Mencicipi Indonesia, Menghidupkan Ekonomi Lokal di Seniman Pangan

seniman pangan
(Foto: Dok. Pribadi)

NININMENULIS.COM – Pernahkah kamu membayangkan ada sebuah tempat di tengah kawasan perkotaan yang membuat kita sejenak lupa bahwa kita sedang berada tidak jauh dari Jakarta?

Ya, tentu kita semua tidak menyangka, tepatnya di Bekasi, kita bisa berjalan di antara tanaman hijau, mencium aroma rempah dari kebun, belajar mengolah bahan pangan sederhana menjadi produk bernilai tambah, sekaligus menikmati makanan yang punya cerita panjang tentang petani, masyarakat adat, dan daerah asalnya.

Pengalaman seperti itulah yang saya rasakan ketika bersama teman-teman dari Eco Blogger Squad berkunjung ke Seniman Pangan, sebuah creative farm sekaligus ruang edukasi pangan yang berada di kawasan hijau Vida Bekasi.

Bagi saya, kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan atau kegiatan komunitas. Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari. Mulai dari bagaimana bahan pangan ditanam, bagaimana hasil kebun diolah menjadi makanan dan minuman yang menarik, sampai bagaimana kekayaan pangan lokal Indonesia ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar

Dari Lahan Kosong Menjadi Creative Farm

seniman pangan
Ki-Ka: Etih Suryatin, Johana Hehakaja, dan Corazon Nikijuluw  (Foto: Dok. Pribadi)

Seniman Pangan berdiri sejak 2017 di atas lahan seluas sekitar 3 hektar di kawasan Vida Bekasi.

Kehadiran Seniman Pangan tidak bisa dilepaskan dari konsep kawasan Vida yang mengusung konsep sustainable living. Pengelola kawasan kemudian mengajak Seniman Pangan untuk memanfaatkan lahan tersebut agar tidak sekadar menjadi ruang hijau, tetapi juga dapat menjadi ruang produktif yang berkaitan dengan pangan, lingkungan, dan masyarakat.

Dalam proses pengembangannya, Seniman Pangan juga mendapat sentuhan dari arsitek Yu Sing, yang dikenal dengan pendekatan arsitektur yang dekat dengan konteks lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Dari lahan tersebut kemudian tumbuh sebuah ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai kebun, tetapi juga menjadi tempat belajar, bereksperimen, mengembangkan produk pangan, dan memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Nusantara.

Buat saya, konsep ini menarik karena keberlanjutan tidak berhenti pada bangunan atau penghijauan kawasan. Sustainable living juga diterjemahkan melalui pertanyaan yang lebih mendasar seperti bagaimana lahan bisa dimanfaatkan untuk mendukung sistem pangan? Bagaimana tanaman lokal dapat dikembangkan? Bagaimana petani dan masyarakat adat bisa mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil alam yang mereka miliki?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian terasa jawabannya ketika kami menyusuri kebun dan mengenal berbagai produk pangan di Seniman Pangan.

Menyusuri Kebun Organik

seniman pangan
Kebun seluas 3 hektar dengan berbagai jenis tanaman lokal (Foto: Dok. Pribadi)

Petualangan kami dimulai dengan menyusuri area kebun. Begitu masuk ke area kebun, suasananya terasa berbeda. Hijau di mana-mana. Rasanya seperti bukan di Bekasi. Ada bedengan tanaman, raised beds, pepohonan, tanaman rambat, hingga berbagai tanaman yang selama ini mungkin hanya kita kenal sebagai bumbu dapur.

Di tengah kehidupan perkotaan yang akrab dengan gedung, kendaraan, dan udara panas, berjalan kaki di area kebun seperti ini terasa menyegarkan.

Farm visit kami dibagi menjadi dua kelompok yang kemudian saling bergantian. Dengan begitu, kami bisa mendapatkan penjelasan secara lebih dekat mengenai tanaman sekaligus produk pangan yang dapat dikembangkan dari kekayaan tanaman lokal.

Salah satu kelompok ditemani Etih Suryatin, Partnership Director Seniman Pangan yang mengajak kami mengenal berbagai tanaman dari berbagai daerah dan bagaimana tanaman tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai.

