Cara Seniman Menghadirkan Kebahagiaan dari Masa Ke Masa

Golnaz Fath
Golnaz Fathi, seniman kelahiran Tehran dengan latar belakang pendidikan desain grafis dan kaligrafi Iran. Lukisan tanpa judul di atas dibuat menggunakan pulpen di atas kanvas. Elemennya hanya warna hitam dan merah. Dari jauh terlihat simple. Dari dekat ia terlihat kusut dan sarat emosi.

Setahun yang lalu 48 lukisan koleksi Istana Kepresidenan dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta. pameran kedua koleksi Istana ini didominasi oleh lukisan pemandangan— selain lukisan sejumlah perempuan berkebaya yang dikoleksi oleh Presiden Sukarno. Di antara lukisan pemandangan itu terdapat lukisan cat minyak berjudul Harimau Minum yang dibuat oleh Raden Saleh. Ada juga lukisan Pantai Flores karya Basuki Abdullah yang menggambar ulang sketsa cat air yang dibuat sendiri oleh Sukarno. Lukisan-lukisan pemandangan itu bergaya Mooi Indie. “Sebagian besar koleksi Sukarno memang Mooi Indie yang pada masa itu sedang menjadi tren,” kata Asikin Hasan, kurator pameran tersebut.

Baca Juga: Masriadi, Salah Satu Pelukis Termahal Indonesia

Istilah Mooi Indie dikenalkan oleh Sudjojono pada 1930. Mooi artinya indah atau elok, sedangkan Indie adalah Hindia Belanda. Ini adalah istilah untuk menyebut lukisan-lukisan pemandangan indah bergaya naturalistic yang sedang tren di awal abad ke-20. Sebenarnya gaya ini sudah dikenalkan oleh Raden Saleh pada akhir abad ke-19. Lukisan bergaya seperti ini bisa jadi  Merupakan sebuah upaya untuk mencari kenyamanan yang hilang di masa itu. Bagi para pelukis pribumi seperti Abdullah Suryosubroto dan Mas Pringadi, ini adalah bentuk pencarian akan kebahagiaan yang hilang di tanah penjajahan. Sedang bagi para pelukis Belanda, ini adalah pelarian mencari Shangri La dari kekalutan Eropa yang sedang dilanda Perang Dunia.

Baca Juga: Karya Arsitek Indonesia di Ajang Dezeen Awards 2018

Di Prancis di saat yang hampir sama, upaya eskapisme itu terlihat dari lukisan-lukisan Henri Matisse.Pada awal abad ke-20 Matisse melukis manifesto kebahagiaan. Saat itu Perang Dunia I sedang bergejolak dan entah kapan berakhir. Depresi mengambang di depan mata. Saat itulah Matisse datang dengan keberanian untuk menawarkan konsep kebahagiaan lewat koleksi Le Bonheur de Vivre (Kesenangan Hidup). Ada banyak cara seniman untuk menghadirkan kebahagiaan. Ada tiga cara bagaimana seniman menghadirkan karyanya: karya seni akan saat ini, karya seni yang melihat harapan dan kecemasan; serta karya seni yang mengajak untuk merefleksikan kembali sebuah nilai.

Baca Juga: Ramainya Pameran Yayoi Kusama di Hari Terakhir

Kinez Riza punya cara ilmiah untuk menghadirkan kebahagiaan lewat karya seninya. Ia mengeksplor konsep alam, waktu, dan sublim dalam karyanya yang meliputi fotografi, film, dan instalasi. Semua karyanya berasal dari dahaga keingintahuan yang seakan tak pernah puas tentang misteri semesta dan sejarah manusia. Di pameran tunggal bertajuk Selubung Hening di 2015, Kines memamerkan semua karyanya yang telah melalui Kinesologi. Kinesologi yang ditemukan Dr W. Lovett dari Harvard Medical School dan dikembangkan oleh dokter Goodheart sejak 1960 ini merupakan sebuah metode yang menggunakan ‘test otot’ sebagai instrumen yang menerima umpan balik sinyal yang berasal dari tubuh. Bila tubuh menerima atau merespon secara positif terhadap stimulasinya, maka test ototnya akan menguat, sebaliknya bila tubuh menjadi tidak nyaman maka test ototnya akan melemah. Saat dilakukan pengecekan, karya Kinez direspon secara positif oleh tubuh orang yang memandangnya.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. deadyrizky says:

    masih gak habis pikir sama pola pikir seniman yang bisa menghasilkan karya keten kek gitu…

    1. Sama, ak berulangkali ngobrol sama mereka tetep gak ngerti 😄

Leave a Reply