Masriadi: Salah Satu Pelukis Termahal Indonesia

JULING
Foto: Yudi Dwi Hertanto

Salah satu seniman kontemporer yang wajib ditengok karyanya yakni I Nyoman Masriadi. Seniman kelahiran Gianyar Bali yang tinggal di Yogyakarta ini digadang-gadang menjadi pelukis yang karyanya paling mahal setelah Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, dan Hendra Gunawan. “Karya-karya Masriadi dapat terjual hingga satu juta dollar Amerika atau setara dengan 13 miliar rupiah di balai lelang Sotheby Hongkong,” ujar Nina Hidayat, Communication Officer Museum Macan. Di Museum Macan sendiri pernah memamerkan tiga karya lukis kontemporer  Masriadi, yakni Run Until You Burn, Juling (Cross Eyed), dan Bantal Guling di atas Sofa. Tema satir dan penuh kritik masih menjadi benang merah dari lukisannya.

SOFA MERAH
Foto: Yudi Dwi Hertanto

Tengok saja pada Juling (Cross Eyed), ketika Masriadi menyindir fokus manusia modern terhadap gawai mereka sehingga lupa pada orang-orang terdekat. Begitu juga pada lukisan Bantal Guling di Atas Sofa yang menampilkan gambar sofa merah dengan garis-garis sketsa di sekelilingnya. Di lukisan ini, Masriadi menyindir para pemilik hunian modern yang lebih mengutamakan kemewahan dan bentuk suatu furnitur daripada fungsi sofa itu sendiri. Bagi Masriadi fungsi sofa sebagai tempat duduk mulai ditinggalkan. Sofa dituntut memiliki bentuk yang terkadang jauh dari ergonomis asalkan memiliki tampilan dan warna-warna yang memukau. Semua ide lukisan Masriadi hadir dari berbagai masalah yang dijumpai sehari-hari. Dan seperti biasa, Masriadi tak pernah  menjawab alasan mengapa ia terus konsisten membuat karya yang dipengarui kontradiksi akan masalah sehari-hari. Banyak yang menganggap karya saya bernada satir dan penuh kritik, padahal bagi Masriadi melukis harus dari hati dan tidak bisa dipaksa. Untuk soal standar, Masriadi selalu berkembang dalam ide-idenya, karena itu karyanya dapat dikatakan langka di pasaran. Bahkan Amir Sidharta, pengamat seni dan pemilik balai lelang Sidharta, mengatakan bahwa pasar selalu menanti karya-karyanya karena dianggap mewakili semangat seni kontemporer yang cerdas, jenaka, dengan figur-figur yang unik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.