
NININMENULIS.COM – “Bu, besok kita kontrol, ya. Pulangnya kita makan empal gentong yang enak di depan rumah sakit itu.”
Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat wajah ibu berbinar.
Sejak ibu mengalami stroke beberapa waktu lalu, hidup kami berubah dalam banyak hal. Perjalanan yang dulu terasa biasa kini menjadi sesuatu yang perlu direncanakan dengan matang. Jadwal kontrol rutin ke rumah sakit bukan lagi sekadar agenda kesehatan mingguan atau bulanan, melainkan momen kebersamaan yang sangat kami nantikan bersama.
Sebagai seorang anak sekaligus caregiver, aku menyadari sepenuhnya bahwa kesempatan mengajak ibu keluar rumah tidak datang setiap hari. Karena itulah, setiap kali ada jadwal kontrol, aku selalu menyisipkan satu agenda kecil yang selalu sukses membuat beliau bersemangat, seperti mengajaknya makan bersama setelah pemeriksaan dokter selesai.
Mungkin terdengar sangat sederhana. Hanya semangkuk empal gentong hangat, semangkuk soto gurih, atau sepiring nasi goreng di warung langganan. Namun, bagi kami yang berjuang berdampingan melawan stroke, momen kebersamaan hangat seperti itulah yang kini menjadi kemewahan tiada tara.
Aku selalu bahagia melihat ibu memilih sendiri menu makanannya. Senang mendengarkan cerita beliau yang terbatah-batah tentang tetangga atau tanaman di halaman rumah. Senyum kecil yang terukir di wajahnya saat menikmati makanan favorit selalu menjadi pengingat hangat bahwa kebahagiaan sejati ternyata bisa sesederhana itu.
Oleh sebab itu, setiap kali jadwal kontrol tiba, aku selalu berusaha mempersiapkan segala kebutuhan dengan sangat cermat. Mulai dari berkas hasil pemeriksaan sebelumnya, kartu berobat, daftar obat-obatan yang sedang dikonsumsi, botol air minum, camilan sehat, hingga memastikan transportasi yang akan dinaiki nyaman sampai tujuan.
Namun, di balik semua persiapan matang untuk ibu, ada satu hal penting yang justru sering luput dari perhatian aku, kesehatan mata aku sendiri.
Contents
Ketika Kondisi Rumah Sakit Memperburuk Gejala Mata SePeLe

Hari itu kami berangkat dari rumah sejak pagi-pagi sekali. Udara terasa sejuk saat kendaraan mulai membelah jalanan. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ibu tampak sangat bersemangat. Beliau sesekali bertanya apakah lokasi rumah sakit masih jauh, lalu bercerita bahwa setelah kontrol nanti ingin mampir membeli buah-buahan segar. aku hanya tersenyum hangat sambil terus mengiyakan pesan beliau.
Setibanya di rumah sakit, suasana ruang tunggu sudah sangat ramai. Seperti biasa, prosedur awal harus kami jalani, mulai dari mengambil nomor antrian, melakukan pendaftaran ulang, lalu duduk menunggu panggilan giliran pemeriksaan dokter.
Tanpa kita sadari, lingkungan rumah sakit itu sendiri sebenarnya menjadi tempat yang sangat potensial memperburuk gejala mata kering. Seperti hembusan AC dingin dan udara sangat kering. Seperti yang kita tahu, lingkungan rumah sakit mewajibkan air conditioner (AC) menyala terus-menerus selama 24 jam dengan suhu cukup dingin untuk menjaga kebersihan udara dari bakteri. Hembusan angin AC yang kering dan konstan ini menyedot kelembapan alami dari permukaan mata dengan sangat cepat.
Selain itu selama jam-jam menunggu antrian yang panjang, pandangan mata aku terus dipaksa berakomodasi secara intensif. Mulai dari menatap layar monitor antrian digital yang silau, membaca formulir medis yang rumit, hingga terus-menerus menatap layar ponsel untuk mengabari rekan kerja atau mencari hiburan pengusir bosan. Hal ini membuat frekuensi berkedip aku berkurang drastis secara tidak sadar.
