Dilema Lahan Gambut Antara Mitos dan Fakta

ayo jaga gambut

NININMENULIS.COMReaders, masih ingat dengan kejadian kebakaran hutan di 2019 lalu? Kebakaran hutan yang membuat Presiden Joko Widodo malu saat berkunjung ke Malaysia dan Singapura ini konon kebakaran terhebat yang dialami Indonesia kedua setelah kebakaran yang terjadi di 2015. Dari beberapa provinsi yang mengalami kebakaran hutan di 2019 ternyata ada tujuh provinsi yang dinyatakan siaga darurat karena wilayahnya berupa lahan gambut yang rentan terbakar. Dari 328 ribu hektar lahan yang terbakar sekitar 89 ribu hektar adalah lahan gambut. Dan yang terbesar di wilayah Riau sekitar 40.500 hektar, kemudian berikutnya Kalimantan Tengah 24 ribu hektar, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Belajar dari apa yang terjadi di 2015 dan 2019 lalu timbul pertanyaan, mengapa kebakaran lahan gambut mendapatkan perhatian lebih? apa sih yang perlu kita ketahui dan lakukan untuk menyelamatkan lahan gambut? Sssttthh… ternyata ada mitos atau berita yang tidak benar beredar seputar lahan gambut ini. Sebagai generasi anti hoax, tidak ada salahnya untuk mencari tahu fakta yang selama ini terjadi di lahan gambut dari para ahlinya di acara ngorol @ tempo yang diselenggarakan pada Rabu (29/1) lalu.

Baca jugaNgobrolin Hutan Sosial dan Lima Hutan Satu Cerita

ayo jaga gambut
Para pembicara di Ngobrol@tempo (ki-ka) Lola Abbas, Prof. Bambang Hero Saharjo, Nazir Foead, Theti N.A, dan Grabriel Titiyoga

Acara ngobrol @ tempo kali ini bertempat di Beka Resto Balai Kartini, Jakarta Selatan. Ngobrol kali ini mengangkat tema yang sangat ‘panas’, setidaknya itu yang dikatakan Toriq Hadad, Direktur Utama Tempo Media Group dalam sambutan pembukanya. Mengangkat tema Bagaimana Antisipasi Indonesia di Lahan Gambut Tahun 2020? menghadirkan empat narasumber yang sangat kompeten dalam penanganan lahan gambut, mereka ialah Nazir Foead (Kepala Badan Restorasi Gambut / BRG Indonesia), Prof. Bambang Hero Saharjo (Guru Besar Kehutanan IPB), Lola Abbas (Koordinator Nasional Pantau Gambut), dan Theti N A (Petani dari Kalimantan Tengah). Talkshow Bagaimana Antisipasi Indonesia di Lahan Gambut Tahun 2020? ini dimoderatori oleh Gabriel Titiyoga, Redaktur Sains & Sport Majalah Tempo. Sebelum kita mencari tahu mitos dan fakta apa saja yang melingkupi lahan gambut, yuks kita kenali dahulu apa itu lahan gambut.

Lahan gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik seperti sisa-sisa pepohonan, rumput, lumut, jasad hewan yang membusuk lalu menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Lahan gambut ini sering dijumpai di area rawa, cekungan antara sungai, ataupun di daerah pesisir. Dari proses terjadinya lahan gambut fakta pertama yang perlu kita ketahui yakni Indonesia memiliki lahan gambut yang sangat luas atau mencapai 14,9 juta hektar dan tersebar di seluruh Indonesia. “Meskipun dalam luasan kalah dengan Canada, namun lahan gambut di Indonesia bisa memiliki kedalaman hingga 30 meter. Tingkat kedalaman gambut ini berpengaruh terhadap jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di sekitarnya. Semakin dalam lahan gambut, semakin banyak karbon yang terkandung,” kata Nazir Foead.

