Kenang yang Dikenang

BPN 30 Days Blog Challenge

“Seumur-umur saya belum pernah masuk ke monas loh,” kata mbak Sinta yang bikin saya dan Pipit tertawa. “Masa sih mbak Sin,” jawaban saya dan Pipit kompak. Dari pembicara seru seputar monas di suatu siang saat itu, saya jadi teringat kejadian masa kecil tepatnya “memori” saat TK. TK? iya TK, Taman Kanak-kanak? Tidak semua orang ingat atau punya memori yang bisa dikenang hingga dewasa seperti saya loh. Padahal memori saya ini bukan hal yang bisa dibanggakan juga sih, tepatnya kejadian yang bikin trauma, dan kebetulan tema hari-25 BPN 30 Days Blog Challenge tentang Kenangan Masa Kecil jadi ya kenang-kenang lagi masa-masa itu wuwuwuwu….

BPN 30 Days Blog Challenge

Jadi begini ceritanya *drumsound* Cerita berawal saat TK saya yang bernama TK Teladan itu merencanakan jalan-jalan ke monas. Saat yang sama bapak sakit parah, sedangkan mama harus menjaga bapak yang dirawat di rumah sakit. Dan jadilah saya dititipkan ke guru kelas yang bernama Ibu Maria (haii.. Bu apa kabar??).

Singkat cerita sampailah kami satu rombongan TK di atas monas. Semua temen saya asyik bersama pendamping mereka, baik ibu, ayah, atau kakak mereka, sedang saya? Ternyata saya tidak sendiri, ada satu murid lagi yang nasibnya juga dititipkan ke guru seperti saya. Anak itu bernama Paduk, sebenarnya saya tidak ingat nama lengkap dia siapa, yang saya tahu, saya memanggilnya Paduk. Paduk seorang anak laki-laki keturunan Arab, berambut keriting, lbh tinggi dibanding anak lainnya dan memiliki kulit yg putih (Ini hasil pengamatan saya saat ini setelah melihat kembali foto saat TK).

Kondisi monas saat itu crowded banget. Karena takut saya dan Paduk menyandang gelar ‘anak hilang’ Ibu Maria berkata “Paduk sama Ninin kemana-mana harus berdua ya, jangan pisah,” sembari menyuruh saya dan Paduk bergandengan tangan. Sebagai anak yang baik dan penurut, catet ya baik dan penurut…. Sekali lagi baik dan penurut, kami pun bergandengan tangan. Bisa dibilang saat itu ada saya ada Paduk. Coba sekarang bayangkan, berdua, gandengan tangan, keliling monas….Duh!

Bencana terjadi saat hari sekolah dimulai, “Ninin pacar Paduk…” “Ninin pacar Paduk….” teriak temen-teman saya saat itu. Dan saya sebagai seorang gadis cilik lucu, manis, pintar, dan menggemaskan (dilarang protes!) saat itu terganggu dengan ledekan seperti itu, dan bersusah payah menepis, “Ninin bukan pacar Paduk,” ucap saya saat itu sembari menahan tangis. Bahkan saya pun minta persetujuan sahabat saya, “Ninin bukan pacar Paduk kan ya? but guess what she said? “Iyaaa…. Ninin memang pacar Paduk.” Jegerrrr…… Dan saya pun semakin tak kuat menahan tangis. Saat mama datang menjemput pulang, saya tetep cari pembelaan. “Ma, masa Ninin dibilang pacar Paduk,” kata saya saat itu. Tragisnya mama justru berujar, “Memang kenapa? Paduk-kan cakep,” Huaaaaaaaa………dan nangislah saya saat itu. Mama berusaha meredakan tangis saya tapi ya itu, tetap sambil ketawa-ketawa kecil….. Sebeeelllllll………..

Itulah sekelumit cerita saya saat TK dan efeknya untuk saat ini “Jangan sekali-Sekali menggandeng tangan saya siapa pun kamu!” Hhhmmm….. ternyata kejadian saat kecil, bisa berimbas besar untuk perkembangan mental saat dewasa loh…. So berhati-hatilah saat menggoda anak kecil yeessss…..

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

4 thoughts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.