya karena saya mengizinkan. Bukan karena kamu istimewa.”
Aku diam.
“Tapi ada satu hal yang hanya bisa dilihat oleh anak yang belum sepenuhnya di sini.”
Aku tidak mengerti.
“Belum sepenuhnya di sini,” dia ulang. “Antara. Seperti kamu.”
“Saya sepenuhnya di sini,” aku bilang. “Saya anak kecil. Saya pasien kamar tujuh.”
Perempuan itu tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Dito,” katanya. “Kapan terakhir kali ada suster yang menyebut namamu langsung?”
Aku hendak menjawab — tapi aku berhenti.
Karena aku coba mengingat.
Dan aku tidak bisa.

V. Ritual yang Tidak Pernah Berhenti

“Nama saya Mbah Siti,” perempuan itu akhirnya bilang. “Saya tinggal di sini sejak 1987.”
Grhasia dibangun tahun 1938. Jadi itu mungkin saja.
“Saya tidak tinggal sebagai pasien,” dia lanjutkan, seolah membaca pikiranku. “Saya tinggal karena saya belum selesai.”
“Belum selesai apa?”
Dia menunjuk lantai — ke tumpukan rambut yang sudah dikumpulkannya selama berhari-hari di depan dinding itu.
“Menghitung.”
Aku lihat tumpukan itu lebih seksama. Lebih besar dari yang aku kira sebelumnya. Jauh lebih besar.
“Itu rambut siapa?”
“Rambut semua orang yang pernah menjalankan Ritual Rambut Sewu Wengi dan tidak menyelesaikannya dengan benar,” kata Mbah Siti. “Saya yang mengumpulkan. Sudah tiga puluh tujuh tahun. Setiap malam.”
“Kenapa?”
“Karena saya yang mengajarkan ritual itu kepada mereka.”
Dia berhenti sebentar.
“Dan karena saya yang harus menanggung rambut mereka sampai hitungannya genap seribu dari setiap orang. Baru saya bisa pergi.”
“Pergi ke mana?”
Mbah Siti tidak menjawab pertanyaan itu.
Sebagai gantinya dia bilang :
“Dito. Ada satu orang di rumah sakit ini yang rambutnya belum genap. Satu orang yang ritualnya tidak selesai dan sekarang terjebak antara — persis seperti kamu. Dan kamu harus membantuku menemukan rambut yang kurang.”
“Berapa yang kurang?”
Mbah Siti menatapku dengan mata yang warnanya tidak ada namanya itu.
“Tujuh ratus empat puluh tiga helai.”

VI. Keliling Kamar-kamar

Kami mulai dari lantai satu.
Mbah Siti berjalan di depan — atau lebih tepatnya, meluncur, karena rambutnya yang sampai lantai itu tidak pernah tersangkut apapun meski kami melewati sudut-sudut sempit dan melewati pintu-pintu yang setengah terbuka.
Aku mengikuti di belakang dengan kaus kaki di kaki supaya tidak bersuara.
Di kamar satu : perempuan tua yang tidur dengan mata terbuka. Di sudut kamarnya berdiri laki-laki berbaju lurik yang memandangi perempuan itu dengan ekspresi yang tidak bisa aku namakan. Mbah Siti lewat tanpa menoleh.
Di kamar dua : kosong. Tapi tempat tidurnya menyentuh-nenyentuh sendiri — kasur ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat, lalu dilepas, ditekan lagi, dilepas lagi. Seperti ada anak kecil yang melompat-lompat di atasnya. Mbah Siti berhenti sebentar, menoleh ke arah tempat tidur itu, lalu menggeleng kecil dan melanjutkan jalan.
Di kamar tiga, empat, lima, enam : bukan yang kami cari.
Di kamar tujuh —
Mbah Siti berhenti total.
Aku hampir menabrak punggungnya.
“Ini kamarmu,” kata Mbah Siti.
“Iya.”
“Masuk.”
Aku dorong pintu kamar tujuh.
Di dalam, tempat tidur di dekat jendela — tempat tidurku — ada seseorang yang tidur di bawah selimut tipis rumah sakit.
Aku melangkah masuk.
Aku lihat lebih dekat siapa yang tidur di sana.
Dan dunia di sekitarku berhenti berputar.

