NININMENULIS.COM – Menjelang Tahun Baru Imlek, suasana di komunitas Tionghoa biasanya dipenuhi berbagai ritual yang sarat simbolisme. Orang membersihkan rumah, memasang lampion merah, menyiapkan makanan keberuntungan, hingga berkumpul bersama keluarga besar. Namun di antara tradisi-tradisi yang populer seperti bagi angpao atau makan malam reuni, ada satu ritual yang lebih sunyi, lebih kontemplatif, tetapi memiliki makna spiritual yang sangat dalam yaitu Fang Sheng.
Bagi sebagian orang, Fang Sheng mungkin hanya terlihat seperti aktivitas sederhana, membeli hewan lalu melepasnya kembali ke alam. Burung dilepaskan ke langit, ikan dikembalikan ke sungai atau laut, kura-kura dilepas ke danau. Tapi di balik tindakan itu, ada sejarah panjang ribuan tahun, filosofi belas kasih, keyakinan tentang karma, dan bahkan mitos tentang umur panjang serta keberuntungan.
Tradisi ini sering dilakukan menjelang Imlek sebagai simbol membuang sial dan membuka lembaran hidup baru dengan energi baik. Namun, seiring perkembangan zaman, Fang Sheng juga menjadi bahan perdebatan, apakah ritual ini benar-benar menyelamatkan kehidupan, atau justru menciptakan masalah baru?
Di balik gerakan sederhana membuka sangkar dan membiarkan seekor burung terbang bebas, tersimpan pertanyaan besar tentang hubungan manusia dengan kehidupan.
Contents

