
NININMENULIS.COM – Pagi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tidak pernah benar-benar tenang. Dari balik kabut yang menuruni lereng Bukit Barisan, suara ayam jantan bersahutan dengan gemericik air dari anak sungai yang mengalir di antara kebun pinang. Tapi di balik kesejukan itu, ada rasa was-was yang diam-diam tumbuh di hati sebagian warga. Mereka yang hidup di tepi hutan tahu betul, di balik rimbun pepohonan itu, ada makhluk besar yang sama-sama mengintip kehidupan yaitu Harimau Sumatera.
Di sinilah kisah ini dimulai. Tentang manusia yang mencari makan dan satwa yang mencari tempat hidup, keduanya berpapasan di batas yang kian kabur. Dan di tengah ketegangan itu, ada sosok bernama Tengku Lidra, seorang pendamping komunitas lokal dari Yayasan SINTAS Indonesia, yang berdiri di antara dua dunia, manusia dan harimau.
Contents
Tumbuh dari Rasa Peduli, Bukan Sekadar Profesi

Sore itu, di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, suara kentongan berbunyi bertalu-talu. Seekor sapi milik warga baru saja ditemukan mati di ladang, tubuhnya tercabik. Warga berkerumun, sebagian menatap dengan cemas, sebagian lagi menatap ke arah hutan dengan rasa waswas. “Harimau! Dia datang lagi,” kata seorang bapak pelan.
Kejadian seperti itu bukan pertama kali. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan konflik antara manusia dan harimau Sumatera di Agam meningkat. Ternak hilang, jejak kaki besar ditemukan di tepi kebun, bahkan ada harimau yang terekam kamera jebak berkeliaran di area yang sudah dekat dengan pemukiman.
Bagi warga, harimau bukan lagi cerita legenda dalam kaba Minangkabau. Ia nyata. Ia lapar. Dan ia bisa datang kapan saja. Di tengah rasa takut itu, hadir seseorang dengan topi lapangan dan senyum ramah, Tengku Lidra. “Kami datang bukan untuk menyalahkan harimau, tapi juga bukan untuk membiarkan warga hidup dalam ketakutan. Kami datang untuk mencari cara agar keduanya bisa tetap hidup,” ucapnya, suatu kali dalam pelatihan komunitas.
Tengku Lidra bukan nama baru di dunia konservasi. Ia memulai kiprahnya di Yayasan SINTAS Indonesia. Organisasi yang berfokus pada penyelamatan Harimau Sumatera dan ekosistem hujan tropis dengan tekad sederhana, ingin menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat desa.
Sebagai lulusan biologi, ia paham bagaimana harimau berpindah wilayah, bagaimana pola perburuannya, dan bagaimana perubahan lanskap membuat satwa ini terdesak. Tapi pengalaman lapangan membuatnya memahami satu hal penting, bahwa konflik manusia dan satwa tidak akan selesai hanya dengan data, melainkan dengan dialog dan empati.
“Waktu pertama kali saya turun ke lapangan, warga tidak mau bicara. Mereka takut nanti dikira pemburu. Padahal, mereka hanya ingin aman. Mereka ingin ternaknya hidup, dan mereka sendiri tidak disalahkan kalau harimau datang,” kenangnya sambil tersenyum
Sejak saat itu, ia memilih cara yang berbeda, bukan lagi datang sebagai ahli, tapi sebagai pendengar. Ia menghabiskan waktu berhari-hari di nagari, duduk di warung kopi, berbincang dengan petani, mendengarkan cerita mereka tentang malam-malam yang diselimuti suara auman dari kejauhan. Dari situlah ia membangun kepercayaan, hal yang menjadi fondasi utama dari gerakan yang kini dikenal sebagai PAGARI, singkatan dari Patroli Anak Nagari.
Pagari Ubah Ketakutan Jadi Gerakan

Program PAGARI atau Patroli Anak Nagari, lahir dari gagasan yang sederhana tapi berdampak besar, mengubah masyarakat dari korban konflik menjadi penjaga keseimbangan antara manusia dan harimau. Di tengah kisah panjang interaksi negatif antara manusia dan Harimau Sumatera di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, program ini hadir bukan hanya sebagai proyek konservasi, tetapi sebagai gerakan sosial yang menumbuhkan kembali rasa percaya diri warga terhadap alam di sekitarnya.
Ide awal PAGARI muncul dari kebutuhan mendesak. Beberapa tahun lalu, wilayah-wilayah seperti Kamang, Malalak, dan Palembayan kerap dilanda kecemasan setiap kali ada kabar harimau turun gunung. Ternak hilang, warga takut keluar malam, bahkan ada desa yang menutup jalan menuju ladangnya karena dianggap terlalu dekat dengan hutan. Konflik ini bukan hanya mengganggu ekonomi warga, tapi juga menimbulkan trauma sosial yang mendalam.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama Yayasan SINTAS Indonesia kemudian menggagas pendekatan baru. Alih-alih menempatkan warga sebagai pihak pasif yang hanya menunggu bantuan, mereka ingin menjadikan masyarakat lokal sebagai bagian dari solusi. Dari sinilah PAGARI terbentuk, tim yang terdiri dari perwakilan masyarakat nagari yang dilatih untuk memantau, mendeteksi dini keberadaan harimau, dan melakukan langkah mitigasi sebelum terjadi serangan.
Namun, seperti banyak inisiatif akar rumput lainnya, meyakinkan warga untuk bergabung bukan hal mudah. Tengku Lidra, salah satu pendamping komunitas lokal, masih ingat betul bagaimana rasa takut menahan langkah pertama mereka. “Awalnya banyak yang ragu, siapa yang mau patroli malam-malam ke hutan kalau mereka tahu harimau bisa lewat di situ?” ujarnya pelan.
Rasa takut itu wajar. Bagi warga, harimau bukan sekadar hewan liar, tetapi simbol kekuatan yang sering dikaitkan dengan hal mistis dan ancaman. Maka, tugas pertama Tengku bukanlah memberi pelatihan teknis, melainkan mengubah cara pandang. Ia mulai dengan mendengarkan cerita warga, tentang ternak yang hilang, suara auman dari hutan, dan perasaan tidak aman yang mereka rasakan setiap malam. Dari sana, perlahan-lahan ia menanamkan pemahaman baru bahwa kehadiran harimau bukan kutukan, melainkan tanda bahwa alam mereka masih sehat.
“Kalau harimau masih ada, artinya hutan masih hidup. Kalau hutan masih hidup, air masih mengalir, ladang kita masih bisa tumbuh,” katanya berulang kali dalam setiap sosialisasi. Kalimat sederhana itu ternyata punya daya magis tersendiri. Warga mulai melihat harimau bukan sebagai musuh, tapi sebagai bagian dari keseimbangan yang harus dijaga.
Perubahan cara pandang ini menjadi pintu masuk bagi lahirnya partisipasi nyata. Tengku dan timnya kemudian mengajak berbagai kalangan mulai dari tokoh masyarakat, pemuda nagari, bahkan ibu-ibu yang biasanya hanya hadir dalam rapat desa untuk urusan rumah tangga untuk ikut terlibat. Mereka diajak berdiskusi, diajari membaca tanda-tanda alam, dan dilatih memahami pola perilaku satwa liar.
Setelah beberapa kali pelatihan, semangat baru mulai terlihat. Warga yang dulu enggan keluar malam kini ikut patroli bersama tim PAGARI. Mereka berjalan menyusuri tepi hutan, membawa senter dan tongkat, mencatat setiap tanda yang mencurigakan. Mereka belajar mengenali jejak kaki harimau, membedakan mana tapak baru dan mana yang sudah lama, mengukur jarak antar langkah untuk memperkirakan ukuran tubuh harimau, bahkan mempelajari cara memasang kamera jebak agar bisa merekam pergerakan satwa tanpa mengganggu.
“Saya lihat perubahan besar di sini. Dulu mereka takut melihat jejak harimau, sekarang malah mereka yang kasih tahu kita duluan. Mereka kirim foto, kasih koordinat, dan langsung lapor ke BKSDA,” ujar Tengku dengan nada bangga.
Kini, setiap kali ada tanda-tanda kehadiran harimau, laporan cepat datang dari anggota PAGARI. Mereka tak lagi panik, melainkan bekerja sistematis, menandai lokasi, memberi jarak aman, dan membantu BKSDA dalam upaya penghalauan satwa agar tidak masuk ke pemukiman. Cara kerja ini bukan hanya menekan risiko konflik, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri warga.
Nama PAGARI, yang dalam bahasa Minang berarti pagar pelindung, akhirnya menemukan maknanya sendiri. Ia bukan sekadar singkatan, melainkan simbol dari perubahan paradigma kalau warga bukan lagi korban, tapi penjaga. Mereka kini menjadi pagar hidup yang melindungi manusia dan harimau dari bahaya yang sama, ketidakseimbangan alam.
Dalam prosesnya, Tengku menyadari bahwa inti kekuatan program ini bukan pada teknologi atau pendanaan, melainkan pada kepercayaan. Kepercayaan bahwa masyarakat bisa memegang peran utama dalam konservasi. Bahwa pengetahuan lokal, ketika dipadukan dengan pendekatan ilmiah, mampu menciptakan solusi yang lebih tahan lama.