Yang tidur di tempat tidur itu adalah aku.
Aku — dengan piyama rumah sakit yang sama, dengan rambut yang dipotong pendek oleh suster dua minggu lalu karena kata dokter lebih mudah dirawat, dengan plester kecil di lengan kanan bekas infus yang dipasang waktu aku masuk pertama kali.
Aku yang tidur di sana tidak bergerak.
Dadanya naik turun — sangat pelan, lebih pelan dari napas tidur yang normal.
“Mbah,” aku bilang, dan suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri — terlalu jauh, seperti suara dari ujung koridor panjang. “Itu siapa?”
Mbah Siti tidak menjawab langsung.
Dia masuk ke kamar. Berdiri di sisi tempat tidur. Memandangi aku yang tidur di sana dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — terlihat seperti duka.
“Kamu ingat,” kata Mbah Siti pelan, “waktu kamu bilang kamu melihat dirimu sendiri berdiri di sudut kamarmu di Kotagede?”
“Iya.”
“Yang berdiri di sudut itu bukan dirimu.”
Aku tunggu.
“Yang berdiri di sudut itu adalah kamu yang sedang mencari jalan kembali. Yang tidur di tempat tidurmu waktu itu — yang kamu lihat dari sudut — itu juga kamu.”
“Aku tidak mengerti.”
Mbah Siti berbalik menatapku.
“Dito. Kamu ingat bagaimana kamu sampai di sini?”
Aku berpikir.
Aku ingat Ibu menangis. Aku ingat mobil. Aku ingat masuk pintu besar Grhasia. Aku ingat —
Aku ingat sampai di pintu gerbang.
Sesudah itu —
Tidak ada.

VII. Rambut yang Kurang

“Ibumu pernah menjalankan Ritual Rambut Sewu Wengi,” kata Mbah Siti. “Dua belas tahun lalu. Sebelum kamu lahir.”
Ruangan terasa berputar.
“Dia minta satu hal kepada ritual itu : seorang anak. Dia sudah lama tidak bisa punya anak. Dia minta dengan cara yang tidak seharusnya diminta.”
“Dan ritual itu mengabulkan.”
“Ya.”
“Aku.”
“Ya.”
Aku duduk di lantai. Kakiku tidak bisa menopang lagi.
“Tapi ritual yang tidak diselesaikan dengan benar selalu menagih,” lanjut Mbah Siti. “Dan tagihan untuk ritual Ibumu datang tepat di hari ulang tahunmu yang kedelapan. Karena delapan dalam kalender Jawa adalah angka penutupan siklus.”
“Tagihan apa?”
Mbah Siti menatapku lama.
“Kamu, Dito.”
Keheningan.
“Kamu dibawa kembali pada hari ulang tahunmu yang kedelapan. Bukan ke rumah sakit ini. Ritual itu tidak mengenal rumah sakit. Kamu dibawa ke antara. Dan yang ada di tempat tidur kamar tujuh itu — yang napasnya sangat pelan dan tidak pernah membuka mata — itu hanya bayangan yang tersisa. Cukup untuk membuat Ibumu merasa kamu masih ada.”
Aku lihat ke tempat tidur.
Aku — bayangan aku — masih tidur di sana. Masih. Dengan plester kecil di lengan kanan dan piyama rumah sakit dan rambut pendek yang dipotong suster.
“Lalu kenapa aku bisa jalan-jalan di koridor ini?”
“Karena kamu antara. Kamu bisa ke dua sisi. Sampai hitungannya genap.”
“Hitungan rambut.”
“Ya. Tujuh ratus empat puluh tiga helai yang kurang — itu rambut Ibumu. Yang tidak pernah dia kumpulkan karena ritualnya tidak selesai. Kalau genap — siklus tertutup. Tagihan lunas.”
“Dan aku?”
Mbah Siti diam.
“Mbah. Kalau tagihannya lunas — aku kenapa?”

Mbah Siti tidak menjawab pertanyaan itu.
Sebagai gantinya, dia mengulurkan tangannya — telapak tangan kiri yang selama ini mengumpulkan rambut — ke arahku.
Di atasnya ada tujuh ratus empat puluh tiga helai rambut hitam yang sudah dihitung.
Semua helai itu bergerak pelan meski tidak ada angin.
“Pegang,” kata Mbah Siti.
“Kenapa?”
“Karena kamu satu-satunya yang bisa membawanya ke tempat yang benar. Kamu antara, Dito. Kamu bisa menyeberang ke dua sisi. Dan di sisi yang satu lagi — di sisi tempat ritual Ibumu seharusnya diselesaikan — ada yang menunggu helai-helai ini.”
“Kalau aku membawanya ke sana —”
“Kamu tidak akan kembali ke sini.”
“Tapi aku akan —”
“Ya.”
Satu kata.
Tapi maknanya memenuhi seluruh ruangan kamar tujuh yang kecil dan bau obat dan catnya mengelupas dalam bentuk yang mirip wajah itu.