Sementara itu, kelompok lainnya ditemani Corazon Nikijuluw, Food Technology & Education Manager Seniman Pangan yang memperkenalkan berbagai produk bernilai yang dapat dihasilkan dari tanaman lokal, seperti garam dari pelepah pohon enau atau nipah. Ada pula jamur grigit atau gerigit yang dikenal sebagai jamur liar dari Sumatera Selatan dan tumbuh pada batang kayu lapuk.

Setelah selesai, kedua kelompok kemudian bertukar sesi.

seniman pangan
Merasakan sendiri panen hasil tanaman lokal di Seniman Pangan (Foto: Dok. Pribadi)

Bagi saya, cara seperti ini membuat momen keliling kebun terasa lebih menarik. Kami tidak hanya melihat tanaman sebagai sesuatu yang tumbuh di tanah, tetapi juga diajak melihat kemungkinan yang ada di baliknya.

Ada kemangi yang aromanya langsung tercium ketika daunnya disentuh. Ada bunga rosella dan bunga telang dengan bentuk serta warna yang cantik. Ada pula serai, berbagai jenis daun mint dan daun dill yang memiliki aroma khas masing-masing.

Kebun ini juga menjadi rumah bagi berbagai tanaman rempah dan rimpang yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kunyit, jahe, kencur, temulawak, dan lengkuas tumbuh di sana.

Selain tanaman herbal dan rempah, ada pula berbagai jenis sayuran seperti jagung manis, bayam merah, terung, hingga daun singkong muda. Pohon pisang dan pepaya juga menghiasi area kebun.

Menariknya, tanaman yang diperkenalkan tidak hanya berasal dari satu daerah. Ada upaya untuk mengenalkan berbagai kekayaan tanaman lokal Nusantara dan melihat bagaimana tanaman tersebut dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai.

Saya jadi teringat bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan pangan yang luar biasa.
Masalahnya, kita terkadang justru lebih mengenal bahan pangan dari kemasan di supermarket dibandingkan mengenal tanaman yang menghasilkan makanan tersebut.

Di Seniman Pangan, kami diajak kembali melihat proses itu dan merasakan langsung bagaimana tanaman tersebut ditanam hingga dipanen untuk diolah menjadi produk bernilai.

Ketika Tanaman Lokal Bertemu Kreativitas

Membuat sendiri sirup kemangi dan selain rosella (Foto: Dok. Pribadi)

Setelah mengenal berbagai tanaman, kami diajak melihat bagaimana bahan-bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Salah satu contohnya adalah kemangi. Selama ini, ketika mendengar kata kemangi, yang terbayang mungkin lalapan, sambal, pepes, atau pendamping makanan lainnya. Namun di Seniman Pangan, kemangi mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk yang berbeda. Daun kemangi segar dari kebun diolah menjadi sirup kemangi.

Prosesnya menarik karena aroma khas kemangi yang biasanya terasa kuat dan segar berubah menjadi sesuatu yang berbeda ketika diolah. Setelah menjadi minuman, karakter herbalnya justru memberikan sensasi yang unik.

Dari sini saya kembali belajar bahwa kreativitas dalam mengolah pangan bisa menghasilkan nilai tambah yang besar. Bahan yang mungkin dianggap sederhana bisa berubah menjadi produk yang punya nilai jual lebih tinggi ketika diolah dengan pengetahuan dan kreativitas.

Kami juga belajar mengolah bunga rosella menjadi selai rosella. Kelopak bunga rosella yang biasanya mungkin hanya kita kenal sebagai bahan minuman atau teh ternyata bisa diolah menjadi selai dengan warna merah yang cantik dan rasa asam-manis yang khas.

Tidak perlu pewarna sintetis untuk menghasilkan warna yang menarik. Alam sudah menyediakan semuanya. Pengalaman ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah menariknya. Kita sering menganggap makanan sehat dan produk olahan lokal sebagai sesuatu yang rumit. Padahal, ketika mengetahui teknik dasarnya, banyak bahan yang ada di sekitar kita bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih menarik.

