Di balik kabut pagi Agam, ketegangan antara manusia dan Harimau Sumatera perlahan menemukan penengahnya. Tengku Lidra, pendamping komunitas dari Yayasan SINTAS Indonesia, hadir menjembatani dua dunia yang saling membutuhkan namun kerap berbenturan. Melalui PAGARI, ia mengubah rasa takut warga menjadi gerakan kolektif menjaga hutan, ternak, dan harapan akan harmoni yang mungkin tercipta.
Tag: SATU Indonesia Awards 2024
Melalui Kakak Aman Indonesia, Hana menyusun modul sederhana, dengan bahasa yang ramah anak. Ia tidak duduk di depan kelas lalu memberi kuliah kaku. Sebaliknya, ia mendongeng, mengajak bermain, bernyanyi, dan berdialog. Ia membawa poster penuh warna, ilustrasi yang lucu, serta permainan interaktif. Dengan cara itu, anak-anak belajar tanpa merasa diajari. Mereka tertawa, bernyanyi, dan di sela-sela itu, mereka memahami pesan penting kalau tubuh mereka berharga, ada bagian pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain, dan mereka punya hak untuk berkata ‘tidak’.
Indonesia, negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, sedang menghadapi dua masalah besar yang saling bertolak belakang namun sering terlupakan, sampah makanan dan kelaparan. Sementara sebagian orang menikmati keberlimpahan pangan, di sisi lain, hampir 20 juta orang Indonesia masih hidup dalam kelaparan atau kekurangan gizi. Fakta yang mencolok ini memunculkan sebuah dilema besar, yaitu pemborosan makanan yang justru berakhir sebagai sampah, sementara masih ada banyak pihak yang membutuhkan. Menanggapi isu ini, Garda Pangan, sebuah gerakan sosial yang didirikan pada 2017, hadir dengan misi besar, mengurangi sampah makanan sekaligus mengentaskan kelaparan melalui solusi berkelanjutan.