Perempuan di Rimba Terakhir

forest cuisine blogger gathering

NININMENULIS.COM – Kamu masih ingat dengan artikel hutan sumber makanan yang pernah aku tulis berjudul Kecapit Kenikmatan Kepiting Hutan Bakau? Yess, berkat artikel tersebut aku mendapatkan anugerah yang patut disyukuri yakni bertemu dengan perempuan-perempuan hebat yang menginspirasi banyak orang, merekalah perempuan di rimba terakhir. Apa itu rimba terakhir? Apa itu WKR yang kerap diucapkan perempuan-perempuan ini? Semua terjawab saat aku diberi kesempatan oleh Blogger Perempuan Network (BPN) dan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), menjadi 30 besar finalis blog competition untuk menghadiri Forest Cuisine Blogger Gathering, pada Sabtu (29/2) lalu di Almond Zucchini Cooking Studio, Jakarta Selatan.

Ke-empat perempuan yang menjadi narasumber di Forest Cuisine Blogger Gathering adalah Khalisa Khalid (perwakilan dari eksekutif nasional WALHI), Sri Hartati (WALHI Champion dari Sumatera Barat), Tresna Usman Kamaruddin (WALHI Champion dari Sulawesi Tenggara), dan Windy Iwandi (Food Blogger dan Selebgram @fooddirectory).

walhi
Sri Hartati, Khalisa Khalid, Tresna Usman Kamaruddin, Windy Iwandi (ki-ka)

“Peran perempuan sangat penting dalam menjaga pangan keluarga dan itu erat kaitannya dengan fungsi hutan sebagai sumber makanan,” kata Khalisa Khalid yang akrab disapa Mbak Alin, perwakilan dari eksekutif nasional WALHI membuka sesi talkshow.

Sebagai sebuah organisasi lingkungan hidup indenpenden non profit di Indonesia, kehadiran WALHI untuk mengawasi pembangunan yang berjalan saat ini untuk menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan serta menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. WALHI bukan sekadar berkampanye di Indonesia, WALHI juga berkampanye secara internasional melalui Friends of the Earth Internasional yang telah menjaring sebanyak 71 anggota di 70 negara, 15 organisasi afiliasi, dan lebih dari 2 juta anggota individu dan pendukung di seluruh dunia.

Memiliki visi ‘Terwujudnya suatu tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang adil dan demokratis yang dapat menjamin hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan yang sehat’ WALHI pun terus berjuang hingga kini, termasuk memperjuangkan hak hidup masyarakat adat yang ada di sekitar hutan.

“Bagi masyarakat adat, hutan merupakan identitas tempat hidup dimana manusia, tumbuhan, dan hewan tinggal, Jadi kalau hutannya hilang, tidak ada lagi masyarakat adat. Di sana, hutan juga menjadi apotik, supermarket, dan dapur tidak hanya bagi masyarakat sekitar tetapi juga dapat dikonsumsi oleh orang yang tinggal di kota besar seperti kita,” tutur Mbak Alin.

Baca jugaDilema Lahan Gambut Antara Mitos dan Fakta

rimba terakhir
Salah satu hutan di Kalimantan

Hutan di sini yang dimaksud yaitu hutan yang kaya akan berbagai jenis tanaman dan hewan (multikultur). “Kalau jenis tumbuhannya seragam (monokultur) seperti akasia saja atau sawit saja itu bukan hutan tetapi kebun kayu. Seperti halnya kita yang beragam demikian juga dengan hutan. Jadi jangan sekadar hijau lalu disebut hutan,” tegas Mbak Alin. Hutan yang Mbak Alin bicarakan di sini pun memiliki banyak fungsi bagi keberlangsungan hidup, beberapa di antaranya:

1. Pertahanan iklim

Sebagai negara yang memiliki hutan terluas nomor tiga setelah Kongo dan Brazil, Indonesia turut berperan dalam menciptakan oksigen bagi keberlangsungan hidup masyarakat dunia. Keberadaan hutan dapat menyerap karbondioksida yang dapat mengakibatkan efek rumah kaca berupa pemanasan suhu bumi.

Hutan juga menyerap air hujan yang jatuh ke tahan, ketika air hujan turun tidak akan mengalir langsung melainkan tertahan akar-akar tanaman di hutan. Dengan demikian hutan menjadi sumber penting dari penyerapan air yang menghasilkan mata air dan sungai sebagai sumber air bagi manusia. Karena itu fungsi hutan sangat penting dalam mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim.