Menjelajah Nusantara Lewat Sepiring Hidangan

seniman pangan
Hidangan khas Nusantara, ada nasi subut, sate daun singong, dan rujak Aceh (Foto: Dok. Pribadi)

Bagian yang kemudian membuat saya semakin memahami misi Seniman Pangan adalah ketika kami masuk ke sesi kuliner Nusantara. Di sini saya belajar bahwa gastronomi bukan sekadar urusan makanan enak atau bagaimana makanan disajikan cantik di atas piring. Gastronomi juga berkaitan dengan cerita, budaya, bahan pangan, teknik pengolahan, serta manusia yang berada di balik sebuah hidangan.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai bahan pangan, tradisi memasak, dan cara menikmati makanan yang berbeda. Karena itu, ketika kekayaan tersebut dibawa ke meja makan, yang hadir sebenarnya bukan hanya rasa. Ada identitas budaya di dalamnya. Ada pengetahuan yang diwariskan. Ada cerita tentang masyarakat yang mengolahnya. Ada pula hubungan antara manusia dan lingkungan tempat bahan pangan tersebut berasal.

Hal ini semakin terasa ketika Johana Hehakaja, Business Director Sekolah Seniman Pangan menjelaskan cerita di balik setiap hidangan Nusantara yang tersaji kepada kami.

Jadi, sebelum mencicipi makanan, kami tidak hanya diberi tahu apa nama hidangannya. Kami juga diajak mengenal cerita dan latar belakang kuliner tersebut. Rasanya seperti membuka buku sejarah, tetapi melalui makanan.

Konsep farm-to-table terasa begitu nyata dalam sesi kuliner di Seniman Pangan. Hidangan yang tersaji merupakan representasi dari kekayaan bahan pangan Nusantara, termasuk bahan yang berasal dari kebun, mitra petani lokal, dan masyarakat adat.

Salah satu hidangan yang menarik perhatian adalah nasi subut dari Kalimantan Utara. Nasi ini unik karena berwarna ungu alami dari campuran ubi jalar ungu yang dipotong dadu serta tambahan jagung manis pipil, yang memberikan tekstur pulen, rasa legit, dan kaya serat.

Ada pula kerupuk dari Kalimantan yang menjadi salah satu pelengkap santapan.

Kemudian ada salad dengan dressing cashew butter dari Flores. Penggunaan bahan dari daerah berbeda dalam satu hidangan membuat pengalaman makan menjadi semakin menarik. Kita bisa menemukan bagaimana bahan lokal dapat dipadukan dalam kreasi kuliner modern tanpa kehilangan identitasnya.

Ada juga rujak Aceh dengan cita rasa yang khas. Sementara itu, sate daun singkong dari Molo, Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu sajian yang cukup unik.

Selama ini daun singkong lebih sering kita temui sebagai sayuran atau pelengkap masakan. Namun ketika diolah dengan teknik dan bumbu yang tepat, daun singkong dapat tampil dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Kami juga menikmati bumbu pecel dari Yogyakarta, serta berbagai pelengkap lain yang menunjukkan betapa luasnya perjalanan bahan pangan yang bisa sampai ke meja makan.

Untuk minuman, ada teh pala yang memberikan sensasi hangat dan aroma khas. Ada pula minuman bunga telang dengan warna biru keunguan yang cantik.

Setiap hidangan seolah membawa kami berpindah dari satu wilayah Indonesia ke wilayah lainnya. Dari Kalimantan Utara, Aceh, Flores, Nusa Tenggara Timur, Yogyakarta, hingga daerah-daerah lain yang memiliki kekayaan pangan masing-masing.

Menariknya, kunjungan ini terasa semakin relevan ketika bertepatan dengan 9 Agustus, yang diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World’s Indigenous Peoples. Momentum ini mengingatkan saya bahwa di balik kekayaan pangan Nusantara yang kita nikmati, ada masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama generations telah menjaga pengetahuan tentang tanaman, pangan, lingkungan, serta cara mengolahnya.

