
NININMENULIS.COM – “Apakah arah kiblat rumah kita sudah benar?” Pertanyaan sederhana itu mungkin pernah terlintas di benak banyak orang, termasuk aku. Selama ini, aku menganggap arah kiblat di rumah sudah benar karena mengikuti posisi masjid di sekitar lingkungan. Namun, ketika mengetahui Kementerian Agama Republik Indonesia mengadakan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat (Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Kiblat) pada 15–16 Juli 2026 lalu, rasa penasaran aku muncul. Apalagi, gerakan ini mengajak masyarakat melakukan kalibrasi arah kiblat secara serentak dengan memanfaatkan fenomena alam yang hanya terjadi dua kali dalam setahun.
Tanpa berpikir panjang, aku pun mendaftarkan rumah sebagai salah satu titik pengukuran. Menariknya, proses ini sama sekali tidak serumit yang aku bayangkan. Tidak perlu alat astronomi yang mahal atau kompas digital yang canggih. aku hanya memanfaatkan tripod kecil yang biasa digunakan untuk membuat konten.
Sore itu, sekitar pukul 16.27 WIB, aku berdiri di halaman rumah sambil memperhatikan bayangan tripod yang perlahan memanjang di atas lantai. Siapa sangka, bayangan sederhana itu justru menjadi penunjuk arah kiblat yang sangat akurat.
Contents
Ketika Astronomi Membantu Menentukan Arah Kiblat
Selama ini aku mengira menentukan arah kiblat hanya bisa dilakukan oleh ahli falak atau orang-orang yang memahami ilmu astronomi. Ternyata anggapan itu keliru.
Fenomena yang dimanfaatkan dalam kegiatan ini dikenal sebagai Rashdul Kiblat, atau sering juga disebut Istiwa A’zam maupun Global Qibla Day. Pada saat tertentu, posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah di Mekkah. Ketika kondisi itu terjadi, seluruh bayangan benda yang berdiri tegak lurus di wilayah yang masih terkena sinar matahari akan mengarah tepat ke Ka’bah.
Artinya, kita cukup mengamati bayangan sebuah benda tegak lurus pada waktu yang sudah ditentukan. Garis bayangan tersebut menjadi acuan arah kiblat yang sangat presisi.
Menurut aku, inilah salah satu contoh bagaimana ilmu pengetahuan dan agama berjalan beriringan. Fenomena astronomi yang dapat dihitung secara ilmiah justru menjadi solusi praktis bagi umat Islam untuk memastikan arah ibadahnya. Bahkan, metode ini jauh lebih sederhana dibandingkan membayangkan harus menghitung koordinat geografis atau menggunakan rumus-rumus yang terdengar rumit.
Persiapan yang Sangat Sederhana

Sebelum hari pelaksanaan, aku lebih dahulu melakukan registrasi melalui laman resmi Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat yang disediakan Kementerian Agama. Setelah membuat akun, aku memasukkan data lokasi rumah agar tercatat sebagai salah satu peserta dalam gerakan nasional tersebut.
Selanjutnya aku menyiapkan beberapa peralatan yang ternyata semuanya sudah tersedia di rumah.
Yang paling utama tentu sebuah benda yang dapat berdiri tegak lurus. Banyak orang menggunakan tongkat, botol, atau tiang kecil. Sementara aku memilih menggunakan tripod karena memang sudah memilikinya untuk kebutuhan membuat video dan memotret.
Tripod itu aku letakkan di atas permukaan lantai yang rata di halaman rumah. aku memastikan posisi kakinya benar-benar stabil agar tidak miring sedikit pun. Ketelitian pada tahap ini cukup penting karena kemiringan kecil dapat memengaruhi arah bayangan.
Selain itu, aku juga menyiapkan telepon genggam yang jamnya sudah tersinkronisasi secara otomatis. Dalam metode Rashdul Kiblat, ketepatan waktu menjadi kunci utama. Selisih beberapa detik memang tidak terlalu berpengaruh, tetapi mengikuti waktu resmi membuat hasil pengukuran menjadi lebih akurat. Untungnya sore itu cuaca cukup bersahabat. Matahari bersinar terang tanpa tertutup awan tebal sehingga bayangan tripod terlihat jelas di atas lantai.
Ada sensasi tersendiri ketika menunggu detik-detik pukul 16.27 WIB. aku memandangi layar ponsel yang menampilkan hitungan waktu, sementara tripod sudah berdiri tegak beberapa meter di depan aku. Begitu jam menunjukkan pukul 16.27 WIB, aku langsung memperhatikan arah bayangan yang terbentuk.
Bayangan tripod tampak memanjang dengan jelas. Itulah momen yang selama ini dijelaskan para ahli falak. Bayangan tersebut bukan sekadar bayangan biasa, melainkan garis yang menunjukkan arah menuju Ka’bah. aku kemudian mengamati garis bayangan itu dengan saksama. Bila diperlukan, sebenarnya garis tersebut bisa langsung ditandai menggunakan kapur, lakban, atau spidol agar menjadi acuan permanen untuk arah sajadah maupun shaf shalat di rumah.
Meskipun prosesnya hanya berlangsung beberapa menit, rasanya cukup mengesankan. aku menyadari bahwa menentukan arah kiblat ternyata bisa dilakukan sendiri di rumah dengan memanfaatkan fenomena alam yang sudah Allah ciptakan.
Saat melihat bayangan tripod memanjang di lantai, aku juga sempat mengabadikan momen tersebut. Rasanya sayang jika pengalaman yang unik ini tidak didokumentasikan.
Pengalaman yang Lebih dari Sekadar Mengukur Arah Kiblat