2. Sumber energi

Inisiatif yang dilakukan masyarakat adat untuk memaksimalkan fungsi hutan sudah banyak sekali, salah satunya menghadirkan hutan sebagai sumber energi melalui mikro hidro. “Seperti yang sudah dilakukan masyarakat Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat yang menggunakan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang bersumber dari Sungai Silit,” cerita Mbak Alin tentang salah satu dusun yang saat ini tengah mempertahankan rimba terakhirnya.

FYI mikro hidro adalah suatu pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air sebagai penggeraknya, seperti saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan memanfaatkan tingi terjunan dan jumlah debit air. Dibandingkan dengan pembangkit listrik jenis lain, PLTMH ini memiliki beberapa kelebihan seperti memiliki konstruksi yang sederhana, tidak menimbulkan pencemaran, dapat dipadukan dengan program lainnya seperti irigasi juga perikanan.

3. Sumber pendapatan ekonomi

Hutan memiliki peran penting bagi perekonomian penduduk sekitarnya. Hutan dapat menjadi tempat wisata yang menghasilkan pendapatan dari para turis, misalnya di Taman Nasional Tanjung Puting yang merupakan tempat konservasi orangutan. Produk hutan seperti rotan, meranti dan ulin juga dapat menghasilkan pendapatan besar bagi penduduk. Bukan hanya itu, dari sumber pangan atau hasil hutan non kayu pun dapat menjadi produk bermanfaat yang menghasilkan nilai ekonomi. “Saat ini produk non kayu yang menghasilkan nilai ekonomi dan dikelola komunitas perempuan harus mendapatkan dukungan dari pemerintah. Usaha yang dikelola komunitas jauh lebih baik dan adil,” imbuh Mbak Alin.

4. Sebagai apotek keluarga

“Banyak obat-obatan yang dihasilkan dari hutan. Karena infrastruktur kita tidak mencapai ke pelosok, kehadiran obat-obatan dari hutan sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Mereka lebih sehat-sehat karena tidak ada industri yang mencemari,” kata Mba alin. Misalnya di masyarakat suku Dayak, Kalimantan Barat dikenal dengan Tembawang. Tembawang merupakan suatu bentuk pengelolaan lahan dengan sistem wanatani asli penduduk adat setempat. Tembawang biasa dibentuk setelah perlandanngan berpindah di mana sebelum lahan itu ditinggal biasanya ditanamin pohon buah. Penghasil kayu, getah, ataupun rempah-rempah sebagai tanaman obat. Selain ditanam ada juga tembawang yang tumbuh alami di perkebunan, perkarangan, bahkan di bekas rumah panjang yang semula dihuni masyarakat adat.

5. Sumber pangan

Saat ini pemerintah tengah gencar mengampanyekan melawan stunting dikarenakan di awal 2018, Indonesia dibuat terkejut dengan tingginya persentase balita penderita stunting. Sebagai negara yang digadang-gadang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, saat ini masih dihadapkan dengan masalah pemenuhan pangan. “Di sini peran perempuan sebagai garda terdepan dalam melawan stunting dan menjaga pangan keluarga,” lanjut Mbak Alin. Namun gerakan memulihkan ketahanan pangan dengan memperluas lahan seperti yang tengah pemerintah galakkan tidak akan terpenuhi bila mengabaikan kehadiran hutan. Hutan dan produksi pangan harus berjalan beriringan karena tanaman dapat tumbuh sehat ketika berada di dekat hutan.

Paparan di atas baru lima dari sekian banyak fungsi dan manfaat hutan bagi manusia. Kehadiran hutan akan maksimal jika semua fungsi tersebut bekerja bersama-sama, namun bila hutan hanya memiliki satu fungsi yang menonjol, misalnya fungsi ekonomi saja, sudah dipastikan akan terjadi yang namanya bencana ekologis.

kebocoran pipa bahan bakar
Kebocoran pipa salah satu perusahaan minyak di Kalimantan

Bencana ekologis adalah bencana yang disebabkan oleh ketidakadilan dan gagalnya sistem pengurusan hutan yang berakibat munculnya beberapa dampak seperti perubahan iklim. kerusakan keanekaragaman hayati, peningkatan wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan, penurunan mutu sumber daya alam, peningkatan alih fungsi kawasan hutan, peningkatan jumlah penduduk miskin, dan juga peningkatan risiko terhadap kesehatan. Saat ini kita sudah dapat menyaksikan bagaimana bencana ekologis seperti banjir, tanah longsong, kebakaran hutan, dan kekeringan telah terjadi di hampir 90 persen wilayah Indonesia.

Selain topografi alami di suatu wilayah seperti penurunan permukaan tanah, potensi bencana ekologis di Indonesia turut disebabkan maraknya deforestasi, praktik pertambangan, dan monokultur seperti perkebunan sawit. Merujuk data riset WALHI 2007 yang memperkirakan potensi bencana ekologis di Indonesia sebesar 83 persen, namun angka tersebut melonjak pada penelitian lima tahun kemudian, pada 2012 di mana angka potensi bencana ekologis menjadi 90 persen. Apakah sebagai perempuan kita akan terus mendiamkan hal ini dan membiarkan bencana ekologis terus meluas dan menghacurkan kehidupan di Indonesia?

Sebagai perempuan kita harus bertindak dalam penyelamatan hutan, karena saat terjadi bencana ekologis seperti kebakaran hutan, kaum perempuan dan anak-anaklah yang paling terdampak. Menurut tim peneliti dari Harvard University dan Columbia University memperkirakan ada 100.300 kasus kematian dini yang dipicu oleh kebakaran hutan di Indonesia pada September-Oktober 2015, dan terbanyak menimpa anak-anak dan perempuan. Angka tersebut belum termasuk terganggunya pertumbuhan anak-anak secara fisik dan otaknya karena menghirup udara dan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi asap dari kabakaran hutan. Asap kebakaran yang terhisap oleh ibu hamil pun dapat menganggu kesehatan janin sebelum dan sesudah kelahiran.

Menyadari resiko bencana yang dapat menimpa, telah banyak perempuan dari masyarakat adat berjuang mempertahankan rimba terakhir yang mereka miliki. Jika saat ini kita masih merasakan kecukupan mendapatkan bahan pangan, itu semua berkat upaya mereka yang mendapatkan pengetahuan dari hutan dimana mereka tinggal. “Terkadang kita merasa (perempuan kota -red) sok tahu, padahal sumber pengetahuan itu terletak di perempuan-perempuan setempat. Hutan itu sekolahnya perempuan. Kalau pengetahuan hilang, kebudayaan akan hilang dan tidak ada lagi masyarakat adat,” tegas Mbak Alin yang bersama WALHI tidak pernah bosan mengampanyekan Rimba Terakhir. Pemilihan kata rimba dikarenakan kata ‘hutan’ sudah didominasi paradigma pemerintah mulai dari nama, istilah, fungsi, hingga peruntukannya. Salah satu cara yang ditempuh WALHI untuk menyelamatkan Rimba Terakhir dengan membentuk WKR atau Wilayah Kelolah Rakyat.

Baca jugaNgobrolin Hutan Sosial dan Lima Hutan Satu Cerita

Wilayah Kelolah Rakyat atau WKR adalah sebuah sistem kelola yang integratif dan partisipatif baik dalam proses tata kelola, produksi, distribusi, dan konsumsi yang mempertimbangkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan sebagai pendukung kehidupan. Menurut WALHI, Wilayah Kelolah Rakyat atau WKR memiliki empat pilar utama, tata kuasa, tata kelola, tata produksi, dan tata konsumsi. WKR ini akan mendorong masyarakat agar melakukan pengelolaan lahan pertanian dengan cara agroforestry yang selain berdampak kepada ekonomi, juga mampu mengembalikan fungsi kawasan hutan dari tingkat kekritisan dan memberikan perlawanan terhadap perubahan iklim serta bencana ekologis. “Saat ini masih banyak petani yang tidak memiliki lahan dan WKR mengusahakan hal itu juga, bukan hanya menghindarkan bencana ekologis,” ujar Mbak Alin.

Melalui WKR, saat ini telah banyak komunitas perempuan yang dibentuk untuk penguatan pangan guna melestarikan rimba terakhir yang ada. Ada dua hal yang menjadi target utama, pertama mengatur pola konsumsi masyarakat untuk memperkuat potensi komidinya, dan kedua mengatur distribusi produk masyarakat desa yang keluar untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat dan produsen. Mengenai hal ini, ada perempuan hebat, seorang WALHI Champion yang berbagi pengalamannya dalam mempertahankan Rimba Terakhir di daerahnya masing-masing. WALHI Champion merupakan gelar yang sematkan WALHI kepada sosok yang turut berjasa dalam melestarikan Rimba Terakhir.

wkr
Cengkeh, hasil hutan Kolaka, Sulawesi Tenggara (Foto: Dok. Kompas)

