
NININMENULIS.COM – Pagi di Desa Nanggerang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, memperlihatkan wajah kawasan yang sedang berubah. Perumahan terus bertambah, toko-toko bermunculan, dan arus kendaraan semakin ramai. Desa yang dahulu terasa jauh dari hiruk-pikuk kota kini menjadi bagian dari kawasan penyangga yang pertumbuhannya semakin cepat.
Namun, pertumbuhan wilayah tidak selalu berarti semua kebutuhan warganya ikut mendekat.
Saya merasakan hal itu setelah tinggal di Nanggerang. Sebelumnya, bertahun-tahun hidup di Jakarta membuat saya terbiasa dengan banyak pilihan fasilitas kesehatan. Ketika membutuhkan dokter spesialis atau rumah sakit rujukan, persoalannya lebih sering berkaitan dengan pilihan, bukan jarak. Berbeda dengan pengalaman ketika saya harus membawa Ibu, seorang penyintas stroke, untuk melakukan pemeriksaan dan kontrol rutin ke dokter spesialis di kawasan Cibinong.
Dari pengalaman itu saya mulai memahami bahwa akses kesehatan tidak sesederhana memiliki kartu jaminan kesehatan atau mengetahui rumah sakit tempat kita harus berobat. Ada perjalanan yang harus ditempuh sebelum pelayanan kesehatan itu benar-benar bisa diterima pasien.
Bagi Ibu yang memiliki keterbatasan mobilitas, membawa beliau menggunakan sepeda motor bukan pilihan yang aman. Angkutan umum pun bukan solusi yang mudah. Jarak dari rumah menuju jalur angkot sekitar satu kilometer, sementara kondisi kendaraan umum dan proses naik-turun penumpang tidak selalu ramah bagi lansia atau pasien dengan keterbatasan gerak. Pilihan yang paling memungkinkan akhirnya adalah memesan kendaraan melalui aplikasi.
Untuk sekali perjalanan pulang-pergi dari Nanggerang menuju rumah sakit di kawasan Cibinong, kami harus menyiapkan sekitar Rp150.000 hingga Rp220.000, bergantung pada kondisi lalu lintas dan tarif saat pemesanan. Bagi sebuah keluarga, biaya itu mungkin masih dapat diusahakan. Tetapi persoalannya berbeda jika perjalanan tersebut harus dilakukan berulang kali, sementara penghasilan keluarga terbatas.
Pengalaman itu membuat saya melihat biaya kesehatan dari sudut yang berbeda. Ada pengeluaran yang tidak tercatat sebagai biaya pengobatan, tetapi tetap harus dibayar agar seseorang dapat berobat seperti ongkos kendaraan, biaya perjalanan, waktu yang hilang, hingga tenaga keluarga yang mendampingi pasien.
Persoalan seperti ini bukan hal sepele. Dalam Kajian Alam dan Mahal (2014), misalnya, menunjukkan bahwa gangguan kesehatan dapat menimbulkan dampak ekonomi bagi rumah tangga, terutama ketika penyakit membutuhkan perawatan berkelanjutan. Dalam konteks masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, biaya untuk mencapai layanan juga menjadi bagian dari persoalan akses. Bredkjaer dan McIntyre (2018) juga secara khusus membahas hubungan antara biaya transportasi dan akses terhadap layanan kesehatan di komunitas suburban maupun pedesaan.
Karena itu, ketika membicarakan pemerataan kesehatan, perhatian tidak cukup diarahkan pada pertanyaan apakah fasilitas kesehatan tersedia. Kita juga perlu bertanya, apakah masyarakat mampu mencapai fasilitas tersebut?
Contents
Ketika Jarak Menjadi Bagian dari Persoalan Kesehatan
Pertanyaan itu terasa penting bagi pasien dengan penyakit kronis, termasuk penyintas stroke. Setelah serangan stroke, proses pemulihan tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit. Pemantauan kondisi, pengendalian faktor risiko, pengobatan, rehabilitasi, serta pencegahan serangan berulang membutuhkan kesinambungan pelayanan.
World Heart Federation menempatkan pencegahan sekunder sebagai bagian penting dalam mengurangi risiko kejadian kardiovaskular berulang. Pendekatannya tidak hanya berkaitan dengan obat, tetapi juga pengelolaan faktor risiko dan perubahan perilaku. Artinya, perawatan pasien tidak selesai pada satu kunjungan ke rumah sakit.
Di sinilah persoalan jarak menjadi relevan. Pasien mungkin memiliki akses terhadap pengobatan, tetapi jika perjalanan menuju fasilitas kesehatan terlalu sulit atau mahal, kesinambungan perawatan dapat terganggu.