VIII. Yang Dito Pilih

Aku berdiri di depan tempat tidur kamarku sendiri.
Memandangi bayangan diriku yang tidur di sana — yang ada untuk membuat Ibu merasa aku masih ada, yang ada untuk membuat dokter bisa menulis laporan, yang ada karena ritual yang seharusnya tidak pernah dilakukan dua belas tahun lalu.
Aku pikir tentang Ibu.
Tentang cara dia duduk di kursi di sudut kamar ini setiap hari Minggu — karena hari Minggu adalah hari kunjungan — dan memegang tangan bayangan aku yang tidak pernah menjawab, dan berbicara tentang hal-hal kecil : tentang kucing tetangga yang melahirkan, tentang pohon mangga di halaman belakang yang mulai berbuah, tentang betapa dia menunggu aku pulang.
Tentang cara Ibu, setiap kali hendak pergi, selalu menunduk dan mencium dahi bayangan aku itu, dan bisik sesuatu yang tidak pernah bisa aku dengar dari jarak manapun.
Aku pikir tentang itu semua.
Dan kemudian aku ulurkan tanganku.
Menyentuh tangan Mbah Siti.
Mengambil tujuh ratus empat puluh tiga helai rambut itu.

Saat jari-jariku menutup di sekeliling helai-helai rambut itu, sesuatu berubah di kamar tujuh.
Bukan sesuatu yang bisa dilihat. Bukan suara. Bukan cahaya.
Tapi bayangan aku di tempat tidur — napasnya yang selama ini sangat pelan — berhenti.
Satu detik. Dua detik.
Lalu mulai lagi. Lebih dalam. Lebih nyata. Lebih seperti napas manusia yang sungguhan dan bukan bayangan.
Tangannya bergerak — untuk pertama kalinya sejak aku melihatnya di sini.
Menggenggam selimut.
Perlahan.
Seperti orang yang baru kembali ke dalam tubuhnya setelah lama tidak ada di sana.

“Pergi sekarang,” bisik Mbah Siti. “Sebelum kamu berubah pikiran.”
Aku tidak berbalik.
Aku berjalan ke arah pintu kamar — tapi bukan pintu yang tadi aku masuk.
Pintu yang satunya. Yang tidak ada di dinding kamar manapun sebelumnya.
Yang baru ada sekarang.
Yang di baliknya tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa yang bisa aku kenali.
Tapi di baliknya — aku tahu tanpa tahu bagaimana aku bisa tahu — di baliknya ada tempat di mana tujuh ratus empat puluh tiga helai rambut itu harus dikembalikan. Dan setelah itu tidak ada lagi yang harus diselesaikan.
Tidak ada lagi tagihan.
Tidak ada lagi antara.

Aku buka pintu itu.
Dan sebelum aku masuk, aku dengar satu hal terakhir dari dalam kamar tujuh.
Suara yang aku kenali lebih dari suara apapun di dunia.
Suara Ibu — dari hari Minggu mendatang yang belum terjadi, dari kunjungan yang belum datang — bisik sesuatu ke telinga bayangan aku yang sekarang mulai sungguhan.
Kata-kata yang selama ini tidak pernah bisa aku dengar.
“Dito. Nak. Maafkan Ibu.”

Aku masuk ke balik pintu.
Pintu itu menutup.
Di kamar tujuh, anak laki-laki delapan tahun membuka matanya untuk pertama kali dalam enam bulan.
Suster yang lewat di depan kamar berhenti. Melongok. Berlari memanggil dokter.
Dokter datang. Memeriksa. Mencatat sesuatu di clipboard dengan tangan yang sedikit gemetar karena hal seperti ini tidak ada dalam textbook manapun.
Di dinding kamar tujuh, di tempat cat yang mengelupas dalam bentuk mirip wajah itu —
Retakannya sudah tidak ada.
Catnya halus. Bersih.
Seperti baru dicat semalam.

Di koridor lantai dua, di depan dinding yang selama tiga puluh tujuh tahun menjadi tempat berdirinya seorang perempuan tua berbaju kebaya hitam —
Tidak ada siapapun.
Lantainya bersih.
Tidak ada satu helai rambut pun.

Dan di suatu tempat yang tidak punya nama dalam bahasa apapun —
seorang anak laki-laki delapan tahun meletakkan tujuh ratus empat puluh tiga helai rambut di tanah.
Menghitung sampai habis.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang singkat —
tidak melihat apapun lagi.
Hanya gelap.
Hanya tenang.
Hanya selesai.

— TAMAT —

Rekam medis Pasien Anak — Kamar 7, RSJ Grhasia Yogyakarta: Nama: Aditya R. / “Dito” / Usia: 8 tahun Catatan dr. Prasetyo, 14 November 2007: “Pasien mengalami pemulihan kesadaran mendadak tanpa intervensi medis yang dapat dijelaskan. Sebelumnya tidak responsif selama 6 bulan. EEG, tekanan darah, dan semua indikator vital kembali normal dalam hitungan jam. Tidak ada penjelasan klinis yang memadai. Satu hal aneh yang tidak akan saya masukkan ke laporan resmi: Waktu saya periksa pasien pagi itu — rambutnya. Enam bulan tidak dipotong sejak terakhir suster memotongnya. Seharusnya sudah panjang. Tapi panjangnya persis sama dengan hari terakhir dipotong. Seperti tidak pernah tumbuh. Atau seperti sudah tumbuh — dan kemudian diambil.”

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply