Konsep Hijau UMN (Part 1)

 

Fasadnya cukup mengundang perhatian bagi yang melintasi Scientia Summarecon Serpong, Tangerang. Bentuknya seperti kepompong berwarna abu-abu dengan ketinggian yang berbeda. Itulah gedung baru dari kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Belajar dari pengalaman gedung pertamanya, UMN mendesain dan menerapkan konsep berbeda yakni bangunan hijau. Tidak hanya pada bangunannya saja, sebagai instansi pendidikan, UMN menularkan semangat hijau kepada mahasiswa dan lingkungan sekitarnya melalui pengaturan di dalamnya. Maka tak heran bila UMN menyabet IAI Award 2018, juara pertama Gedung Hemat Energi pada Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2013 dan penghargaan Energy Efficient Building kategori Tropical Building pada ASEAN Energy Award 2014 di Vientiane, Laos.

Gedung baru UMN ini dibangun di lahan seluas delapan hektar yang lokasinya di kelilingi oleh perumahan dan kawasan komersial seperti perkantoran, ruko, mal, hotel, dan rumah sakit. Sebagai sarana pendidikan gedung baru UMN memiliki ruang-ruang yang digunakan untuk berbagai kegiatan perkuliahan, seperti ruang kelas, laboratorium, studio, bengkel, galeri, inkubatir bisnis, kantin, dan beberapa kegiatan komersial seperti bank, ATM dan toko pendukung kegiatan kampus.

Untuk mewujudkan konsep hijau dan desain bangunan yang berkelanjutan, orientasi bangunan merupakan faktor penting dalam mengurangi panas matahari pada setiap ruangnya. Variabel desain surya termasuk hemispherical bangunan menjadi variabel penting saat membuat denah dan lantai bangunan. Karena itulah orientasi bangunan UMN mengarah ke Timur dan Barat, sementara wilayah kerja di dalamnya seperti ruang kelas menghadap ke Utara dan Selatan yang memiliki sedikit paparan sinar matahari.

Untuk fasadnya, UMN dibangun dengan sistem secondary skin atau desain fasad dua sisi yang menggunakan panel alumunium berlubang atau perforasi di sisi luar yang akhirnya mengurangi panas matahari dan beban pendinginan hingga 70 persen tanpa mengurangi cahaya yang masuk ke dalam. Dengan berkurangnya panas matahari yang masuk maka suhu di dalam fasad pun turun hingga tiga derajat. Posisi ruang yang berada 70 centimeter dari fasad pun mengalami penurunan suhu dua derajat atau sekitar 26 derajat celcius – Suhu ini membuat aktivitas di dalamnya terasa nyaman. Cahaya matahari yang masuk ke dalam secara maksimal membuat ruangan di dalamnya tak perlu menyalakan lampu saat siang hari. Karena bangunan telah dilapisi panel alumunium berlubang, kaca jendela tidak lagi berfungsi sebagai pengaman, cukup menggunakan kaca lima milimeter yang biasa digunakan untuk rumah tinggal.

klik Konsep Hijau UMN (Part 2)

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.