Dari jumlah lahan gambut di Indonesia, fakta kedua yang tidak kalah menarik yakni lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari yang dikandung hutan tanah mineral, sehingga bayangkan bila mengalami gangguan seperti terbakar atau kering, akan berapa banyak karbon yang terlepas di udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca? “Emisi gas yang dihasilkan kebakaran lahan gambut terdiri dari 90 jenis gas, dan 50 persen gas itu beracun,” ungkat Prof. Bambang Hero Saharjo. Dan kebakaran lahan gambut terparah bila terjadi di dalam permukaan lahan karena sulit dideteksi penyebaran juga penanggulangannya, dibanding bila yang terbakar di atas permukaan lahan.

Mengenai kebakaran ladang gambut, ada mitos menarik pertama yang diungkap Prof. Bambang Hero Saharjo dan selama ini selalu menjadi headline pemberitaan penyebab kebakaran lahan gambut yakni kekeringan akibat kemarau dan puntung r0k0k. “Lahan gambut tidak bisa terbakar dengan sendirinya seberapapun keringnya, atau terbakar karena ranting kering dan puntung r0k0k. Untuk membakar lahan gambut dibutuhkan bahan bakar yang lebih besar, dan itu hanya bisa dilakukan oleh yang berkepala hitam atau berkepala putih,” ungkap Prof. Bambang Hero Saharjo yang menambahkan bahwa hanya kondisi alam tertentu seperti lava dari letusan gunung berapi dan petir yang dapat membakar lahan gambut, tetapi tanda-tanda tersebut tidak dijumpai selama ini. Jadi fakta sesungguhnya, lahan gambut terbakar atau dibakar?

Baca jugaMengunjungi Winnie The Pooh-nya Balikpapan

Mengingat tingginya karbon yang terkandung di lahan gambut, bila terjadi kebakaran sudah tentu memiliki efek buruk berkali-kali lipat dibanding efek kebakaran hutan tanah mineral. Mulai dari gangguan pernafasan hingga memicu terjadinya kanker beberapa efek buruk kebakaran lahan gambut bagi kesehatan yang menjadi fakta ketiga yang perlu kita ketahui. “Anak-anak dan kaum perempuan-lah yang paling terdampak dari kebakaran lahan gambut,” cerita Theti N A, petani dari Desa Mantangai Hilir Kapuas, Kalimantan Tengah yang pernah menjadi korban kebakaran lahan gambut pada 2015. Pertumbuhan anak akan terganggu secara fisik dan otaknya karena menghirup udara dan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi asap dari kabakaran lahan gambut. Asap kebakaran yang terhisap oleh ibu hamil pun dapat menganggu kesehatan janin sebelum dan sesudah kelahiran.

Banyaknya korban akibat kebakaran lahan gambut di 2015, membuat Theti N A pun mulai meninggalkan tradisi bakar lahan yang menjadi tradisi turun temurun sebelum bertanam padi. Masalah tidak ada tanaman yang tumbuh subur di lahan gambut ternyata mitos kedua seputar lahan gambut yang beredar saat ini. “Semua tanaman dapat tumbuh di lahan gambut, asalkan terus dipantau tingkat keasaman tanahnya. Jadi tidak bisa hanya tanam lalu ditinggal,” lanjut Theti yang upayanya ini telah diikuti 30 kaum wanita lainnya di tempat tinggalnya. Upaya Theti untuk bercocok tanam tanpa membakar lahan tidak luput dari dukungan dan bantuan dari BRG Indonesia. “Sekarang tidak ada lagi lahan gambut yang ngebul, adanya dapur yang ngebul,” canda Theti yang bercerita bagaimana ia mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus membakar lahan.

BRG Indonesia atau Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia adalah lembaga nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden langsung. BRG Indonesia ini dibentuk pada 6 Januari 2016 melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Bada Restorasi Gambut. BRG Indonesia inilah yang bertugas mempercepat pemulihan dan mengembalikan fungsi lahan gambut yang telah rusak terutama akibat kebakaran dan pengeringan. Apa saja yang sudah diupayakan BRG Indonesia sejak 2016 untuk menyelamatkan lahan gambut? ternyata banyak. Yuks kita ulas beberapa hal pokok yang sudah dilakukan oleh BRG Indonesia.

ayo jaga gambut
Salah satu peta lahan gambut (Foto: BRG Indonesia)
  • Melakukan pemetaan dan inventarisasi di tujuh provinsi dengan melibatkan berbagai pihak seperti kementerian atau lembaga pemerintahan terkait, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, serta pendataan langsung ke lapangan. Pemetaan dan inventarisasi dilakukan untuk mendapatkan Peta Indikatif Prioritas Restorasi per provinsi.