Kehadiran lampu-lampu putih di lorong dan ruang tunggu rumah sakit yang sangat terang juga kerap membuat mata bekerja lebih keras dan memicu ketegangan otot mata (eye strain).
Perpaduan kondisi lingkungan rumah sakit tersebut secara langsung memicu dan memperparah masalah di mata aku.
Awalnya mata aku hanya merasa sedikit SEpet. aku mengira rasa ganjal ini muncul semata-mata karena kurang tidur semalam. Maklum, setiap kali menyambut hari kontrol, aku biasanya terbangun lebih awal agar seluruh persiapan ibu tidak ada yang terlewat satupun.
Namun, semakin lama berada di ruang tunggu ber-AC tersebut, rasa tidak nyaman itu meningkat tajam. Mata mulai terasa PErih. Setiap kali berkedip, seolah ada butiran pasir halus yang mengganjal di balik kelopak mata. Sakitnya memang bukan nyeri hebat, tetapi rasa perihnya sangat mengganggu konsentrasi hingga aku refleks mengucek mata berulang kali.
Tak lama setelahnya, mata terasa semakin LElah. Meskipun pandangan masih cukup jelas, kelopak mata terasa begitu berat. aku jadi lebih sering memejamkan mata beberapa detik untuk mencari kenyamanan sesaat ketimbang memperhatikan suasana di sekitar.
Saat itulah aku tersadar bahwa gejala mata SEpet, PErih, LElah yang akrab disingkat sebagai gejala SePeLe ternyata bukanlah masalah kesehatan yang bisa kita anggap sepele.
Biasanya, aku adalah tipe caregiver yang sangat teliti. aku selalu mencatat setiap poin penjelasan dokter agar tidak ada satu pun informasi penting yang terlewat, mulai dari perubahan dosis obat, catatan tekanan darah, hingga saran terapi rehabilitasi lanjutan.
Namun, hari itu situasinya sungguh berbeda. Mata yang terus-menerus terasa perih dan ganjal akibat pengaruh udara kering rumah sakit membuat fokus serta konsentrasi aku terpecah.Aku harus berkedip berulang-ulang agar rasa perih berkurang. Bahkan ketika dokter sedang menjelaskan poin penting mengenai penanganan kesehatan ibu, aku sempat kehilangan fokus beberapa detik karena mata yang rasanya kian mengering dan panas.
Perasaan bersalah langsung berkecamuk di dalam hati. Sebagai seorang caregiver, aku ingin memberikan perhatian penuh 100 persen untuk ibu. aku tidak ingin melewatkan detail sekecil apa pun yang menyangkut pemulihannya.
Kondisi mengganggu ini juga merembet saat kami duduk di ruang tunggu. Biasanya, aku dan ibu aktif mengobrol tentang berbagai hal untuk mengusir rasa bosan. Namun kali ini, akibat menahan ketidaknyamanan mata, aku lebih banyak merespons cerita ibu dengan jawaban singkat.
“Badan kamu capek ya, Nin?” tanya ibu pelan sambil menatap aku penuh perhatian.
Aku hanya tersenyum lembut sambil menggelengkan kepala. “Bukan capek kok, Bu.”
Aku tidak tega menceritakan bahwa mata aku sedang merasa sangat tidak nyaman. aku tidak ingin ibu ikut cemas atau merasa memberatkan. Padahal di dalam hati, ketakutan mulai membayangi, bagaimana jika rasa sepet dan perih ini berlanjut sampai kami pulang? Bagaimana aku bisa menikmati momen makan empal gentong bersama ibu dengan kondisi mata seperti ini?
Aku sungguh tidak ingin momen sederhana yang sangat kami nanti-nantikan ini rusak begitu saja hanya karena gangguan mata kering.