Tresna Usman Kamaruddin, WALHI Champion dari Sulawesi Tenggara. Siapa yang menyangka perempuan ayu yang aku jumpai di teras depan Almond Zucchini Cooking Studio adalah sosok ‘perkasa’ yang sedang memperjuangkan rimba terakhir-nya di Kabupaten Kolaga, Sulawesi Tenggara. Ibu Tresna, begitu kami memanggilnya. Tinggal di Depok, Jawa Barat tidak membuat perempuan ini lupa akan tanahnya berasal, di rimba Sulawesi Tenggara. “Saya terlahir memiliki seorang kakek seorang petani, dan saya juga mencintai alam,” kata Ibu Tresna saat bercerita apa yang mendorongnya untuk turut dalam melestarikan Rimba Terakhir.

Sudah empat tahun lamanya, Ibu Tresna berjuang kepada pemerintah untuk memberikan ijin kepada komunitas-komunitas yang tinggal di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara untuk dapat mengelola hutannya sendiri. Dan saat ini sudah dalam tahap pengukuran untuk permintaan ijin. Mengapa Ibu Tresna mau bersusah payah melakukan hal tersebut? “Karena saya melihat hutan banyak manfaatnya, tetapi sayangnya banyak dari mereka yang tidak memiliki lahan. Sekarang kita berjuang bagaimana memanfaatkan lahan agar hutan kita tetap lestari,” lanjut Ibu Tresna penuh keyakinan yang sebelum bersama-sama dengan WALHI sudah memanfaatkan lahan dengan menanaminya dengan cengkeh, jahe, dan tanaman tumpangsari lainnya.

Melalui gerakan kearifan lokal, Ibu Tresna menginisiasi gerakan menanam pohon, salah satunya pohon sagu. “Sagu merupakan bahan pangan yang dapat diolah berbagai jenis makanan, seperti papeda dan cako-cako kudapan masa kecil saya yang saat ini sudah hilang,” tambah Ibu Tresna. Di Kabupaten Kolaga, Sulawesi Tenggara, Ibu Tresna pun membawahi para perempuan di sana untuk mengelola sampah plastik dari minuman teh gelas agar dapat memiliki nilai jual.

Namun kendala tidak berhenti ke masalah perijinan, masalah akses dan adanya kebijakan-kebijakan yang menghambat masih ‘memperlambat’ langkahnya berjalan. “Tetapi semangat saya tidak akan pernah padam untuk mengupayakan itu semua!” tegas perempuan yang sejak 2012 divonis kanker dan merasakan sendiri bagaimana hutan membuatnya bertahan hingga kini.

Sri Hartati, WALHI Champion dari Sumatera Barat. Sosok Sri Hartati atau Ibu Tati langsung mencuri perhatian aku dan ke-30 blogger yang hadir. Pakaian adat Minangkabau yang dikenakan langsung mencirikan darimana ia berasal. Dan Ibu Tati pulalah yang membuat air mata kami turut menetes haru saat ia menceritakan bagaimana upayanya bersama WALHI mempertahankan rimba terakhir yang dimiliki. Sebagai seorang ‘bunda kandung’ Ibu Tati mengetuai kelompok tani Bayang Bungo Indah yang memproduksi sirup pala di Nagari Kapujan Koto Berapak Pessel, Sematera Barat. “Selama ini kita membuang daging buah pala dan hanya menjual bijinya, lalu kita berinisiatif bagaimana mengolahnya menjadi sirup, selai, dan minuman segar,” kata Ibu Tati.

forest cuisine
Olahan dari buah pala dari WKR Sumatera Barat (foto: Dok Villagerspost)

Usaha pembuatan sirup buah pala ini pada awalnya merupakan program Pengelolaan Hutan Untuk Kesejahtaraan Perempuan (PHUKP) dari WALHI Sumatera Barat. Produksi unggulan dari Nagari ini cukup mendapatkan respon positif dari pemerintahan setempat, ini diperlihatkan dengan penghargaan yang didapat sebagai produk unggulan hasil hutan yang memiliki nilai ekonomis. Saat ini kelompok tani Bayang Bungo Indah memiliki 103 anggota, “untuk modalnya kita patungan 100 ribu perorang dan iuran perbulan 12 ribu sebagai modal. Dari situlah kita dapat memproduksi sirup buah pala,” ujar Ibu Tati.

Usaha produksi sirup buah pala ini juga disukai banyak orang di luar Sumatera Barat karena memiliki cita rasa yang khas, enak, dan berkhasiat untuk kesehatan tanpa mengunakan bahan pengawet. “Karena tidak menggunakan pengawet dan permintaan dari luar sudah banyak, saat ini kita tinggal memproduksi sirup buah pala saja. Untuk selai dan minuman segar tidak dapat diproduksi mengingat usia produk yang tidak bertahan lama,” kata Ibu Tati saat menjelaskan bahwa untuk minuman segar hanya kuat seminggu dan sebulan untuk selai buah pala. Usaha Ibu Tati ini juga sudah mendapat dukungan dari hotel setempat yang menjadikan sirup buah pala produksinya menjadi welcome drink.

Menurut aku, Ibu Tresna dan Ibu Tati menjadi orang yang beruntung masih memiliki hutan yang dapat mereka lindungi dan lestarikan, lalu bagaimana dengan aku? Aku dan para perempuan kota lainnya terbiasa hidup di tengah tembok beton perkotaan, bahkan hanya sedikit dari perempuan kota yang tahu bagaimana rupa hutan itu. Windy Iwandi, seorang food blogger dan selebgram termasuk dalam perempuan kota yang masih dapat ‘mencicipi’ bagaimana hutan itu. “Jika diajak ke mall, aku akan lebih memilih ke hutan. Di hutan, udaranya jauh lebih segar dan sehat,” kata Windy yang pernah mengunjungi hutan Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Namun tidak semua perempuan kota seberuntung Windy. Pekerjaan dan kesibukkan terkadang membuat mereka lupa jika kita masih memiliki hutan yang harus dijaga keberadaannya. Alih-alih menghadirkan hutan di kota besar, hutan kota yang ada pun seakan tidak mewakili sosok dan fungsi dari hutan itu sendiri.

hutan sumber makanan
Alhamdulillah, sebagai perempuan kota, aku pernah masuk hutan

Lalu apa yang harus aku dan perempuan kota lainnya lakukan untuk turut melestarikan Rimba Terakhir? Mbak Alin pun memberikan sarannya.

  • Bijak dengan apa yang kita konsumsi

    Konsumen is the king! Dan kitalah para konsumen itu. Apa yang kita beli dan gunakan sudah tentu berdampak pada kelestarian hutan. “Sebagai konsumen kita harus cerdas dalam memilih barang-barang apa yang kita butuhkan, terutama untuk barang-barang berbahan baku kelapa sawit seperti minyak sawit dan kosmetik,” tutur Mbak Alin. Sebagai perempuan, kita harus tahu bagaimana memilah antara kebutuhan dan keinginan. Sebaiknya tahan keinginan dan hindari penimbunan barang yang tidak digunakan, selain mubazir, ada hutan yang mulai terkikis untuk memenuhi semua keinginan kita.

  • Kurangi pemakaian kertas dan plastik

    Selain itu mulai sekarang tanamkan dalam diri sendiri untuk mulai mengurangi pemakaian kertas dan plastik. Selain menghasilkan banyak sampah, untuk memproduksi kertas dibutuhkan banyak pohon yang harus ditebang. Jangan jadikan zero waste hanya sekadar tren lalu dilupakan. Jadikan itu suatu kebiasaan positif yang harus dilakukan setiap hari.

  • Mengkonsumsi apa yang petani hasilkan

    Mulai sekarang cobalah mengkonsumsi apa yang petani hasilkan termasuk dengan produk pengganti yang diproduksi komunitas. “Bila kita mengkonsumsi langsung dari komunitas, akan banyak komunitas yang terbantu dan hutan pun tetap lestari,” ujar Mbak Alin. Selain lebih sehat, barang-barang yang dihasilkan dari petani dan komunitas sudah tentu lebih segar, tidak menyebabkan iritasi, dan tidak merusak lingkungan.

  • Tanam dan pelihara pohon

    Mungkin gerakan ini semakin sulit dilakukan di kota besar karena keterbatasan lahan, namun tetap lakukan, sekecil apapun tanaman yang tumbuh jika dilakukan dengan terus-menerus tetap akan memberikan dampak yang positif. Apalagi sebagai perempuan yang bertanggungjawab akan kualitas pangan keluarga, menanam jenis tanaman pangan tentu memberikan banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari.

  • Bergabung dengan komunitas pelestarian hutan

    Bergabung dengan komunitas pelestarian hutan seperti WALHI dan komunitas lain yang searah akan memberikan banyak manfaat. Selain mendapatkan ilmu tentu akan ada aksi nyata dari setiap komunitas untuk mewujudkan pelestarian hutan yang berkelanjutan. Hal terkecil dan mudah dilakukan sebagai perempuan yang aktif bersosial media dengan membagikan informasi dan konten yang berguna untuk menjaga kelestarian hutan.