Dari sini saya mulai melihat bahwa membicarakan pangan lokal sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari membicarakan orang-orang yang menjaga pengetahuan dan warisan tersebut. Ketika kita mengenal, mengonsumsi, dan memberi nilai pada pangan yang berasal dari daerah setempat, kita juga sedang membuka ruang agar pengetahuan tradisional dan warisan budaya masyarakat adat tetap hidup.

Dan pada titik inilah pengalaman sederhana mencicipi makanan di Seniman Pangan membawa saya pada pertanyaan yang lebih besar: bisakah pilihan makanan kita ikut berkontribusi terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat yang berada di balik pangan tersebut?

Pangan Lokal, Restorasi Ekonomi, dan Warisan Masyarakat Adat

seniman pangan
Hasil produk lokal bernilai jual tinggi (Foto: Dok. Pribadi)

Menurut saya, di sinilah bagian paling penting dari pengalaman di Seniman Pangan. Bagaimana gastronomi tidak berhenti sebagai pengalaman menikmati makanan, tetapi bisa menjadi salah satu jalan untuk memberdayakan masyarakat adat dan komunitas lokal sekaligus mendorong restorasi ekonomi.

Indonesia memiliki banyak Indigenous Peoples and Local Communities atau IPLC (Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal) yang sejak dahulu mempunyai pengetahuan mengenai tanaman, pangan, rempah, teknik pengolahan, serta cara memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan mereka.

Pengetahuan tersebut bukan sesuatu yang muncul dalam semalam. Ia merupakan warisan yang dijaga dan diteruskan dari generasi ke generasi. Namun, pengetahuan tradisional dan kekayaan pangan tersebut belum tentu selalu memberikan nilai ekonomi yang sepadan bagi masyarakat yang menjaganya.

Di sinilah pemanfaatan pangan yang bersumber dari daerah setempat menjadi penting. Ketika bahan pangan lokal dibeli, dikonsumsi, kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, ada perputaran ekonomi yang bisa kembali kepada masyarakat di daerah asalnya.

Dengan kata lain, pilihan kita terhadap makanan lokal sebenarnya bisa menjadi salah satu bentuk kontribusi terhadap restorasi ekonomi.

seniman pangan
Beberapa hasil olahan produk berbahan lokal (Foto: Dok. Pribadi)

Restorasi ekonomi dalam konteks ini bukan hanya soal menghasilkan uang atau meningkatkan penjualan. Ada upaya untuk menghidupkan kembali rantai ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal, sehingga masyarakat yang menghasilkan dan menjaga pangan tersebut mendapatkan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang lebih besar.

Hal ini juga berkaitan erat dengan pelestarian warisan budaya IPLC. Ketika sebuah tanaman lokal tetap digunakan, resep tradisional tetap dikenal, teknik pengolahan terus dipraktikkan, dan makanan khas suatu daerah tetap memiliki pasar, maka pengetahuan yang berada di belakangnya juga memiliki alasan untuk terus diwariskan.

Sebaliknya, ketika pangan lokal tidak lagi diminati, pengetahuan tentang cara menanam, mengolah, dan memanfaatkannya berisiko ikut menghilang.

Karena itu, menurut saya, konsumen memiliki peran yang lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan. Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar untuk berkontribusi.

Kita bisa memulainya dari rumah. Misalnya, dengan memilih bahan pangan lokal ketika berbelanja, mencoba produk yang dibuat dari hasil daerah setempat, membeli produk dari pelaku usaha lokal, atau memperkenalkan makanan tradisional kepada keluarga dan anak-anak.

Pilihan sederhana tersebut memang terlihat kecil. Tetapi jika dilakukan banyak orang secara konsisten, permintaan terhadap pangan lokal dapat terus tumbuh. Ketika permintaan tumbuh, ada peluang bagi petani, pengrajin, masyarakat adat, dan pelaku usaha pangan lokal untuk terus mengembangkan produk mereka.

Jadi, makanan yang kita pilih ternyata bisa menjadi bagian dari sebuah rantai yang lebih panjang. Dari konsumen kembali ke produsen. Dari kota kembali ke daerah. Dari pasar kembali kepada masyarakat yang menjaga sumber pangan tersebut. Dan yang paling penting, dari generasi sekarang kepada generasi berikutnya.

