Belajar Gaya Lukis Pengosekan dari Karya I GAK Murniasih

NININMENULIS.COM – Salah satu karya yang menarik perhatian saya saat mengunjungi pameran Dunia dalam Berita di Museum Macan lalu yakni karya lukisan dari I GAK Murniasih. Karyanya sangat ‘blak-blakan’ sarat akan unsur sensualitas dan representasi tubuh dalam konteks personal. Tengok saja salah satu karyanya yang berjudul Teman dan Tawon (1996).

teman dan tawon
Teman dan Tawon (1996)

Dalam karya I GAK Murniasih yang berjudul Teman dan Tawon menggambarkan dua wajah manusia dengan karakter laki-laki dan perempuan yang dipisahkan oleh sekelompok tawon. Wajah-wajah memanjang dan tubuh mereka muncul dari sepasang sepatu hak tinggi. Bahasa yang dihadirkan I GAK Murniasih sangat simbolis dengan penggambaran bentuk laki-laki serta perempuan dalam satu tubuh, menunjukkan sebuah gestur konseptual yang muncul secara konsisten dan terlihat pada karya-karyanya.

Kehadiran energi laki-laki dan perempuan dapat dilihat melebihi cerminan konsepsi identitas Bali dan Hindu, tetapi juga pembahasan mengenal gagasan feminisme – dalam hal ini, persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Melalui karya-karya I GAK Murniasih, saya seperti melihat perpaduan dari pengalaman pribadi tubuhnya sendiri, keprihatinan sosial yang lebih luas tentang peran perempuan dalam masyarakat, dan simbolisme yang berakar pada mitologi serta kebudayaan tradisional Bali.

Dari karya-karyanya di Museum Macan ini menarik keingintahuan saya untuk mengenal lebih dalam akan sosok perupa wanita asal Bali ini, dan apa yang melatarbelakangi semua karya-karyanya.

Baca jugaXu Bing: Thought and Method – Pameran Tunggal Pertama Sang Perupa Tiongkok di Indonesia

I GAK Murniasih atau I Gusti Ayu Kadek Murniasih adalah anak ke-10 seorang petani di Jembrana, Bali yang transmigrasi ke Sulawesi Selatan. Di usia yang muda, I GAK Murniasih pernah bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga, juga di industri tekstil yang dimiliki keluarga tersebut, kemudian diajak pindah ke Jakarta. Setelah bekerja beberapa tahun, ia memutuskan untuk pindah ke Bali dan bekerja sebagai pengrajin perak.

Kecintaan I GAK Murniasih akan dunia melukis dimulai saat dirinya belajar melukis dengan Edmondo Zanolini pada seorang pelukis tradisi asal Pengosekan (Ubud) yaitu Dewa Putu Mokoh. Dari kedua orang inilah, I GAK Murniasih memperoleh kemampuan dasarnya dalam mengolah visual di atas kanvas. Mondo yang kemudian dikenal sebagai pasangan hidupnya, merupakan seorang seniman dan sutradara berkebangsaan Italia yang sempat bermukim di Bali pada akhir tahun 1980-an.

Meski belajar melukis pada seorang pelukis tradisional, tetapi tidak membatasi karya-karya I GAK Murniasih pada bentuk tradisional. Jejak gaya Pengosekan kemudian tampak pada teknik melukisnya saja, sementara secara tematik pada karya-karya I GAK Murniasih telah berkembang jauh. Penulis Jean Couteau menyatakan bahwa I GAK Murniasih sudah berpikir lebih ke depan dalam menggunakan gaya lukis Pengosekannya.

Tema seksualitas perempuan menjadi sangat dominan dalam setiap karya I GAK Murniasih. Hal ini ternyata dipengaruhi oleh pengalaman hidup personalnya. Lukisan Murni merujuk ke suatu benda yang juga berhubungan dengan fenomena di hidupnya. Dimulai dari sepatu yang notabene feminin dan universal sampai organ tubuhnya. Karakter lukisnya adalah karakter pribadinya yang fenomenal dengan gambar liar dan absurd. Temanya berdasarkan pengalaman, alam bawah sadarnya maupun citra dirinya.

Baca juga: Museum MACAN Hadirkan 10 Perupa di Pameran Dunia dalam Berita

Di masa awal tahun 1990-an, karya-karya I GAK Murniasih mulai dikenal publik seni melalui Seniwati Gallery di Ubud. Sebuah ruang seni yang khusus menghadirkan karya-karya dari para seniman perempuan. Galeri Seniwati didirikan oleh seorang perempuan berkebangsaan Inggris bernama Mary Northmore. Galeri Seniwati kemudian berkembang menjadi semacam komunitas untuk para seniman perempuan dan beregenerasi hingga kisaran tahun 2013, sebelum akhirnya membubarkan diri.

Melalui galeri Seniwati inilah, lukisan Murni kemudian dikenal luas hingga bisa dipamerkan oleh Cemeti Contemporary Art Gallery (kini Cemeti Institute) pada tahun 1995, hingga kemudian direpresentasikan oleh galeri Nadi di Jakarta pada medio 2000-an.

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.