Tidak terasa satu jam berlalu talkshow yang dipandu oleh Fransiska Soraya di Forest Cuisine Blogger Gathering ini. Ada rasa bangga sebagai bagian dari penduduk Indonesia dianugerahi hutan yang kaya manfaat, namun di sisi lain ada kesedihan mengingat hutan-hutan tersebut mulai terkikis kelestariannya dikarenakan ketidaktahuan kita dalam memilah antara kebutuhan dan keinginan. Alhamdulilah, ada WALHI dan perempuan-perempuan hebat ini yang mengingatkan bahwa masih ada Rimba Terakhir yang harus kita jaga kelestariannya.

Baca jugaNikmatnya Makan Buah Lai Mahakam

Eits, tetapi acara belum selesai karena masih ada sesi demo masak bersama Chef William Gozali. Dan untuk menu yang kali ini dibuat menggunakan salah satu bahan pangan yang berasal dari hutan sumber makanan yakni jamur.

demo masak
Demo masak bersama Chef William Gozali

Keberadaan jamur di hutan mungkin tidak sepopuler pohon-pohon berkayu, tetapi jamur merupakan satu di antara berbagai jenis organisme yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Bersama dengan bakteri dan mikroorganisme lainnya, jamur berperan sebagai dekomposer atau pengurai bahan organik untuk mempercepat siklus materi dalam ekosistem hutan. Dengan demikian, jamur ikut membantu menyuburkan tanah melalui penyediaan nutrisi bagi tumbuhan, sehingga hutan tumbuh dengan subur.

Diperkirakan terdapat 1,5 juta spesies jamur di dunia dan sejumlah 200 ribu spesies jamur ditemukan di Indonesia. Selain itu, masih banyak spesies jamur yang belum diketahui manfaatnya hingga saat ini, sehingga pemanfaatan langsung sebagai sumber makanan ataupun bahan obat belum maksimal dilakukan. Dan untuk demo masak kali ini menggunakan dua jenis jamur, jamur kancing dan shitake.

Menu yang dibuat bernama Fettuccine Mushroom Ragout. Menunya boleh Western, tetapi semua bahan yang digunakan hasil dari hutan Indonesia. Nggak percaya? Cek saja bahan-bahannya ya!

Sebungkus fettuccine
1-2 batang daun bawang
Sehelai kucai
2 siung bawang putih
2 jamur shitake
5 jamur kancing
1 cup crème
Butter
Sedikit minyak untuk menumis
Keju permesan
Penyedap Rasa

Cara membuatnya:

  • Potong halus daun bawang dan kucai. Sisihkan.

  • Potong kecil semua jamur. Sisihkan.

  • Geprek bawang putih lalu cincang halus. Sisihkan.

  • Didihkan air untuk merebus pasta nya.

  • Panaskan minyak lalu tumis daun bawang dan kucai hingga coklat seperti bawang goreng.

  • Di wajan lain masukan butter lalu tumis semua jamur hingga benar-benar coklat, lalu masukan bawang putih cincang. Terakhir masukan tumisan daun bawang dan kucai. Beri sedikit air rebusan pasta biar tidak terlalu kering. Aduk.

  • Masukan creme, aduk. Beri perasa (garam+lada+vetsin) bila dibutuhkan.

  • Setelah mengental masukan pastanya. Angkat dan beri taburan permesan di atasnya.

Dan taraaaa… Fettuccine Mushroom Ragout siap disajikan. Rasanya? Uuhhmm mamamiaaa…

forest cuisine blogger gathering
Ninin, Chef la Cuisine Forestière

Tidak hanya enak, menu Fettuccine Mushroom Ragout ini mudah dibuat dan tidak membutuhkan waktu yang lama, kurang dari 30 menit Fettuccine Mushroom Ragout sudah siap tersaji. Saking mudah dan enaknya sajian ini, kelompok 4 yang notabene kelompok aku menang loh di demo masak bersama Chef William Gozali ini. Mungkin sepulang dari Forest Cuisine Blogger Gathering, aku menggangkat diriku sendiri menjadi Chef la Cuisine Forestière. Kerenkan.

Advertisements

Author: Ninin Rahayu Sari

Architecture Graduate | Content Creator | Former Journalist at Home Living Magazine & Tabloid Bintang Home | Google Local Guide | Yoga Enthusiast

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.