Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Raih IAI Awards 2018

This slideshow requires JavaScript.

Munas XV IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) 2018 yang berakhir Sabtu (22/9) lalu tidak hanya menagendakan pemilihan ketua IAI, munas kali ini juga memberikan penghargaan IAI Awards 2018 kesejumlah tokoh yang telah berkontribusi berarti ke dunia arsitektur. Penghargaan tersebut diberikan kepada tujuh pemenang IAI Awards 2018 dan satu pemenang kategori citation. Ketujuh pemenang tersebut Budiman Hendro Purnomo (Universitas Multimedia Nusantara – kategori pendidikan), Denny Gondojatmiko (Studio Air Putih@Batu Bata – kategori perkantoran), Ramadhoni Dwi P (Kantor Graha Putra Mandiri – kategori pelestarian), Popo Danes (Roemah Langko – kategori pelestarian), Prasetyoadi (Gran Rubina – ketegori perkantoran), Reza A Nurtjahja (Masjid Al-Irsyad – kategori ibadah), Ary Indrajanto (BPK Penabur – kategori pendidikan), dan satu pemenang penghargaan citation, Eko Prawoto (Padusam – Kategori landscape).

Mengapa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) karya Budiman Hendro Purnomo dapat meraih ajang bergengsi IAI Awards  2018 ini?

Seperti yang pernah ditulis terdahulu pada Konsep Hijau UMN (part 1) dan Konsep Hijau UMN (part 2), sebelum meraih penghargaan IAI Award 2018, UMN menyabet juara pertama Gedung Hemat Energi pada penghargaan Afisiensi Energi Nasional 2013 dan penghargaan Energy Efficient Building kategori Tropical Building pada ASEAN Energy Award 2014 di Vientiane, Laos.

UMN dibangun di lahan seluas delapan hektar dan untuk mewujudkan konsep hijau dan desain bangunan yang berkelanjutan, orientasi bangunan merupakan faktor penting dalam mengurangi panas matahari pada setiap ruangnya. Variabel desain surya termasuk hemispherical bangunan menjadi variabel penting saat membuat denah dan lantai bangunan. Karena itulah orientasi bangunan UMN mengarah ke Timur dan Barat, sementara wilayah kerja di dalamnya seperti ruang kelas menghadap ke Utara dan Selatan yang memiliki sedikit paparan sinar matahari.

Untuk fasadnya, UMN dibangun dengan sistem secondary skin yang menggunakan panel alumunium berlubang atau perforasi di sisi luar yang akhirnya mengurangi panas matahari dan beban pendinginan hingga 70 persen tanpa mengurangi cahaya yang masuk ke dalam. Dengan berkurangnya panas matahari yang masuk maka suhu di dalam fasad pun turun hingga tiga derajat. Posisi ruang yang berada 70 centimeter dari fasad pun mengalami penurunan suhu dua derajat atau sekitar 26 derajat celcius – Suhu ini membuat aktivitas di dalamnya terasa nyaman. Cahaya matahari yang masuk ke dalam secara maksimal membuat ruangan di dalamnya tak perlu menyalakan lampu saat siang hari. Karena bangunan telah dilapisi panel alumunium berlubang, kaca jendela tidak lagi berfungsi sebagai pengaman, cukup menggunakan kaca lima milimeter yang biasa digunakan untuk rumah tinggal.

Desain ventilasi alami dalam skala besar sebagai inti pusat bangunan yang berfungsi sebagai ‘cerobong asap’ akan menginduksi aliran udara dalam atau stack effect. Efek ini akan mengedarkan udara dari lantai dasart yang digunakan untuk parkir dan bengkel pelajar tanpa penggunaan listrik. Memaksimalkan cahaya sebanyak mungkin dengan penerapan skylight juga mengurangi konsumsi listrik keseluruhan bangunan.

Dengan semua kelebihan desain yang dimiliki UMN tak heran bila dapat meraih banyak penghargaan termasuk IAI Award 2018.

Artikel lengkap UMN (Universitas Multimedia Nusantara) dapat dicek di Konsep Hijau UMN (part 1) dan Konsep Hijau UMN (part 2).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.