Saya melihat pendekatan ini menarik karena restorasi ekonomi tidak harus berarti meninggalkan akar budaya demi mengejar pasar. Justru sebaliknya. Warisan budaya dan pengetahuan tradisional dapat menjadi modal untuk membangun ekonomi lokal.

Identitas suatu daerah tidak harus dihilangkan agar sebuah produk dapat diterima pasar modern. Kekhasan tersebut justru bisa menjadi nilai yang membuatnya berbeda.

Pada akhirnya, konsumen bukan hanya membeli makanan. Kita juga ikut menentukan cerita seperti apa yang akan terus hidup melalui pilihan kita.

seniman pangan
Eco Blogger Squad di kebun Seniman Pangan (Foto: Dok. Pribadi)

Kunjungan bersama Eco Blogger Squad ke Seniman Pangan Vida Bekasi akhirnya menjadi perjalanan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar jalan-jalan.

Saya datang dengan pikiran bahwa kami akan melihat kebun dan mengikuti workshop. Namun saya pulang dengan perspektif yang sedikit berbeda tentang makanan.

Selama ini, kita sering melihat makanan hanya sebagai sesuatu yang sudah tersaji di atas meja. Padahal, di balik sepiring makanan ada tanah yang harus dirawat, benih yang ditanam, petani yang bekerja, masyarakat adat yang menjaga pengetahuan tradisional, proses pengolahan, hingga perjuangan untuk membawa produk lokal agar memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

Dari kemangi kita belajar bahwa bahan sederhana bisa menjadi produk bernilai. Dari rosella kita belajar bahwa bunga pun bisa menjadi pangan.

Dari nasi subut, rujak Aceh, sate daun singkong, salad dengan cashew butter dari Flores, bumbu pecel Yogyakarta, hingga kerupuk dari Kalimantan, kita belajar bahwa Indonesia punya begitu banyak cerita yang bisa dinikmati melalui makanan.

Dan dari Seniman Pangan, saya belajar bahwa gastronomi bisa menjadi jembatan antara rasa, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Keberlanjutan memang bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, apa yang kita pilih untuk makan. Ketika kita memilih pangan yang bersumber dari daerah setempat, kita tidak hanya sedang mencoba makanan yang berbeda. Kita juga ikut memberikan ruang bagi petani, masyarakat adat, pengrajin, dan pelaku usaha pangan lokal untuk terus berkembang.

Kita ikut menjaga agar tanaman lokal tetap dibudidayakan. Kita ikut membuat resep dan teknik pengolahan tradisional tetap memiliki tempat. Kita ikut menjaga agar pengetahuan yang diwariskan oleh IPLC tidak berhenti pada satu generasi. Dan kita ikut menciptakan perputaran ekonomi yang memberi nilai lebih kepada daerah asal pangan tersebut.

Info grafis “Mencicipi Indonesia, Menghidupkan Ekonomi Lokal di Seniman Pangan

Mungkin kontribusi dari rumah memang terlihat sederhana. Hanya satu bungkus pangan lokal yang kita beli. Satu bahan lokal yang kita pilih untuk dimasak. Satu makanan tradisional yang kita kenalkan kepada keluarga. Tetapi dari pilihan-pilihan kecil itulah kesadaran bisa tumbuh. Dari kesadaran, muncul permintaan. Dari permintaan, muncul peluang ekonomi. Dan dari peluang ekonomi, warisan pangan serta pengetahuan masyarakat yang menjaganya memiliki kesempatan untuk terus hidup.

Mungkin inilah makna sebenarnya dari perjalanan dari kebun ke piring. Bukan hanya memindahkan bahan pangan dari tanah ke meja makan, tetapi membawa serta cerita tentang manusia, alam, budaya, dan kerja keras yang ada di baliknya.

Karena mencintai pangan lokal bukan hanya soal mencintai makanan. Ini juga tentang menghargai mereka yang menanam, mengolah, menjaga, dan mewariskan kekayaan pangan Nusantara kepada kita.

Dan mungkin, setiap kali kita memilih makanan lokal, kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mengisi perut. Kita sedang ikut menjaga cerita Indonesia agar tetap hidup.

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply