Jason Lim: Menggali Akar Gantung Pohon Beringin

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Under The Shadow of Bayan Tree (2017)

Saya menyaksikan karya atau lebih tepatnya performance dari seniman asal Singapura, Jason Lim ini saat ajang seni kontemporer Jakarta Biennale 2017 lalu. Meskipun acara sudah lama berlangsung, tapi sepertinya sayang bila saya tidak men-share salah satu karya yang ditampilkan dalam ajang tersebut. Karya Jason Lim ini bukan karya yang sudah jadi dan tinggal di pamerkan, karya ini diciptakan Jason Lim mulai ajang seni digelar hingga berakhir – setiap hari bentuknya berubah dan bertambah. Unik bukan?

Baca Juga: Masriadi: Salah Satu Pelukis Termahal Indonesia

Jason Lim merupakan seniman serba bisa, karyanya meliputi foto, video, instalasi, seni keramik, dan seni performance. Karyanya diperlihatkan dengan bentuk-bentuk pengulangan seperti meniru perkembangan alam. Khususnya untuk karya keramiknya, Jason Lim seringkali hasil dari performancenya yang merupakan interaksi tubuhnya dengan material yang digunakan dan selalu menganndung banyak makna di dalamnya. Struktur karyanya selalu memiliki kemungkinan untuk ambruk, merusak diri, atau mengalami erosi.

Baca Juga: Sinta Tantra Pelukis Asal Bali yang Terkenal di Inggris

Pada 1995 di galeri The Substation, Jason Lim menyajikan karya terobosannya, Three Tones of Clay dengan rekan seniman keramik, Ng Siew Kuan. Tanah liat yang belum dibakar mengisi penuh seluruh galeri itu sehingga sang seniman dan pemirsa dapat membentuk dan mengubah ruangan tersebut. Setelah performance usai, jejak tubuh Jason masih tercetak pada instalasi tersebut sehingga ada kesan energi yang tertinggal bagi para penonton yang datang kemudian: mereka jadi tahu apa yang terjadi dalam ruang tersebut.

Baca Juga: Lukisan yang Membawa Kembali Ke Masa Kanak-kanak

Pada Jakarta Biennale 2017 lalu, Jason Lim menyajikan karya yang dinamainya Under The Shadow of Bayan Tree. Sekali lagi Jason Lim menggunakan tanah liat dalam jumlah besar dalam sebuah performance berdurasi, dan menggali motif akar gantung pohon beringin. Pohon beringin, yang tumbuh dari atas ke bawah pada suatu pohon inang, dikemukakan sebagai metafora filosofis yang menggerakkan praktik seni keramik Jason Lim sekarang ini menyibak karakteristik ganda dari alam sebagai yang baik dan jahat.

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.