Melepas Tukik di Sangalaki

Penyu sisik
Tukik yang siap dilepas ke laut

Pulau Sangalaki merupakan salah satu pulau dalam gugusan kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Kepulauan ini ibarat rumah yang nyaman bagi para penyu untuk bertelur, di sini mereka dilahirkan di sini pula nantinya mereke kembali untuk bertelur. FYI setiap harinya rata-rata 20 penyu dewasa mendatangi Pulau Sangalaki untuk bertelur yang jumlahnya mampu hingga ratusan butir. Musim bertelur para penyu ini sekitar Juli hingga September. Di perairan ini terdapat dua jenis penyu, penyu hijau dan penyu sisik.

Baca Juga: Menikmati Pizza Italia di Bali

Saat ini penyu sisik jumlahnya semakin berkurang, dalam setahun hanya satu hingga tiga ekor saja dalam setahun yang naik untuk bertelur. Banyaknya perburuan untuk dijadikan souvenir salah satu alas an semakin berkurangnya penyu sisik. Penyu-penyu ini akan datang bertelur biasanya saat malam hari, kita pun dapat menyaksikan proses bertelurnya atas seijin petugas. Biasanya petugas melarang kita untuk menyalakan lampu karena akan membuat penyu stress dan mengurungkan niatnya untuk bertelur.

Baca Juga: The Gunawarman Hotel

Jika Anda datang bukan di bulan bertelurnya penyu, Anda dapat mengikuti aktivitas melepas tukik atau anak penyu ke laut, seperti yang saya lakukan. Tukik-tukik tersebut dilepas dari jarak tiga hingga lima meter dari pinggir laut. Kaki-kaki mungilnya yang akan berjalan sendiri menuju laut lepas. Dari puluhan tukik yang dilepaspun ternyata tak semuanya bertahan hidup. Mereka harus bertarung dengan keganasan predator laut yang siap memangsa mereka kapan saja. Seperti ancaman elang laut yang selalu mengintai para tukik yang baru berenang ke lautan. Bagi tukik yang bertahan hidup dan tumbuh dewasa, ia akan kembali dengan catatan pantainya masih bagus. Karena itulah pulau-pulau di sini diupayakan untuk selalu terjaga kealamiannya agar penyu-penyu tersebut kembali datang.

Baca Juga: Ngopi di Tanamera PIK

Semakin berkurangnya populasi penyu, masihkah kita berani untuk merusak pantai dan habitatnya? Jika kita semakin tidak perduli, bisa jadi penyu sisik hanya menjadi cerita bagi anak cucu kita nanti. Miris bukan?

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Morning Person | Architecture Graduate | Former Journalist | Healthy Lifestyle | Coffee Addict

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.