  • Usaha pembahasan lahan gambut (rewetting) yang ekosistemnya terdegradasi akibat turunnya muka air di lahan gambut. Usaha pembasahan lahan gambut dilakukan dengan tiga cara yakni pembuatan bangunan penahan air dalam bentuk sekat kanal, penimbunan kanal yang terbuka, dan pembangunan sumur bor.

lahan gambut
Pembuatan kanal upaya pembasahan pada lahan gambut (Foto: BRG Indonesia)
  • Pemulihan lahan melalui penanaman jenis tanaman asli yang adatif terhadap lahan basah dan memiliki nilai ekonomi pada fungsi budidaya (revegetasi). Terdapat beberapa cara revegetasi yang dilakukan BRG Indonesia, seperti:

    • Penanaman benih endemis dan adaptif pada lahan gambut terbuka.

    • Pengayaan penanaman (enrichment planting) pada kawasan hutan gambut terdegradasi.

    • Peningkatan dan penerapan teknik agen penyebar benih (seed dispersal techniques) untuk mendorong regenerasi vegetasi gambut.

    • Teknik revegetasi dilakukan dengan sistem surjan dan paludikultur. Sistem surjan adalah agroforestri yang tidak membutuhkan adanya saluran atau kanal drainase sehingga lahan gambut dapat dipertahankan tetap basah. Sementara itu, paludikultur adalah budidaya tanaman menggunakan jenis-jenis tanaman rawa atau tanaman lahan basah yang tidak memerlukan adanya drainase air gambut.

revegetasi lahan gambut
Revegetasi lahan gambut (Foto: BRG Indonesia)
  • Revitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar area restorasi gambut. Program revitalisasi yang dilakukan mendorong sistem pertanian terpadu di lahan gambut dan juga meningkatkan perikanan air tawar juga peternakan.

  • Program Desa Peduli Gambut juga Program Sosialisasi dan Edukasi Restorasi Gambut. Pendekatan yang digunakan dengan merajut kerjasama antar desa yang ada dalam satu bentang alam Kesatuan Hidrologis Gambut. Pembentukan kawasan perdesaan gambut menjadi pintu masuk bagi perencanaan pengelolaan gambut oleh desa-desa tersebut.

ayo jaga gambut
Mari mulai peduli lahan gambut

Ternyata untuk mengembalikan lahan gambut yang sudah terdegradasi tidaklah sebentar. Butuh waktu 10 hingga 30 tahun dan melibatkan peran aktif dari warga sekitar lahan gambut dan juga pemerintah pusat dan daerah. “Apa yang dikerjakan BRG Indonesia akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan pengendalian dari hulu hingga hilir,” kata Lola Abbas. Tidak hanya Lola Abbas, Koordinator Nasional Pantau Gambut, Prof. Bambang Hero Saharjo juga menyoroti tindakan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan lahan gambut, seperti:

  • Pencegahan bukan lagi jargon belaka.

  • Lakukan audit kepatuhan pengendalian karhutla kepada pelaku usaha.

  • Lakukan audit kanal blocking yang sudah dinyatakan telah direstorasi.

  • Pastikan alat bantu pengendalian karhutla bekerja.

  • PLTB difasilitasi.

  • Tegakan hukum kepada pelaku pembakaran tanpa pandang bulu.

Setelah mengetahui fakta dan mitos seputar lahan gambut, masih berani untuk tidak peduli dan membiarkan usaha pembakaran lahan gambut terus berjalan? Mari mulai sekarang kita sama-sama menjadi generasi yang peduli gambut!

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.