
NININMENULIS.COM – Menatap hamparan hijau di pekarangan rumah saat matahari perlahan condong ke barat selalu memberi ketenangan tersendiri bagiku. Di tengah kesibukan harian sebagai content writer yang sering kali dihabiskan di depan layar monitor, mengejar tenggat artikel, merangkai kata, atau mengulik tren digital, menyentuh tanah dan memperhatikan alam sekitar menjadi cara terbaikku untuk membumi kembali.
Namun, ketenangan sore itu mendadak terusik ketika pikiranku melayang pada berita-berita yang berseliweran tentang kondisi bumi kita akhir-akhir ini.
Memasuki periode 2026–2027, ancaman krisis iklim terasa semakin nyata dan dekat. Bayang-bayang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di kawasan ekosistem gambut yang sangat rapuh. Kondisi kering yang dipicu oleh anomali iklim membuat lanskap basah ini kehilangan perlindungannya. Dan yang membuatku paling merenung, bencana ekologis ini ternyata tidak berdiri sendiri. Ia memiliki benang merah yang sangat erat dengan apa yang setiap hari tersaji di atas meja makan kita.

Online gathering bertajuk “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan” yang diinisiasi oleh Eco Blogger Squad (EBS) berkolaborasi dengan Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity pada Jumat (16/10) lalu membuka mataku lebar-lebar. Acara yang menghadirkan dua narasumber, Yoga Aprilliano, Communication Leads Pantau Gambut dan Ahmad Arif, Jurnalis Kompas ini menyadarkanku bahwa rantai makanan kita sangat panjang dan rapuh, terhubung langsung dengan nasib hutan gambut di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.
Dari ruang keluarga di rumah, aku mulai merajut kepingan-kepingan cerita ini, mencoba memahami bagaimana sebuah kebijakan, perubahan iklim, dan pilihan menu harian kita saling berkelindan membentuk masa depan peradaban.
Contents
Ketika Jantung Gambut Mulai Terbakar

Bagi banyak orang, lahan gambut mungkin sering kali disalahpahami sebagai lahan tidur atau lahan marginal yang tidak produktif, sebuah ‘wasteland’ yang sah-sah saja untuk dikonversi. Padahal, Indonesia adalah rumah bagi ekosistem gambut tropis terbesar di dunia, dengan luas mencapai 24,2 juta hektar yang menyimpan cadangan karbon raksasa sekaligus berfungsi sebagai pengatur iklim global.
Menurut Yoga Aprilliano, Lahan gambut adalah ekosistem basah yang bekerja seperti spons raksasa. Ia menyerap dan menyimpan air dalam jumlah yang masif. Namun, tangan-tangan manusia kerap merusaknya demi ambisi ekonomi. Pembukaan lahan besar-besaran dan pembuatan kanal-kanal drainase yang berlebihan telah mengeringkan air di dalam gambut. Berdasarkan data Pantau Gambut, total panjang kanal di Indonesia bahkan telah menembus angka 281.253 kilometer. Ini setara dengan perjalanan bolak-balik Tol Trans Jawa sebanyak 120 kali!

Ketika musim kering tiba, diperparah oleh dinamika iklim seperti El Niño, gambut yang kehilangan air ini berubah menjadi bom waktu. Sekitar 16,4 juta hektare Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia kini berada dalam tingkat kerentanan tinggi hingga sedang terhadap kebakaran.
Karhutla di lahan gambut bukanlah jenis kebakaran hutan biasa yang bisa dipadamkan dengan menyiram air di permukaannya. Api membara secara senyap di bawah tanah, mengunyah lapisan gambut purba, melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif, dan menghancurkan keanekaragaman hayati yang menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna.
Dampaknya langsung menjalar ke mana-mana. Kehilangan fungsi hidrologis gambut memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang di musim hujan dan kekeringan ekstrim di musim kemarau. Lebih dari itu, oksidasi mineral pirit pada gambut yang mengering juga mencemari aliran sungai, membuat airnya menjadi sangat asam (pH 2–3) dan meracuni ekosistem perairan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat lokal.
Monokultur Pangan dan Jerat Gastrokolonialisme

Kerusakan ekosistem ini ternyata berakar dari sistem pangan kita yang kian seragam. Sebagai seorang perempuan yang peduli pada isu-isu sosial, aku sering merasa miris melihat bagaimana pola makan masyarakat Indonesia mengalami pergeseran yang cukup drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Data dan kajian jurnalisme investigasi, seperti yang ditulis oleh Ahmad Arif dalam Kompas, mencatat bahwa lebih dari 70 persen asupan kalori harian penduduk Indonesia kini hanya bergantung pada dua komoditas utama, beras dan terigu. Indonesia harus mengimpor belasan juta ton gandum setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan mie instan dan produk bakery yang membanjiri pasar. Ketergantungan yang ekstrem ini membuat negeri kita sangat rentan terhadap guncangan geopolitik dan krisis rantai pasok global.
Ironisnya lagi, berbagai proyek ambisius pencetakan sawah baru atau food estate di lahan-lahan marginal dan gambut sering kali berujung pada kegagalan ekologis dan sosial. Alih-alih mencapai swasembada, proyek-proyek ini justru memicu deforestasi, merusak tanah gambut, dan yang paling menyedihkan merampas ruang hidup masyarakat adat.

