
NININMENULIS.COM – “Uang yang hanya disimpan di dalam celengan atau rekening biasa belum tentu aman. Diam-diam, nilainya bisa terus berkurang dan tergerus oleh ganasnya inflasi.”
Kalimat di atas terus terngiang di kepala bahkan setelah lampu aula acara dipadamkan. Kalimat tersebut bukan sekadar jargon tanpa makna, melainkan sebuah realitas pahit yang sering kali diabaikan oleh generasi muda saat ini. Kita sering kali merasa sudah berada di zona aman ketika memiliki saldo tabungan yang cukup. Padahal, tanpa disadari, daya beli dari nilai uang tersebut perlahan-lahan menyusut akibat kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi secara masif setiap tahunnya.
Pesan mendalam mengenai pentingnya literasi keuangan generasi muda ini didapatkan langsung saat menghadiri talkshow interaktif bertajuk Financial Literacy on The Way: Finansial Mandiri Dimulai Hari Ini. Acara edukatif ini diselenggarakan oleh Kompasiana bersama Pegadaian Peduli, bertempat di The GADE Creative Lounge, Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, Tangerang Selatan.
Bersama rekan-rekan blogger dan ratusan mahasiswa PKN STAN, diskusi ini berhasil membuka sudut pandang baru yang lebih segar mengenai arti penting dari kemandirian finansial sejak dini.
Sebagai catatan, PKN STAN menjadi titik krusial dalam rangkaian edukasi ini, setelah sebelumnya sukses digelar di Universitas Lampung (Unila) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Berada di lingkungan kampus yang dikenal sebagai rahim lahirnya para calon pengelola keuangan negara memberikan atmosfer yang sangat berbeda. Semangat belajar para mahasiswa begitu membara, terutama ketika para narasumber mulai menguliti persoalan finansial riil yang dihadapi oleh Generasi Z dan Milenial saat ini.
Contents
Mengapa Literasi Keuangan Penting bagi Mahasiswa dan Generasi Muda?

Sejak awal sesi, para pembicara tidak hanya menyuguhkan teori ekonomi yang kaku. Sebaliknya, mereka langsung membedah kebiasaan sehari-hari mulai dari gaya hidup konsumtif akibat media sosial, jebakan kemudahan transaksi digital, hingga tantangan krusial dalam menjaga integritas moral ketika nantinya memasuki dunia kerja.
Dalam sambutannya, Wakil Direktur Bidang Keuangan dan Umum PKN STAN, Bapak Mediya, mengingatkan sebuah premis penting: rendahnya literasi keuangan bukan sekadar persoalan dompet pribadi.
“Ketidakmampuan dalam mengelola keuangan dapat berdampak sistemik ke kehidupan sosial, bahkan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong seseorang melakukan tindakan penyimpangan atau korupsi di tempat kerja,” ujar Bapak Mediya, Wadir PKN STAN.
Oleh karena itu, membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak menyandang status mahasiswa merupakan investasi leher ke atas (intellectual investment) yang nilainya jauh melampaui deretan angka di rekening bank.
Pandangan visioner tersebut diperkuat oleh Heru Margianto selaku Chief Operating Officer (COO) Kompasiana. Beliau menyoroti bagaimana disrupsi teknologi telah mengubah lanskap finansial global. Saat ini, memesan makanan, berbelanja pakaian, membayar tagihan, hingga mengajukan pinjaman instan hanya membutuhkan beberapa ketukan di layar ponsel pintar.
Kemudahan teknologi ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan efisiensi luar biasa, namun di sisi lain menuntut masyarakat untuk memiliki financial capability yang jauh lebih bijak agar tidak terperosok ke dalam utang yang tidak perlu.
Ketika FOMO dan YOLO Menjadi Musuh Utama Dompet
Memasuki sesi materi utama, Bapak Rija Fathul Bari dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten memaparkan data yang sangat menarik. Saat ini, tingkat literasi keuangan generasi muda dan masyarakat Indonesia secara umum telah mencapai angka 66,46 persen. Meskipun grafik menunjukkan tren peningkatan yang positif, angka ini mengindikasikan bahwa masih ada ruang kosong yang besar yang harus diisi melalui edukasi berkelanjutan. Mahasiswa sengaja dipilih sebagai garda terdepan karena mereka diharapkan mampu menjadi agent of change (agen literasi) di lingkungan keluarga dan pergaulan mereka.
Bagian yang paling mencuri perhatian adalah ketika beliau mengupas tuntas fenomena psikologis anak muda masa kini: FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once).

Hampir sebagian besar dari kita pernah terjebak dalam lingkaran setan ini. Melihat teman nongkrong memamerkan gawai flagship terbaru di Instagram Story, mencoba kafe estetik yang sedang viral, atau membeli tiket konser demi sebuah pengakuan sosial seringkali memicu hasrat impulsif untuk ikut-ikutan. Ketika fenomena ini terjadi, keputusan keuangan tidak lagi diambil berdasarkan azas fungsional (kebutuhan), melainkan karena dorongan emosional sesaat demi memuaskan ego.
Untuk memitigasi hal tersebut, OJK membagikan rumus praktis pengelolaan keuangan yang sangat mudah diaplikasikan oleh mahasiswa maupun pekerja muda:
1. Batas Aman Cicilan (Maksimal 30%)
Idealnya, total seluruh cicilan atau utang yang Anda miliki tidak boleh melampaui angka 30% dari total pendapatan bulanan. Jika grafik utang Anda sudah menyentuh atau melewati batas red alert ini, itu adalah sinyal mutlak bagi Anda untuk mengerem dan berhenti menambah utang baru.
2. Aturan Alokasi Investasi Di Awal (Minimal 20%)
Kesalahan terbesar mayoritas orang adalah baru menabung atau berinvestasi ketika ada uang sisa di akhir bulan. Cara yang benar adalah langsung mengamankan minimal 20% pendapatan di awal waktu untuk pos investasi jangka panjang atau dana darurat.
“Sisihkan, bukan sisakan!”
Empat kata kunci dari OJK ini memuat filosofi mendalam yang mampu mengubah total paradigma seseorang dalam menata masa depan finansialnya.
Cara Membedakan Pinjaman Online Legal vs Ilegal
Di era digitalisasi saat ini, pemahaman mengenai fintech lending atau pinjaman online (pinjol) sangatlah krusial. Sesi ini meluruskan salah kaprah yang sering terjadi di masyarakat yang menyamakan semua platform pinjaman digital sebagai ancaman. Padahal, jika dipahami dengan baik, terdapat garis pemisah yang sangat tegas antara pinjaman legal dan ilegal.