Saya tidak ingin menyimpulkan bahwa setiap pasien pasti akan menghentikan kontrol karena ongkos transportasi. Namun, pengalaman pribadi menunjukkan bahwa biaya perjalanan merupakan pertimbangan nyata yang harus disiapkan setiap kali Ibu membutuhkan pemeriksaan. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi yang lebih terbatas, beban tersebut tentu patut diperhitungkan dalam membangun kebijakan kesehatan.
WHO melalui Operational Framework for Primary Health Care menempatkan pelayanan primer sebagai bagian penting dalam membangun sistem kesehatan yang berorientasi pada universal health coverage. Kerangka tersebut tidak hanya berbicara tentang keberadaan fasilitas, tetapi juga model pelayanan, tenaga kesehatan, infrastruktur, teknologi digital, kualitas pelayanan, serta pemantauan dan evaluasi.
Artinya, persoalan akses tidak semestinya dibaca sebagai urusan jarak semata. Ia merupakan bagian dari bagaimana seluruh sistem kesehatan dirancang agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan secara berkesinambungan.
Revitalisasi Rumah Sakit Harus Menjawab Kebutuhan Pasien
Dalam konteks Indonesia, agenda transformasi layanan kesehatan rujukan menjadi penting karena rumah sakit tidak berdiri sendiri. Rumah sakit merupakan bagian dari sebuah sistem rujukan yang seharusnya terhubung dengan layanan kesehatan di tingkat sebelumnya.
Karena itu, saya melihat revitalisasi rumah sakit bukan sekadar persoalan memperbaiki gedung atau menambah ruang pelayanan. Revitalisasi harus dilihat dari kemampuan fasilitas kesehatan dalam menjalankan fungsi rujukan secara lebih baik dan menjawab kebutuhan masyarakat di wilayahnya.
Bagi warga seperti saya yang tinggal di kawasan penyangga, penguatan rumah sakit daerah memiliki arti yang sangat konkret. Semakin banyak kemampuan medis yang dapat tersedia di daerah, semakin kecil kebutuhan pasien untuk selalu bergantung pada fasilitas kesehatan yang letaknya jauh dari tempat tinggal.
Tetapi penguatan rumah sakit juga perlu berjalan bersama penguatan layanan primer. WHO menempatkan model pelayanan yang terintegrasi, tenaga kesehatan, infrastruktur, obat dan produk kesehatan, teknologi digital, serta peningkatan kualitas sebagai bagian dari penguatan pelayanan primer.
Dengan pendekatan seperti ini, rumah sakit rujukan tidak harus menjadi tempat pertama bagi semua kebutuhan kesehatan. Puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat menjalankan perannya dalam pencegahan, pemantauan, pengobatan dasar, serta perawatan berkelanjutan, sementara rumah sakit menjalankan fungsi rujukan sesuai kebutuhan pasien.
Bagi penyintas stroke, pola seperti ini penting. Tidak semua kebutuhan pasien harus selalu berujung pada perjalanan jauh ke rumah sakit. Sebagian pemantauan dapat dilakukan lebih dekat dengan tempat tinggal apabila kapasitas layanan primer dan mekanisme rujukannya berjalan baik.
Teknologi Jangan Hanya Memindahkan Antrian ke Layar
Transformasi kesehatan juga tidak bisa dilepaskan dari digitalisasi. Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis menjadi salah satu dasar penting dalam penyelenggaraan rekam medis. Regulasi tersebut berlaku sejak 31 Agustus 2022.
Bagi pasien yang menjalani perawatan berulang, rekam medis yang tertata dan dapat mendukung kesinambungan pelayanan tentu memiliki arti penting. Dokter tidak seharusnya bekerja dengan informasi yang terputus-putus ketika pasien berpindah fasilitas pelayanan.
Digitalisasi menurut saya bukan sekadar memindahkan formulir dari kertas ke layar. Jika pasien masih harus datang berulang kali hanya untuk mengurus administrasi, menunggu antrian yang panjang, atau membawa dokumen yang seharusnya dapat tersedia dalam sistem, maka teknologi belum sepenuhnya menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Teknologi seharusnya membantu memangkas perjalanan dan waktu yang tidak perlu, sekaligus membuat pelayanan lebih terintegrasi. Di sisi lain, digitalisasi juga harus tetap memperhatikan masyarakat yang belum memiliki kemampuan atau akses teknologi yang memadai. Transformasi tidak boleh menciptakan kelompok baru yang justru kesulitan mendapatkan pelayanan karena seluruh proses dipindahkan secara daring.