Ia sering bercerita bagaimana, dalam satu patroli, anggota PAGARI menemukan bangkai sapi di pinggir sungai. Alih-alih menuduh harimau, mereka memeriksa bekas luka, mencocokkan dengan data, dan melaporkan hasilnya. Setelah dianalisis, ternyata pelakunya bukan harimau, melainkan anjing liar. “Kalau dulu, pasti langsung bilang itu harimau, dan semua orang panik. Sekarang mereka lebih sabar, lebih teliti. Mereka tahu kapan harus lapor dan kapan harus menunggu,” katanya.
Kedewasaan semacam itu tak datang dalam semalam. Butuh waktu, dialog, dan pendampingan intensif. Tengku sendiri menghabiskan banyak hari di lapangan, tidur di rumah warga, makan bersama di dapur umum, berbincang hingga larut malam. Ia tahu, untuk mengubah perilaku masyarakat, ia harus terlebih dahulu menjadi bagian dari mereka.

Salah satu inovasi yang lahir dari pendampingan PAGARI adalah pembangunan kandang komunal. Gagasannya muncul dari pengamatan sederhana, sebagian besar serangan harimau terjadi karena ternak dibiarkan bebas di malam hari. “Kalau malam, kerbau-kerbau dibiarkan di ladang tanpa pagar. Itu seperti undangan terbuka buat harimau,” kata Tengku sambil terkekeh.
Maka dibangunlah kandang komunal, tempat ternak milik beberapa warga dikumpulkan dalam satu lokasi dengan pagar kawat tinggi dan lampu penerangan. Di Nagari Maua Hilia, dua kandang berukuran besar kini berdiri di tepi hutan. Warga membangunnya bersama-sama, dibantu tenaga dari Pagari dan pendampingan teknis dari Tengku dan timnya. Hasilnya nyata, tidak ada lagi serangan selama beberapa bulan terakhir.
“Sekarang kalau ada suara aneh di malam hari, kami sudah tahu harus ngapain. Kami patroli, bukan panik,” kata salah satu warga yang tergabung di Pagari.
Tengku Lidra juga memimpin upaya pemasangan kamera trap di area perlintasan harimau. Dari alat-alat sederhana itu, mereka berhasil merekam gambar beberapa individu harimau yang masih bertahan. “Setiap kali kamera menangkap gambar harimau hidup, kami merasa bangga. Itu artinya kerja keras ini belum sia-sia,” katanya.
Kini, PAGARI bukan lagi proyek percobaan. Ia telah menjadi gerakan yang diakui banyak pihak. BKSDA Sumatera Barat menilai program ini sebagai contoh sukses kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat. Di beberapa nagari, bahkan sudah mulai dibentuk tim-tim kecil baru dengan semangat yang sama, menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian satwa liar.
Atas usahanya inilah, Tengku Lidra menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2024. Ia selalu mengatakan bahwa kesuksesan sejati bukan ketika harimau menjauh dari desa, tapi ketika manusia bisa hidup berdampingan tanpa rasa takut. “Kita tidak mungkin memindahkan hutan, dan kita juga tidak bisa mengusir harimau. Yang bisa kita lakukan adalah belajar hidup berdampingan,” ujarnya.
Kini, ketika matahari mulai terbenam di balik Bukit Barisan dan kabut perlahan turun di lembah-lembah Agam, anggota PAGARI bersiap melakukan patroli malam. Dengan senter di tangan dan keyakinan di dada, mereka menyusuri jalan setapak menuju batas hutan. Tak ada lagi panik atau teriakan ketakutan, hanya suara langkah kaki yang teratur dan semangat menjaga nagari mereka.
Di antara langkah-langkah itu, ada satu keyakinan yang tumbuh, bahwa ketakutan bisa diubah menjadi kekuatan, dan kekuatan itu bisa menjadi gerakan. PAGARI telah membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari komunitas kecil, dari keberanian untuk memandang alam bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara tua yang perlu dihormati.
Dan di tengah semua itu, sosok Tengku Lidra tetap berjalan bersama mereka. Bukan di depan, bukan di belakang, tapi di tengah-tengah, seperti cara terbaik seorang pendamping, mendengar, menguatkan, dan memastikan setiap langkah warga tetap menuju arah yang sama. Arah di mana manusia dan harimau, dua makhluk yang sama-sama penjaga hutan, bisa hidup berdampingan dalam damai.
Harmoni yang Tidak Instan