Di Merauke, Papua Selatan, misalnya, pembukaan hutan secara besar-besaran untuk proyek lumbung pangan telah memorak-porandakan ruang hidup masyarakat adat Marind-Anim. Hutan yang dulunya menjadi ‘ibu’ tempat mereka meramu sagu, mencari buah-buahan, dan berburu secara lestari kini berubah menjadi konsesi industri. Masyarakat lokal dipaksa masuk ke dalam jerat apa yang disebut sebagai gastrokolonialisme. Sebuah kondisi di mana mereka tercerabut dari sistem pangan tradisionalnya, lalu digelontorkan produk-produk pangan instan murah dan ultra-olahan yang masuk hingga ke pelosok kampung.
Dampaknya tidak main-main. Di daerah-daerah yang dulunya kaya akan pangan lokal, angka kasus tengkes (stunting) dan gizi buruk justru melonjak tinggi di kalangan anak-anak. Ironi ini juga merambah ke berbagai desa sentra produksi pangan di Nusantara, di mana masyarakat petani yang membanting tulang justru mengalami peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan asam urat akibat beralihnya pola konsumsi ke makanan serba instan yang tinggi gula, garam, dan lemak.
Menemukan Kembali Kekayaan Biodiversitas Pangan Nusantara

Beruntung, Indonesia sebenarnya memiliki warisan biokultural yang luar biasa kaya. Nusantara bukanlah bangsa yang hanya lahir dari satu jenis karbohidrat. Catatan keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa negeri ini memiliki tidak kurang dari 77 jenis sumber karbohidrat, 389 jenis buah-buahan, 75 jenis sumber protein, 228 jenis sayuran, hingga ribuan rempah-rempah bernutrisi tinggi.
Setiap ekoregion di Indonesia memiliki kearifan lokal yang menakjubkan dalam meramu pangan. Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, misalnya, sejak ribuan tahun lalu mengembangkan sistem perladangan bergilir (swidden agriculture) yang menyatu dengan siklus alam. Sistem ini bukan sekadar cara menanam padi ladang, melainkan sebuah bentuk agroforestri kompleks di mana mereka juga merawat puluhan jenis tanaman pangan liar, sayuran, dan obat-obatan di sekitar ladang mereka. Begitu pula dengan masyarakat adat Boti di Pulau Timor yang mampu berdaulat pangan di atas tanah yang kering dan berkapur tanpa harus bergantung pada pasokan beras luar.
Pangan lokal bukan sekadar urusan perut. Ia adalah identitas, kebudayaan, dan strategi adaptasi terbaik menghadapi krisis iklim. Ketika tanaman pangan lokal dibiarkan beragam, ketahanan ekologis dan kesehatan keluarga pun terjaga.

Merenungkan semua catatan ini membuatku berpikir kalau perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil di rumah sendiri. Sebagai seorang perempuan yang menyukai eksplorasi kuliner sehat, aku tertantang untuk mempraktikkan semangat diversifikasi pangan ini langsung dari dapurku.
Mengikuti webinar dan menyelami literatur tentang keragaman pangan lokal membuatku teringat pada aneka umbi-umbian yang sangat mudah tumbuh di tanah Indonesia, termasuk di sekitar wilayah Jawa Barat. Ubi jalar, singkong, talas, hingga ubi garut adalah kekayaan lokal yang seringkali dipandang sebelah mata dan dianggap ketinggalan zaman dibanding nasi putih. Padahal, dari segi nutrisi, serat, dan indeks glikemik, umbi-umbian ini jauh lebih bersahabat bagi tubuh kita.
Hari Jumat itu, selepas mengikuti rangkaian diskusi daring mengenai krisis pangan, aku keliling daerah sekitar tempat tinggalku. Dari banyaknya jenis umbi-umbian yang tumbuh di sekitar, pilihanku jatuh pada ubi jalar (sweet potato). Komoditas umbi kaya antioksidan dan beta-karoten yang melimpah dan mudah ditemukan. Aku ingin mengolahnya menjadi menu pengganti nasi yang lezat, mengenyangkan, dan bernutrisi seimbang untuk santapan di rumah. Maka, terciptalah menu Ubi Tumbuk Halus dengan Dada Ayam Bumbu Rujak dan Tumis Bayam Bawang Putih.
Prosesnya sangat menyenangkan dan menenangkan. Dari ubi jalar yang aku dapatkan dari sekitar rumah, aku memilih beberapa buah berukuran sedang yang berkulit mulus, mencucinya bersih, lalu mengukusnya hingga benar-benar empuk agar tekstur manis alaminya keluar maksimal. Setelah matang, aku menumbuk ubi tersebut hingga lembut, menambahkan sedikit mentega murni dan sejumput garam laut untuk memperkaya rasa tanpa harus merusak kebaikan alaminya.
Sebagai pendamping sumber protein dan serat, aku menyiapkan potongan dada ayam panggang marinasi rempah sederhana serta tumis bayam hasil kebun di pekarangan sendiri yang ditumis cepat dengan bawang putih. Ketika hidangan itu tersaji di atas piring, warnanya begitu menggugah selera, gradasi kuning keemasan dari ubi tumbuk, hijaunya daun bayam segar, dan kecoklatan gurih dari dada ayam.
Menikmati seporsi ubi tumbuk ini memberikan kepuasan tersendiri yang berbeda. Ada kesadaran batin bahwa aku sedang memberi asupan terbaik bagi tubuhku, sekaligus mengirimkan sinyal penolakan secara perlahan terhadap ketergantungan yang berlebihan pada satu komoditas beras. Melalui langkah kecil di dapur ini, aku belajar untuk menghargai keringat para petani lokal yang menanam ragam umbi di ladangnya, jauh dari bayang-bayang pabrik pengolahan instan.
Merajut Kembali Kedaulatan Pangan dari Hulu ke Hilir