Rumah Sakit yang Baik Adalah Rumah Sakit yang Terasa Dekat
Pengalaman membawa Ibu berobat membuat saya semakin memahami bahwa istilah “akses kesehatan” memiliki makna yang sangat nyata.
Akses berarti kemampuan seseorang untuk sampai ke fasilitas kesehatan. Akses juga berarti kemampuan untuk terus datang ketika pengobatan membutuhkan kontrol berkala. Di dalamnya ada jarak, transportasi, waktu, biaya, kondisi fisik pasien, serta kemampuan keluarga untuk mendampingi.
Karena itu, ukuran keberhasilan revitalisasi rumah sakit seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang seberapa bagus gedung yang dibangun atau seberapa banyak peralatan baru yang tersedia. Kita perlu melihat apa yang berubah dalam kehidupan pasien.
Apakah warga di wilayah penyangga dapat memperoleh layanan yang mereka butuhkan tanpa harus menempuh perjalanan terlalu jauh? Apakah rumah sakit daerah mampu menangani lebih banyak kasus sesuai kapasitasnya? Apakah puskesmas dapat berperan lebih kuat dalam perawatan berkelanjutan? Apakah sistem rujukan membuat pasien lebih mudah berpindah layanan ketika membutuhkan penanganan lanjutan? Dan apakah teknologi benar-benar membuat pelayanan lebih sederhana?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi keluarga yang setiap beberapa waktu harus mengantar orang tua berobat, jawabannya sangat berarti.
Harapan Dari Nanggerang untuk Indonesia
Saya tidak sedang mengatakan bahwa persoalan yang saya alami bersama Ibu mewakili seluruh kondisi layanan kesehatan di Indonesia. Setiap daerah tentu memiliki persoalan dan kapasitas yang berbeda.
Namun, pengalaman kecil dari Nanggerang memberi saya cara pandang baru terhadap kebijakan kesehatan. Pembangunan fasilitas kesehatan tidak cukup hanya dilihat dari pusat kota. Wilayah penyangga dan desa yang berkembang juga membutuhkan sistem pelayanan yang mampu mengikuti perubahan jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakatnya.
Bagi saya, revitalisasi rumah sakit seharusnya menjadi bagian dari upaya memperpendek jarak antara masyarakat dan layanan kesehatan. Rumah sakit yang lebih kuat perlu didukung oleh layanan primer yang berfungsi baik, sistem rujukan yang terhubung, tenaga kesehatan yang memadai, serta pemanfaatan teknologi yang benar-benar membantu pasien.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan istilah kebijakan yang terdengar hebat. Mereka membutuhkan layanan yang dapat mereka jangkau ketika sakit.
Saya membayangkan suatu hari nanti, seorang penyintas stroke di desa tidak harus memikirkan ongkos perjalanan yang besar hanya untuk menjalani kontrol rutin. Jika memang harus dirujuk ke rumah sakit, perjalanan itu dilakukan karena kebutuhan medis, bukan karena fasilitas yang dibutuhkan belum tersedia lebih dekat. Bagi saya, di situlah makna revitalisasi menjadi lebih manusiawi. Bukan sekadar membuat rumah sakit menjadi lebih modern, tetapi membuat sistem kesehatan terasa lebih dekat.
Karena rumah sakit yang benar-benar berhasil direvitalisasi bukan hanya rumah sakit yang bangunannya berubah. Ia adalah rumah sakit yang membuat pasien dan keluarganya merasa bahwa ketika membutuhkan pertolongan, negara tidak terasa jauh.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI
Sumber:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1918/2022 tentang Indikator Utama Transformasi Layanan Kesehatan Rujukan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Komunikasi dan Digital RI & Kementerian Kesehatan RI. (t.th.). Generasi Bersih dan Sehat (GenBest). Diakses dari https://genbest.id/
- World Health Organization. (2020). Operational framework for primary health care: transforming vision into action. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2021). Technical package for cardiovascular disease management in primary health care: Evidence-based protocols. Geneva: World Health Organization.
- Alam, K., & Mahal, A. (2014). Economic impacts of health shocks on households in low and middle income countries: A review of the literature. Globalization and Health, 10(1), 21. https://doi.org/10.1186/1744-8603-10-21
- Bredkjaer, S., & McIntyre, D. (2018). Transport costs and access to health care in suburban and rural communities. Health Policy and Planning, 33(4), 512–520.
- World Heart Federation. (2019). Roadmap for Secondary Prevention of Cardiovascular Disease and Recurrent Stroke. Geneva: World Heart Federation.