NININMENULIS.COM – Ada satu kesadaran yang datangnya agak terlambat, tapi begitu datang, rasanya sulit untuk diabaikan. Bahwa kehamilan bukanlah titik awal dari perjalanan menjadi seorang ibu. Ia bukan garis start yang tiba-tiba muncul saat dua garis merah terlihat di alat tes. Kehamilan, diam-diam, adalah kelanjutan dari kebiasaan panjang yang sudah terbentuk sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Tubuh perempuan bukan mesin instan. Ia tidak bisa tiba-tiba siap hanya karena sebuah kabar baik datang. Ia membawa rekam jejak. Tentang apa yang dimakan sejak remaja, bagaimana pola hidup dijalani, seberapa sering tubuh diberi nutrisi yang cukup atau justru dibiarkan kekurangan tanpa disadari.
Sebagai seorang content creator yang cukup sering bersinggungan dengan isu kesehatan, terutama gizi perempuan hamil, aku sebenarnya sudah berkali-kali menulis tentang pentingnya asam folat, zat besi, protein, hingga pola makan seimbang. Materi-materi itu datang dalam berbagai bentuk, dari brief klien, kampanye kesehatan, hingga kolaborasi dengan tenaga medis. Semua terdengar penting, tapi jujur saja, dulu terasa seperti rutinitas profesional semata.
Aku menulis karena itu bagian dari pekerjaanku. Aku membagikan karena itu sudah menjadi tanggung jawab. Tapi ada satu pertanyaan yang diam-diam sering muncul, apakah benar semua ini sepenting itu? Apakah apa yang kita makan sejak remaja benar-benar akan berpengaruh sejauh itu, bahkan sampai ke kehamilan nanti?
Jawaban dari pertanyaan itu ternyata tidak datang dari teori. Ia datang dari kehidupan nyata. Dari seseorang yang sangat dekat.
Sahabatku adalah gambaran perempuan sehat yang sering kita lihat sehari-hari. Aktif, ceria, rajin olahraga, dan hampir selalu terlihat bugar. Tapi ada satu hal yang ia hindari sejak kecil: sayur dan buah. Bukan sekadar tidak suka, tapi benar-benar tidak pernah mengonsumsinya. Alasannya sederhana, tidak enak dan aromanya mengganggu.
Dulu, aku tidak pernah benar-benar menganggap itu masalah besar. Bukankah banyak orang seperti itu? Selama tubuhnya terlihat baik-baik saja, bukankah semuanya aman?
Sampai akhirnya ia menikah, hamil, dan melahirkan. Dan bayinya didiagnosis mengalami stunting.
Tidak ada kata-kata yang cukup tepat untuk menggambarkan momen itu. Bukan soal menyalahkan, bukan juga soal penyesalan yang diucapkan keras-keras. Tapi ada kesadaran yang datang perlahan, dan terasa berat. Bahwa apa yang selama ini dianggap sepele, ternyata bisa berdampak sejauh itu.
Dari situ, cara pandangku berubah.
Contents