Menemukan Solusi Bersama Insto Dry Eyes

Setelah proses pemeriksaan medis selesai, dokter menyampaikan bahwa kondisi kesehatan ibu secara umum cukup stabil dan menunjukkan perkembangan baik. Kabar itu seketika menjadi pelipur lara yang sangat melegakan. Rasa cemas yang mengganjal sejak pagi perlahan terangkat.
Keluar dari ruang praktek dokter, aku bergegas menepati janji manis yang sudah diucapkan sejak beberapa hari lalu.
“Bu, sekarang kita makan empal gentong hangat yuk!”
Seketika wajah ibu kembali berbinar. Beliau mengangguk pelan dengan senyum yang terkembang lebar. Di balik perjuangan panjangnya melawan keterbatasan fisik pasca stroke, semangat hidupnya untuk menikmati momen kecil selalu berhasil menyentuh hati aku.
Namun, ketidaknyamanan mata aku masih saja memburuk. Rasa sepet dan perih terus hadir setiap kali aku berkedip. aku tahu aku harus segera mengatasi masalah ini sebelum duduk di warung makan.
Sebelum meninggalkan area rumah sakit, aku memutuskan untuk mampir sejenak ke minimarket di dalam kompleks rumah sakit. Di sanalah aku menemukan produk yang sangat aku butuhkan yaitu Insto Dry Eyes.
Tanpa ragu, aku langsung membelinya dan meneteskan obat tetes mata pelumas ini ke kedua belah mata sesuai dengan aturan pakai.
Hasilnya luar biasa. Hanya dalam hitungan saat, mata terasa jauh lebih segar dan nyaman. Sensasi sepet yang mengganggu sejak pagi perlahan menghilang, rasa perih menipis, dan permukaan mata kembali terasa lembab alami. Kelopak mata yang semula berat kini terasa ringan kembali, memungkinkan aku untuk berkedip tanpa rasa sakit.
Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar botol obat tetes mata biasa. Namun bagi aku hari itu, Insto Dry Eyes adalah penyelamat yang mengembalikan kenyamanan penglihatan aku, sehingga aku bisa kembali fokus penuh pada hal yang paling berharga yaitu menemani dan melayani ibu.
Kami pun meluncur ke warung empal gentong yang berjarak tidak jauh dari rumah sakit.
Begitu semangkuk empal gentong hangat tersaji di atas meja, kebahagiaan ibu terpancar jelas. Sepanjang makan siang, beliau bercerita dengan sangat riang, tentang tanaman melati di halaman rumah yang mulai berbunga lagi, tetangga yang baru memiliki cucu, hingga memori-memori lama yang membuat kami tertawa bersama.
Kali ini, aku benar-benar bisa menikmati setiap detik percakapan itu tanpa gangguan.
Aku tidak lagi sibuk meringis, memejamkan mata, atau menahan perih. aku bisa menatap wajah ibu dengan tenang, mendengarkan setiap bait ceritanya dengan penuh perhatian, dan merayakan kebersamaan kami dengan senyuman utuh.
Pengalaman ini memberikan aku sebuah perenungan mendalam. Gejala mata SEpet, PErih, LElah (SePeLe) mungkin tampak seperti keluhan fisik yang sepele, tetapi jika dibiarkan saat momen penting tiba, rasa tidak nyaman tersebut sanggup merusak kebahagiaan yang telah kita rancang.
Seandainya aku membiarkan mata aku terus kering sepanjang hari, mungkin aku hanya akan duduk murung di warung empal gentong tersebut, merusak suasana hati ibu, dan kehilangan momen emosional yang amat langka ini.
Sebagai seorang caregiver, aku belajar satu hal penting bahwa menjaga kesehatan diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan. Justru saat tubuh dan indra kita berada dalam kondisi nyaman dan sehat, kita sanggup memberikan kasih sayang serta perhatian terbaik bagi orang-orang tersayang.
Pelajaran Penting Mengatasi Mata Kering Saat di Rumah Sakit
