
NININMENULIS.COM – Ada satu hal yang terus terngiang di kepala saya setelah mengikuti webinar “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat” bersama lebih dari 60 peserta lainnya sebagai bagian dari Eco Blogger Squad (EBS). Ternyata, ketika kita berbicara tentang ketahanan pangan, yang perlu kita pikirkan bukan hanya apa yang ada di atas piring, tetapi juga apa yang tumbuh di sekitar kita dan bagaimana kita memperlakukannya.
Selama ini, mangrove lebih sering saya bayangkan sebagai benteng hijau di tepian laut. Pohon-pohon yang tumbuh di antara daratan dan air ini seolah memiliki tugas menjaga garis pantai, menahan abrasi, sekaligus menjadi rumah bagi berbagai biota. Namun, webinar yang diselenggarakan EBS berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF) memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah penting bahwa mangrove juga berkaitan erat dengan pangan dan penghidupan masyarakat.
Webinar ini menjadi bagian dari upaya memperluas cerita tentang praktik baik masyarakat lokal, sekaligus menyambut momentum Bangkok Climate Action Week 2026 yang akan berlangsung 3-11 Oktober 2026 mendatang. Pesannya terasa sederhana, tetapi justru karena itulah menurut saya penting untuk terus dibicarakan bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber pangan.
Kisah yang diangkat dalam webinar berasal dari Raja Ampat, khususnya Kampung Friwen. Ada dua narasumber yang memberikan perspektif berbeda tetapi saling melengkapi. Daniel Kbarek, Program Officer The Asia Foundation (TAF) yang membawakan materi tentang ketahanan pangan berbasis mangrove di Raja Ampat, sementara Wawiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA) yang membagikan cerita tentang pembangunan ketahanan pangan lokal melalui penguatan kelompok perempuan dalam pemanfaatan mangrove di kawasan Hutan Desa Kampung Friwen.
Dari sana, saya kemudian teringat pada sesuatu yang jauh lebih dekat dengan keseharian saya di Bogor. Kalau masyarakat pesisir Raja Ampat memiliki mangrove sebagai bagian dari ruang hidup dan sumber penghidupan, masyarakat di sekitar tempat saya tinggal juga punya tanaman yang sejak lama akrab dengan kehidupan sehari-hari yaitu singkong atau dalam bahasa Sunda disebut sampeu.
Ternyata, tanaman yang selama ini mungkin terlihat sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang pangan, lingkungan, dan kemampuan manusia bertahan dalam keadaan sulit.
Contents
Mangrove Bukan Sekadar Benteng Pesisir

Dari pemaparan Daniel Kbarek, saya menangkap satu hal penting, mangrove di Raja Ampat bukan sekadar hutan yang tumbuh di batas antara daratan dan laut. Ekosistem ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir karena menyediakan habitat bagi ikan, kepiting, dan kerang yang menjadi sumber protein sekaligus penghidupan. Akar mangrove menjadi tempat pemijahan dan perlindungan bagi biota laut, sementara guguran daunnya menghasilkan nutrisi yang mendukung rantai makanan di perairan pesisir.
Ketika mangrove terjaga, stok pangan dari laut pun memiliki peluang untuk tetap tersedia.
Yang menarik, sumber pangan dari mangrove tidak berhenti pada hasil laut. Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, misalnya, dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan pangan lokal, kemudian dikembangkan menjadi kue dan keripik. Ada pula pemanfaatan sari buah untuk minuman serta madu yang berasal dari nektar bunga mangrove. Artinya, ekosistem yang sama dapat menyediakan beragam sumber pangan sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat, selama pemanfaatannya dilakukan tanpa merusak keberlanjutan hutan.
Karena itu, pengelolaan mangrove tidak bisa hanya mengandalkan larangan mengambil hasil hutan. Daniel memaparkan pentingnya pemetaan dan zonasi yang melibatkan masyarakat, penentuan area pemanfaatan, restorasi hidrologi, pembibitan dan penanaman mangrove, serta pengawasan berbasis masyarakat melalui kearifan lokal seperti sasi. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sebagai pihak yang hanya diminta menjaga hutan, melainkan sebagai bagian dari pengelolaannya.
Dari sini, saya melihat ketahanan pangan dalam konteks Raja Ampat bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak makanan, tetapi bagaimana memastikan sumber pangan tetap ada dengan menjaga ekosistem yang menyediakannya. Mangrove yang sehat memberi ruang bagi ikan untuk berkembang, menyediakan hasil pangan yang bisa diolah, sekaligus membuka sumber penghasilan bagi masyarakat. Menjaga hutan, pada akhirnya, menjadi bagian dari menjaga meja makan dan masa depan masyarakat pesisir.
Praktik Baik Kampung Friwen
Kisah paling menyentuh datang dari Kampung Friwen. Cerita dimulai dari keresahan masyarakat adat terhadap kondisi hutan mangrove yang mengalami degradasi. Dalam materinya Wawiyai Steve disebutkan bahwa sejak 2018 masyarakat Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser mulai membangun inisiatif setelah melihat mangrove mengalami kerusakan akibat pengambilan kayu untuk kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pemetaan partisipatif, identifikasi jenis mangrove, serta pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai bahan pangan lokal.
Kerusakan itu bukan sesuatu yang kecil. Mangrove Doredor, wilayah adat yang dijaga masyarakat Kampung Friwen dan menjadi salah satu pusat pemijahan ikan di Selat Dampier, mengalami perubahan tutupan yang cukup besar. Dalam periode 2009–2019, tingkat kerusakannya mencapai 57 persen atau sekitar 133 hektare dari total 233 hektare. Salah satu penyebab yang disebutkan dalam materi adalah kebutuhan pasokan kayu untuk industri pariwisata di Raja Ampat.
Di titik ini saya merasa bahwa istilah ‘ketahanan pangan’ memang tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan mengenai hutan.
Ketika hutan mangrove rusak, yang hilang bukan sekadar deretan pohon. Ada ruang hidup biota yang ikut terganggu. Ada sumber pangan masyarakat yang terancam. Ada penghidupan yang mungkin ikut terdampak. Dan pada akhirnya, ada generasi berikutnya yang berisiko kehilangan sumber daya yang selama ini diwariskan dari generasi sebelumnya.
Karena itu, upaya masyarakat Friwen untuk melakukan pembibitan, persemaian, dan penanaman kembali di kawasan yang rusak menjadi penting. Restorasi tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi dilanjutkan dengan membangun tata kelola kawasan agar masyarakat memiliki ruang untuk mengelola sekaligus menjaga hutan tersebut.
Perjalanan panjang itu kemudian menghasilkan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa Kampung Friwen seluas sekitar 1.025 hektar. Kawasan tersebut diperuntukkan bagi ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan konservasi. Di dalam pengelolaannya terdapat LPHD, empat KUPS, kelompok patroli, serta Pokja Perempuan Perlindungan Mangrove.
Bagi saya, bagian tentang perempuan justru menjadi salah satu hal paling menarik dari cerita ini.
Perempuan bukan ditempatkan sekadar sebagai penerima manfaat. Mereka menjadi bagian penting dari proses pengelolaan kawasan. Bahkan Wawiyai Steve menyebutkan bahwa perempuan memiliki andil besar dalam menjaga kawasan hutan mangrove melalui skema Hutan Desa. Sekitar 80 persen peran aktif dalam sejumlah kelompok usaha dan kelompok perlindungan mangrove dijalankan oleh perempuan. Aktivitasnya pun beragam, mulai dari pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal, agroforestri, kerajinan tangan, penjualan sayur ke homestay dan resort, hingga patroli kawasan hutan desa.
Ada satu kalimat dalam materi yang menurut saya sangat menarik, yakni ketika perempuan kuat, bangsa juga menjadi kuat.
Kalimat itu menjadi semakin bermakna ketika melihat apa yang dilakukan Mama-Mama Papua di Kampung Friwen. Ketahanan pangan ternyata tidak selalu dibangun dari kebijakan besar yang datang dari atas. Ia bisa tumbuh dari kelompok perempuan yang berkumpul, belajar, mengolah hasil alam, menjaga kawasan, dan memastikan sumber daya tetap tersedia untuk anak cucu.
Pendampingan dari komunitas dan organisasi masyarakat sipil juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Melalui Program PAPeDA 4 dan PAPeDA 5, kemitraan The Asia Foundation dan Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA) tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai perhutanan sosial, tetapi juga memperkuat kelembagaan, kapasitas usaha masyarakat, jejaring, kemitraan, hingga mendorong dukungan kebijakan di tingkat daerah.
Dengan begitu, pelestarian lingkungan tidak diposisikan berlawanan dengan kesejahteraan masyarakat. Justru keduanya dicoba untuk berjalan beriringan.
Dari Mangrove Raja Ampat ke Singkong di Bogor
Setelah webinar selesai, pikiran saya justru kembali ke rumah dan lingkungan sekitar di Bogor. Kalau masyarakat Raja Ampat punya mangrove sebagai bagian dari ruang hidup dan sumber penghidupan, Bogor juga punya tanaman yang sejak lama akrab dengan kehidupan masyarakat: singkong.
Di sejumlah wilayah Bogor, kebun atau lahan yang ditanami singkong masih mudah ditemukan. Tanaman ini terbilang sederhana. Batangnya cukup ditancapkan ke tanah, lalu tumbuh dan dapat dipanen untuk diolah menjadi berbagai makanan. Kemampuannya beradaptasi dan relatif mudah tumbuh membuat singkong sejak lama dikenal sebagai salah satu tanaman pangan alternatif di Indonesia.
Sebuah kajian mengenai singkong di Bogor mencatat produksi singkong Kabupaten Bogor pada 2022 mencapai 125.461 ton, sedangkan Kota Bogor mencapai 4.801 ton. Angka tersebut membuat saya melihat singkong dengan cara berbeda. Tanaman yang sehari-hari mungkin hanya kita kenal sebagai bahan gorengan, peuyeum, keripik, getuk, combro, misro, atau tepung tapioka ternyata punya peran yang lebih panjang dalam sejarah pangan masyarakat.
Singkong bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini masuk ke Indonesia pada masa kolonial dan kemudian berkembang sebagai salah satu sumber pangan. Salah satu kelebihannya adalah umbinya berada di dalam tanah dan bisa dipanen sesuai kebutuhan. Karakter ini membuat singkong menjadi semacam cadangan pangan alami ketika bahan pangan lain sulit diperoleh.
Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat di berbagai wilayah Jawa memanfaatkan singkong sebagai pangan alternatif, termasuk ketika beras sulit didapat. Di Cirendeu, Jawa Barat, misalnya, tradisi menjadikan singkong sebagai pangan pokok bahkan bertahan hingga lebih dari satu abad dan berkaitan dengan pengalaman masyarakat menghadapi masa penjajahan.
Mungkin karena itulah saya memahami mengapa singkong begitu lekat dengan cerita ketahanan pangan. Tanaman ini tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan tanaman yang mudah tumbuh untuk menghadapi keadaan yang tidak selalu mudah.
Tanaman yang Punya Banyak Peran




